Mencari hikmah dalam cobaan hidup

,

Masalah kita tidak pernah lebih besar dari kekuatan di dalam diri kita, Afia R Fitriati mengingatkan.

WP-being-happy-SXC-sm
Gambar: SXC

Semakin dalam kesedihan menoreh Anda, semakin banyak kebahagiaan yang bisa Anda tampung

Hidup ini penuh kontradiksi. Contohnya adalah saat hidup memaksa kita untuk menemukan solusi dari suatu masalah dengan cepat dan baik agar bisa keluar dari sebuah keadaan yang sulit.

Baik itu menjadi pengangguran, mengalami krisis keuangan, kehilangan orang terkasih, dihadapkan oleh masalah pribadi yang rumit, atau dihadang oleh rasa sakit lain dalam hidup – saya yakin Anda mengenali rasa muram dan tidak bersemangat yang menyelinap di relung jiwa kita saat hal-hal semacam ini terjadi. Terkadang, satu-satunya hal yang ingin kita lakukan dalam situasi-situasi ini adalah masuk ke dalam sebuah lubang gelap dan menangis di sana.

Namun sebenarnya, mungkin perasaan tersebut bermaksud mengatakan sesuatu kepada Anda.

Ironisnya, masa-masa tergelap dalam hidup kita muncul untuk mengingatkan kita tentang keindahan cahaya, sesuatu yang seringkali kita abaikan. Meski masa-masa gelap membawa rasa takut, tidak berdaya, dan perasaan sendiri, sekelumit cahaya bisa membuyarkan semua rasa keputusasaan itu.

Jika secercah cahaya memiliki kekuatan sedahsyat itu, bayangkan bagaimana dengan Pelindung kita – Sang Maha Esa yang disebut “cahaya di atas cahaya”:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(An-Nuur:35)

Jika secercah cahaya saja bisa memberi kita harapan, maka disinari “cahaya di atas cahaya” sama artinya dengan dirahmati oleh semangat yang pantang menyerah, pengetahuan yang penuh budi, impian tanpa rasa takut – sebuah kesempatan untuk menjalani hidup dengan kemungkinan tanpa batas.

Tidak ada yang berubah dalam hidup saya kecuali ini: kelemahan, ketakutan, dan keputusasaan telah mati

Malala Yousafzai, seorang aktivis pendidikan muda, mengungkapkan dengan sangat baik perumpamaan ini setelah ia selamat dari kejadian menyeramkan dalam hidupnya, termasuk upaya pembunuhan terhadap dirinya, “Tidak ada yang berubah dalam hidup saya kecuali ini: kelemahan, ketakutan, dan keputusasaan telah mati. Kekuatan, kemampuan, dan keberanian telah lahir.”

Jadi, baik Anda sedang merasa putus asa setelah menghadiri berbagai wawancara kerja tanpa hasilmenghadapi bencana keuangan, atau meratapi  ketidakadilan yang ada di dunia, coba lihat ke dalam diri Anda dan temukan kebahagiaan dengan menyadari bahwa cahaya Tuhan selalu ada dalam jangkauan.

Percayalah bahwa ruang yang sama di hati Anda yang saat ini diisi oleh kesedihan dan kegelapan sedang disiapkan oleh Tuhan untuk menerima kebahagiaan dan cahaya yang berlimpah ruah. Seperti yang dikatakan oleh Kahlil Gibran dalam puisinya Joy and Sorrow, “Semakin dalam kesedihan menoreh Anda, semakin banyak kebahagiaan yang bisa Anda tampung.”

Sebagaimana ibu Nabi Musa AS dipersatukan kembali dengan putranya (28:13) dan Nabi Yusuf AS kembali ke keluarganya sebagai raja (12:100), alihkan hati Anda kepada Allah dan yakinlah selalu bahwa pertolongan Tuhan akan datang di saat yang paling tepat.

… janji Allah itu benar.
(28:13)

 

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi Luxe September 2013. Dapatkan edisi lengkapnya secara cuma-cuma di iPad atau iPhone dari Apple Newsstand, atau di perangkat Android dari Google Play

Leave a Reply
Aquila Klasik