Modest Style

Ibu Bekerja atau Ibu Rumah Tangga, Semua Setara

,

Membuat pilihan untuk tinggal di rumah bersama anak-anak atau bekerja adalah keputusan yang sulit, namun hal ini merupakan pilihan pribadi yang tidak seharusnya dihakimi oleh orang lain, kata Mariam Sobh.

Gambar: Dreamstime
Gambar: Dreamstime

Saya dulu selalu berpikir bahwa saya tidak akan bekerja setelah memiliki anak. Setidaknya saya pikir saya akan berhenti sementara dan menunggu sampai mereka sekolah sebelum kembali bekerja.

Bukan itu yang terjadi. Dan saya sering terdiam sambil bertanya-tanya apakah saya telah membuat pilihan yang tepat. Keputusan untuk tinggal di rumah atau bekerja bisa menjadi masalah yang sulit dan sensitif bagi beberapa ibu. Saya pernah mengalami keduanya.

Setelah melahirkan anak pertama, saya dapat mengakali jadwal kerja sehingga tidak perlu meninggalkan anak di penitipan dan saya dapat meluangkan waktu dengannya di rumah. Cara ini melelahkan. Saya pergi kerja pagi-pagi sekali, sebelum matahari muncul, dan saat saya pulang, maka giliran suami saya pergi bekerja.

Menjelang dua tahun, saya mulai merasa bahwa saya terlalu memaksakan diri. Saya mulai merasa kelelahan setiap saat. Saya bahkan hampir tidak mampu bangun dari tempat tidur. Sesi menyusui putri saya pun tidak membantu meringankan masalah ini. Saya tahu sudah saatnya saya berhenti menyusuinya karena saat itu sudah mendekati jangka dua tahun, dan memang itulah rencana saya saat kami semua pergi berlibur di musim dingin.

Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di Florida yang cerah dan merasa tenaga saya kembali, kami kembali ke Chicago yang dingin dan bersalju. Ada sesuatu tentang dinginnya Chicago yang membuat saya kembali merasa kelelahan. Atau paling tidak, itulah saya pikir.

Hal ini berakhir dengan surat pengunduran diri saya ke stasiun radio tempat saya bekerja. Atasan dan manajer stasiun merasa terkejut dan menyangka bahwa saya tidak memikirkan segala hal baik-baik.

Sulit bagi saya meninggalkan pekerjaan tersebut, namun saya tahu sudah saatnya saya melakukannya. Saya butuh tidur!

Yang tidak saya ketahui adalah bahwa saya sedang hamil putri kedua saya. Mengetahui hal tersebut, saya jadi menyadari alasan rasa kelelahan saya.

Saya pikir sudah diputuskan bahwa saya akan tinggal di rumah secara penuh dengan kedua putri saya sampai mereka masuk sekolah. Namun hal tersebut tidak terjadi. Sejak saat itu saya telah bekerja di dua tempat berbeda, dan di satu di antaranya sebagai pekerja purna waktu.

Saya tidak bermaksud melantur dan menceritakan detil kehidupan pribadi saya, namun hal yang saya sadari adalah bahwa kita tidak akan pernah dapat merencanakan maupun mengantisipasi apapun.

Saya telah dengan yakin berpikir bahwa saya akan tinggal di rumah dan membesarkan kedua putri saya, namun pada kenyataannya, saya sangat suka bekerja. Ada yang terasa memuaskan saat saya mempergunakan kemampuan saya. Saya juga sangat suka berada di rumah bersama anak-anak dan akan lebih menyukai melakukan hal tersebut dibanding apapun. Namun untuk dapat mengembangkan karir, sangat sulit mendapatkan keduanya sekaligus.

Saat kedua putri saya masih kecil, saya sempat tinggal di rumah untuk beberapa waktu, dan saya selalu merasa gelisah. Sangat sulit merawat anak kecil tanpa bantuan keluarga karena mereka tinggal sangat jauh. Saya sendirian sampai saat suami pulang bekerja. Semua teman saya saat itu sedang bekerja, jadi saya agak kesepian. Saya bertemu dengan beberapa ibu di kota saya, namun tidak satupun memiliki anak seumuran anak-anak saya.

Meski begitu, adanya situs pribadi yang saya kelola saat itu merupakan sarana penyaluran yang baik.

Dalam masa-masa ini, saya akan sangat terganggu dengan tanggapan-tanggapan yang saya dapatkan dari orang lain saat mereka bertanya apa yang saya lakukan. Jika saya menyebutkan bahwa saya mengelola sebuah situs, tanggapan umum yang muncul adalah, “Oh, Anda ibu rumah tangga.” Pernyataan seperti itu menyebalkan untuk saya karena bukan itu saja yang saya lakukan. Pernyataan seperti di atas sangat merendahkan apalagi saat seseorang mengucapkannya dan kemudian berlalu begitu saja.

Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang ingin merendahkan peran seorang ibu rumah tangga. Sama halnya dengan saya tidak mengerti mengapa ada orang yang melakukan hal yang sama terhadap perempuan bekerja. “Anak-anak Anda dititipkan ke penitipan anak? Saya tidak pernah bisa melakukan itu. Itu saya, ya.”

Setiap pilihan memiliki kesulitan dan kelebihan masing-masing, serta tidak dapat diperbandingkan karena keduanya sangat jauh berbeda. Satu-satunya kesamaan yang ada antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja adalah keduanya sama-sama pekerjaan purna waktu dan memerlukan kerja keras.

Ironisnya, saat saya kembali bekerja untuk perusahaan media prestisius, perilaku orang-orang yang merendahkan saya tiba-tiba berubah, “Oh Anda bekerja di sana. Keren sekali, saya mendengar Anda di radio setiap saat.”

Serius? Beberapa saat yang lalu Anda bahkan tidak mengucap salam bila bertemu saya saat salat Ied.

Maksud saya adalah kita tidak boleh menghakimi seseorang hanya karena kita pikir kita tahu semua hal tentang mereka. Dan saat berhubungan dengan dunia ibu yang penuh persaingan, kita harus berendah hati.

Banyak orang dapat mengejutkan Anda.

Seseorang yang terlihat seperti ibu rumah tangga biasa bisa jadi adalah orang paling mengagumkan yang pernah Anda temui. Beri ia kesempatan dan coba kenali dirinya.

Begitu pula dengan ibu bekerja yang terlihat sangat berorientasi karir, jangan mengacuhkan mereka saat mengundang ibu-ibu lain dan anak-anak mereka untuk meluangkan waktu bersama. Ia akan datang saat ia bisa karena ia juga kesepian dan ia juga sedang membesarkan anak di kota besar.

Leave a Reply
<Modest Style