Modest Style

Indonesia Fashion Week 2014: Di Balik Panggung Peraga

,

Beragam pilihan pakaian tersedia di ajang Indonesia Fashion Week 2014. Namun yang menggembirakan bagi Amal Awad adalah dapat menyaksikan sebuah industri yang sedang berkembang dan bekerja keras untuk menghidupkan suatu perekonomian.

[Not a valid template]

Saat saya mengunggah foto seorang model di panggung Indonesia Fashion Week (IFW) 2014 beserta komentar tentang awal ketertarikan saya akan pekan mode, seorang teman dengan cepat menyatakan ketidaksetujuannya, “Tidak. Tidak akan pernah,” tulisnya.

Saya tidak menyadari bahwa saya akan begitu peduli pada persetujuan orang lain, meski saya dulu memang memikirkan tentang kepalsuan acara semacam itu. Hanya saja, tidak pernah terpikir oleh saya untuk ambil pusing tentang pekan mode. Sementara kebanyakan dari kita menganggap cara berpakaian adalah bentuk ekspresi diri, pekan mode hanyalah tentang peragaan adibusana yang tak akan dikenakan oleh siapapun.

Saya mengakui bahwa fesyen tidak pernah menjadi kelebihan saya – dalam kehidupan nyata maupun sebagai jurnalis. Pengalaman saya sejauh ini terbatas pada diskusi tentang bagaimana perempuan Muslim berpakaian dan apakah “fesyen Muslim” merupakan hal yang masuk akal.

Sehubungan dengan hal tersebut, saya merasa lebih dari siap untuk menghadiri IFW di Jakarta pekan lalu. IFW ternyata merupakan acara yang begitu hidup, tempat meleburnya berbagai jenis fesyen yang kebanyakan mengusung jilbab dan pakaian santun. Saya mengetahui adanya kebangkitan “fesyen Muslim” di Australia di mana desainer lokal berkreasi dan menjual lini fesyen pakaian konservatif di toko-toko mereka. Namun IFW adalah hal yang sama sekali berbeda.

Tidak aneh sebuah negara Muslim memasarkan produk untuk pengguna pakaian konservatif, namun ada lebih banyak yang dapat diambil dari keragaman yang dipamerkan. Desainer pakaian Muslim harus mencatat – dan menyadari – bahwa tidak lama lagi fesyen Islami akan benar-benar menjadi kategori mode yang menghasilkan pemasukan.

Meski begitu, untuk saat ini jenis fesyen yang satu ini tampak belum menemukan pijakan yang sempurna. Ibu Dina, orang di balik penyelenggaraan IFW, menyampaikan pada saya bahwa tantangannya terdapat dalam menemukan keseimbangan antara menciptakan fesyen seru yang ekspresif sambil tetap mempertahankan kesantunan. Saya melihat berbagai pakaian yang indah namun sama sekali tidak tradisional, yang dapat saya terima, namun akan membutuhkan waktu sebelum dapat diterima oleh orang lain. Mengingat adanya suara protes dari beberapa kaum Muslim saat Powerhouse Museum Sydney mengadakan pameran bertajuk “Faith, Fashion, Fusion” (yang kemudian berlanjut di Melbourne), menurut saya fesyen Muslim masih akan menjadi topik perdebatan.

Tapi IFW juga mempertunjukkan desainer internasional dan lokal yang tidak hanya berfokus pada pakaian santun. Terdapat fesyen tingkat tinggi, yang memamerkan jenis pakaian aneh yang hanya akan Anda lihat di foto-foto atau The Hunger Games, dan tidak di kehidupan nyata. Panggung peragaan mempertontonkan campuran hijab adibusana dan sentuhan Eropa, dengan menampilkan desainer dari seluruh dunia. Ada pula tiga aula pertemuan yang dipenuhi oleh pajangan dan stan yang kebanyakan memasarkan sarung dan batik khas Indonesia.

Motif budaya dikombinasikan dengan barang-barang kontemporer – bahan batik bertebaran di berbagai aksesoris, dan bukan hanya atasan. Juga tampak gaun bergaya sangat Indonesia, dengan tampilan penuh warna dan taburan payet.

Meski fesyen santun adalah daya tarik utama di pergelaran ini, dan pengaruh Asia juga terasa jelas, IFW bukanlah perayaan yang terbatas pada hijab, gaun panjang, dan batik. Ada berbagai kreasi menakjubkan, termasuk barang-barang hasil tenun tangan. Menunjukkan kesadaran sosial, Toraja Melo, misalnya, adalah salah satu pelanggan utama kain dan barang tenun Sa’dan Toraja. Kain dan barang tersebut dipergunakan untuk membuat tas, koper, dan sepatu, sekaligus membentuk mata pencaharian penenunnya. Bekerja sama dengan BNI, salah satu bank terbesar Indonesia, Toraja Melo telah memulai program pengembangan masyarakat yang berfokus pada kredit mikro untuk membantu para penenun membangun usaha sendiri.

Tujuan Indonesia Fashion Week memang pada akhirnya adalah business-to-business. Namun untuk saat ini, IFW bukan murni acara industri. Hal ini menjadikan fesyen yang ditampilkan dapat diakses banyak orang. Karena dibuat terbuka untuk umum, desainer dan penjual dapat mempertunjukkan kreasi mereka kepada pelanggan baru. Banyaknya stan – yang juga disubsidi oleh pemerintah – menunjukkan bahwa IFW memang bermaksud membuat fesyen lebih mudah diakses. Beragamnya harga yang tertera membuat pengunjung dapat berbelanja di acara ini.

Tidak diragukan lagi Anda akan meninggalkan pekan mode sambil memikirkan banyak hal – terutama tentang apakah ada orang yang benar-benar membeli baju-baju yang dipamerkan secara dramatis di atas panggung peraga. IFW juga hampir sama, namun di luar itu, saya ditaklukkan oleh acara tersebut. Meski saya tidak tahu bagaimana dengan beberapa pekan mode lain, saya meninggalkan IFW dengan membawa rasa penghargaan baru untuk sebuah industri yang tidak begitu saya percayai sebelumnya.

Jika industri fesyen mau menyesuaikan diri dengan sebuah dunia berekonomi sulit, dan populasi global yang jauh lebih sadar lingkungan dan keadaan sosial, maka industri ini akan dapat berkembang dari segi relevansi dan aksesibilitas.

Namun sesudah menghadiri dua peragaan busana, dan merasakan energi dari sebuah acara yang mempekerjakan ribuan orang, melihat ketepatan dan keindahan dari pakaian yang aneh juga mengagumkan, saya harus mengakui bahwa, dalam banyak hal, acara semacam ini adalah perayaan kreativitas. Dan meski dunia mode akan selalu memiliki kritikus tersendiri, saya dapat melihat arti keberadaan industri ini, terutama di negara seperti Indonesia, di mana penenun dan desainer bekerja keras untuk menciptakan industri dengan perkembangan pesat yang akan diperhatikan oleh seluruh dunia.

Leave a Reply
<Modest Style