10 hal yang dialami ibu Muslimah

,

Menjadi orangtua sudah cukup berat, tetapi menjadi orangtua Muslim memiliki kerumitan tersendiri. Angkat tangan jika Anda merasa senasib! Oleh Sya Taha.

muslim mother kissing her baby boy
Ciri-cirinya tepat. (Gambar: Fotolia)

1. Anda memiliki buku daftar nama bayi bebas masalah.

Qur’an memiliki sekitar 30 nama untuk bayi lelaki, yang cocok bagi orangtua maupun mertua manapun dari agama-agama Ibrahim. Namun hanya ada satu nama yang tersedia untuk bayi perempuan, jadi Anda mungkin bisa mencari tahu dari buku sejarah Islam untuk ide tambahan.

2. Ahli kesehatan Anda bertanya-tanya mengapa Anda berbisik ke telinga bayi yang baru lahir.

Itu namanya adzan, dan jika Anda cukup beruntung, Anda bisa menggendong bayi Anda segera setelah kelahiran, dan menjadikan suara Anda hal pertama yang didengarnya.

3. Anda mengucap “Alhamdulillah” mungkin hingga 50 kali sehari.

Jika ini terucap secara refleks setiap kali seseorang bersendawa, buang angin, atau bersin, maka Anda akan melakukan lebih banyak lagi kata ini saat berada di sekitar bayi atau anak-anak.

4. Anda diharapkan meletakkan sesuatu yang manis di mulut bayi, membotaki mereka, dan mengurbankan hewan.

Salah satu tradisi yang disebut tahnik melibatkan peletakan kurma atau madu di bibir bayi dalam tujuh hari pertama hidup mereka. Tradisi lain melibatkan pembotakan kepala bayi (atau alternatifnya: memotong tujuh lembar rambut) setelah 40 hari, menimbangnya, dan memberi emas dengan jumlah yang sama ke badan amal. Dan lainnya yang disebut aqiqah mengharuskan kurban kambing atau sapi untuk memperlihatkan rasa syukur atas kelahiran.

5. Boneka babi jadi topik diskusi.

Bayangkan: rekan kerja non-Muslim berniat baik memberikan boneka babi berbulu yang lucu sebagai hadiah. Dan Anda berdiskusi (dengan diri Anda atau orang lain) mempertimbangkan apakah tidak masalah anak bermain dengan boneka tersebut. Jika Anda memutuskan tidak masalah, Anda mungkin masih harus berurusan dengan Muslim lain yang mengatakan bahwa tidak seharusnya anak Anda memasukkan boneka tersebut ke dalam mulut.

6. Diskusi tentang apakah tidak masalah jika anak melihat Anda dalam kondisi telanjang harus melibatkan tinjauan fiqih dan tidak hanya berkisar pada citra tubuh dan harga diri.

Seorang ibu menuliskan di internet bahwa ia membiarkan putra-putranya melihat tubuh selepas melahirkannya agar mereka tumbuh besar dengan citra realistis tentang tubuh wanita, dan bukannya berpikir bahwa foto-foto airbrush di majalah adalah wanita sungguhan. Saya kira seseorang yang telah melihat bagian dalam tubuh Anda mungkin bisa melihat bagian luar Anda tanpa bersikap terlalu terkejut. Lagipula, diskusi tentang bagian tubuh mana dari sang ibu yang tidak boleh dilihat oleh putranya terasa terlalu oedipal menurut saya.

7. “Begitu sunnahnya” jadi jawaban andalan Anda untuk menyusui lebih lama.

Meski minimal dua tahun ASI disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, banyak orang dari generasi orangtua kita yang terpengaruh oleh pemasaran agresif perusahaan susu formula dan berusaha menghentikan kita memberi ASI lebih dari enam bulan, atau hingga beberapa tahun. Untungnya, jika Anda Muslim, Anda bisa bilang bahwa Qur’an menyarankan 30 bulan kehamilan dan ASI (46:15).

8. Anda harus berhadapan dengan sejumlah orang yang mengatakan bahwa Anda boleh atau tidak boleh berpuasa saat menyusui.

Pendapat yang berbeda bermunculan tentang boleh tidaknya seorang ibu hamil dan/atau menyusui saat berpuasa Ramadan. Untungnya, keputusan untuk berpuasa atau tidak adalah keputusan milik Anda dan bayi. Dengarkan kebutuhan tubuh Anda.

9. Anda khawatir anak diberi makan roti isi daging babi di penitipan anak.

Jika Anda tinggal di tempat atau negara yang tidak memiliki jumlah Muslim yang dominan, roti isi daging babi dan keju adalah cemilan yang umum. Beritahu perawat atau guru anak Anda apa saja yang boleh dimakan oleh anak – atau bawakan sekalian saat Anda mengantarnya.

10. Anda merasakan harap-harap cemas soal Islamofobia.

Menjadi orangtua bisa jadi pengalaman yang paling menyenangkan dan paling menakutkan dalam hidup. Dari saat anak Anda lahir, ketakutan terbesar Anda adalah kehilangan mereka. Meski menjadi Muslim pasca 9/11 tidak mudah, Anda berharap anak Anda akan jadi sosok yang mengubah dunia menjadi lebih baik.

Leave a Reply
Aquila Klasik