Islam Agama Saya, Kemanusiaan Mazhab Saya

,

Kita perlu ingat bahwa menjadi manusia dan menghormati kemanusiaan adalah hal yang terpenting, tulis Alayna Ahmad.

Persatuan umat manusia.
Persatuan umat manusia.

Kita sering lupa arti kemanusiaan – kebaikan dan kasih sayang yang dituntut dari kita oleh setiap agama di dunia dan prinsip moral dasar kehidupan. Al-Quran menuntut umat Islam untuk menghormati sesama manusia terlepas dari keyakinan mereka, karena masing-masing nyawa kita ditempatkan ke dalam rahim ibu kita atas perintah Ilahi, apa pun agamanya. Ilahi yang sama menciptakan kita menjadi suku-suku dan masyarakat sehingga kita dapat mengenal satu sama lain (49:13).

Selain itu, Al-Quran menuntut kita menghormati setiap kehidupan, termasuk hewan, vegetasi dan keteraturan ekologis. Jika ini adalah nilai-nilai inti Islam kita, lalu mengapa kekerasan sektarian begitu marak di negara-negara Islam? Mengapa kita berkelahi satu sama lain atas nama Tuhan ketika setiap hari kita gagal melawan iblis dalam diri kita?

Pekan lalu di Lahore, Pakistan, seorang ulama Syiah bernama Allama Nasir Abbas (42 tahun), tewas ditembak segera setelah meninggalkan suatu acara. Dia dalam perjalanan pulang ke istrinya, enam anak perempuan dan seorang anak laki-laki ketika ia secara brutal ditembak mati oleh orang bersenjata tak dikenal bersepeda motor. [i] Sementara itu, seorang dokter Ahmadiyah Inggris berusia 72 tahun dipenjara karena “berpura-pura sebagai seorang Muslim.” [ii]

Beberapa ulama Pakistan di negara itu mendorong kekerasan dan bahkan pembunuhan terhadap kelompok Ahmadiyah, menjanjikan surga kepada yang membunuh non-muslim. Sejak 1984, pemerintah Pakistan telah menyatakan Ahmadiyah sebagai non-muslim; sayangnya, tirani terhadap komunitas ini terus berlanjut. Di sisi lain dunia, Bangui di Republik Afrika Tengah adalah rumah bagi kekerasan yang sedang berlangsung antara umat Kristen dan Islam, menyebabkan ratusan orang tewas dan ribuan orang mengungsi dari rumah mereka. [iii]

Insiden-insiden ini bukanlah kejadian tersendiri dan saya yakin mereka bukan yang terakhir.

Saya tidak percaya sedetik pun bahwa Allah memerintahkan pembunuhan orang tak berdosa, terutama atas nama agama. Jika seseorang memberitahu saya bahwa ia muslim, hal pertama yang saya akan katakan kepadanya adalah “Salam”, bukannya menanyai mereka mengenai mazhab mereka. Mazhab mereka tidak dan seharusnya tidak menjadi masalah sama sekali.

Al-Quran menekankan kesucian hidup dan keadilan bagi semua orang: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil, dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.  Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada kebenaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahateliti dengan apa yang kamu kerjakan.” (5:8).

Ini adalah tentang berpihak tidak pada aliran tertentu – entah itu Sunni, Syiah, atau Ahmadiyah – melainkan pada kemanusiaan dan memperlakukan orang dengan hormat terlepas dari filosofi mereka. Bila saya bertemu non-muslim, saya selalu menyapa mereka dengan ucapan yang baik dan kesopanan.

Saya merasa kita kadang-kadang begitu cepat untuk memberitahu seseorang betapa salahnya mereka atau bagaimana mereka salah mempraktikkan Islam. Pernahkah kita berhenti sejenak untuk memperbaiki diri kita sendiri? Saya percaya hanya ketika saya mencapai tahap kesempurnaan dalam agama saya, barulah saya boleh mempertanyakan kewajiban Islam mereka. Karena bahkan seumur hidup pun tidak cukup untuk memperoleh kesempurnaan seperti itu, maka saya tidak punya hak untuk mempertanyakan orang lain.

Saya datang ke dunia ini sendirian dan saya juga akan meninggalkannya sendirian, tanpa jiwa lain untuk menemani saya dalam kubur. Oleh karena itu, saya harus menyibukkan diri dengan memperoleh pengetahuan dan melakukan banyak perbuatan baik sebisa mungkin sebelum hari terakhir saya habis. Mengapa saya membuang-buang waktu menganiaya orang lain? Biarkan Hakim teragung yang menghakimi orang lain, sementara Anda dan saya menilai diri kita sendiri dan tindakan kita.

Ambillah langkah mundur dan tanyalah pada diri sendiri pertanyaan ini: adakah nabi yang mencari solusi melalui kekerasan? Bahkan ketika Nabi Muhammad (saw) diejek dan dihina di Mekah oleh suku Quraisy, beliau tidak mencari pembalasan. Beliau tetap rendah hati, penuh kasih, dan di atas segalanya, pemaaf, seperti yang disebutkan dalam ayat berikut: “Jadilah pemaaf dan perintahkanlah orang mengerjakan yang baik, serta berpalinglah dari orang bodoh (7:199).”

Mari kita kaji kembali kisah dan perjuangan seumur hidup beliau, bersama dengan kisah-kisah nabi tercinta kita yang lain. Kita harus meniru kerendahan hati dan kemanusiaan mereka dan berusaha untuk memperbaiki diri, bukannya mengejek atau menganiaya orang lain untuk kesalahan yang kita anggap mereka lakukan.
________________________________________
[i] ‘Lahore: Allama Nasir Abbas tewas, protes di luar Governor House’, The News, 16 Desember 2013 , tersedia di sini
[ii] ‘Dokter Inggris, 72, dipukuli oleh pasiennya dan dipenjara di Pakistan karena ‘menyamar sebagai muslim setelah mereka memfilmkan dia membaca Al-Quran,’ Daily Mail, 18 Desember 2013, tersedia di sini
[iii] Patrick Fort dan Stephanie Jourdain, ‘Presiden Afrika Tengah tawarkan perundingan seiring meningkatnya kekerasan sektarian’, AFP, 15 Desember 2013 , tersedia di sini.

Leave a Reply
Aquila Klasik