Modest Style

Hijab untuk Acara Istimewa

,

Amenakin tidak hanya bercerita tentang perjalanan yang mengubah hidupnya – serta pilihannya dalam berbusana – saat mulai berhijab, tapi juga tip-tip mengatasi  ‘tantangan’ dalam menemukan gaya yang sesuai untuk semua kesempatan.

WP-hijab-for-special

Berhijab adalah salah satu keputusan impulsif yang tidak mudah saya lupakan sampai saat ini. Tidak biasanya saya mengambil keputusan penting secara tiba-tiba. Bagi seseorang yang dibesarkan dengan kegemaran menata rambut serta hampir tanpa pantangan dalam berpakaian, tindakan untuk menutup sekujur tubuh kecuali wajah dan telapak tangan merupakan langkah yang besar.

Di samping tantangan yang muncul akibat perubahan cara berbusana saya yang drastis – perubahan yang selalu mengingatkan saya atas hubungan saya dengan Tuhan dan agama-Nya – gaya adaptasi baru ini rupanya berdampak terhadap pandangan saya terhadap fashion secara umum.

Saya selalu suka mengekspresikan diri melalui berbagai medium, termasuk gaya berbusana;  Saya berniat menggunakan (hijab) ini sebagai pengingat yang konstan tentang ikrar saya pada Tuhan dan hal ini menjadi lebih bisa dilakukan jika tiba saatnya saya harus mematut diri untuk menghadiri acara – acara istimewa.

Seperti halnya permainan video atau buku Harry Potter yang tidak semua orang menyukainya, fashion adalah hobi  di mana kenikmatan dalam menggelutinya tidak dirasakan oleh semua orang. Saya selalu suka mengekspresikan diri melalui berbagai medium, termasuk gaya berbusana; Saya berniat menggunakan (hijab) ini sebagai pengingat yang konstan tentang ikrar saya pada Tuhan dan hal ini menjadi lebih bisa dilakukan saat saya harus mematut diri untuk menghadiri untuk acara – acara istimewa.

Saya menghindari menggunakan kata ‘sulit’, tapi memang cukup menantang untuk menemukan busana tertutup yang sesuai dipakai saat menghadiri pesta sekaligus pada perayaan Idul Fitri. Di bawah ini beberapa tip terbaik saya untuk membuat cobaan itu lebih mudah diatasi:

Rencanakan Jauh Hari

Jangan tunggu sampai beberapa jam sebelum pesta usai untuk memilih busana. Ada kemungkinan definisi kita tentang ‘ketat’ telah berubah sejak terakhir kali kita memakai sehelai gaun maxi biru favorit. Ada juga kemungkinan kita tidak akan mempunyai penutup bahu bernuansa keemasan yang pas untuk dipadankan, atau malah kardigan ternyata bukanlah gaya yang tepat.

Usahakan memilih atau membeli busana jauh hari, supaya kita percaya diri dan merasa nyaman ketika mengenakannya. Dengan begitu kita tidak perlu bingung dan frustrasi saat mencoba mencocokkan pakaian dalam waktu yang singkat. Di saat bingung inilah setan akan berbisik kepada kita untuk “menanggalkan hijab sekali ini saja”. Halau godaan ini dengan persiapan yang matang.

Bersikap Positif

Jangan pernah berpikir “aku tidak punya satu pun baju untuk dipakai”, tapi pikirkan “bagaimana supaya baju ini menjadi busana muslimah yang pantas?” Ada banyak variasi untuk menyelaraskan selera kita dengan syariat berpakaian muslimah – ini hanya masalah menemukan zona nyaman serta sedikit pengetahuan tentang modifikasi pakaian.

Jika kita bosan dengan semua pilihan adaptasi, dan pakaian tertentu ternyata benar-benar tidak cocok dengan hijab, carilah pilihan baru! Coret busana itu dari daftar favorit dan ganti dengan yang lain. Temukan sesuatu yang pas dipadankan dengan kerudung. Merasa yakin dan bahagia dengan pilihan busana kita adalah konsistensi untuk berhijab untuk waktu yang lama.

Menyeimbangkan Gaya

Akan ada saat tertentu di mana menjajal gaya kerudung baru yang meriah terasa menyenangkan, tapi ingatlah ada kalanya kesederhanaan itu jauh lebih baik. Pemikirannya begini: saat kita mengenakan gaun pendek yang meriah sebelum memutuskan berhijab, apakah kita melengkapinya dengan aksesori yang meriah dan tatanan rambut yang rumit, atau apakah kita memilih gaya yang simpel? Memodifikasi kerudung pun sama saja. Artinya, mesti ada keseimbangan di mana hanya satu bagian dari penampilan kitalah yang menjadi fokus, sementara elemen lain tidak tampak seperti saling bersaing. Jika busana kita terbilang tidak meriah, pilih scarf yang lebih mengilat atau kerudung yang lebih mewah, dan sebaliknya.

Bersikap Terbuka

Apabila kita terbiasa mengenakan pakaian tradisional jenis tertentu, kini saatnya memperluas cakrawala untuk menemukan gaya lain yang sesuai dengan hijab. Jika tidak menemukan pakaian Barat yang sesuai dengan keinginan, cobalah abaya atau busana khas Asia Selatan yang banyak menyediakan model pakaian longgar yang menutup aurat sekaligus membuat nyaman pemakainya.

Bagi saya, jika sepotong pakaian tidak sesuai dengan syariat busana muslimah, saya akan menyingkirkannya dan memilih yang lain

Baru-baru ini saya merekam video panduan fashion pertama saya di YouTube, menampilkan cara saya memodifikasi busana untuk sebuah resepsi pernikahan yang akan saya hadiri. Ini link-nya: http://www.youtube.com/watch?v=kKE5cEFli-c.

Saya hampir selalu memulai dengan bajunya dan baru menambahkan aksesori , saat saya sudah nyaman dengan gaya serta potongannya. Bagi saya, jika sehelai pakaian tidak sesuai dengan syariat busana muslimah, saya akan menyingkirkannya dan memilih yang lain. Langkah pertama ini membantu saya menemukan busana yang nyaman dipakai oleh muslimah berhijab.

Buat saya, seperti halnya memodifikasi kerudung, tata rias juga merupakan bentuk seni yang saya nikmati. Tidak semua orang beranggapan sama dengan saya, tapi  saya senang mengaplikasikan dan mengadaptasi aksesori dengan riasan.

Pada kesempatan ini, saya memakai pemulas mata cerah sehingga elemen warna itulah yang menonjol di antara kombinasi putih dan abu-abu pada pakaian. Karena churidaar (celana panjang model Punjab) yang saya kenakan sudah berhiaskan bebatuan, saya tidak ingin memadukannya dengan kerudung yang berkilau atau terlalu ramai.  Saya memilih untuk memodifikasi kerudung putih klasik saya dengan gaya sederhana sehingga tidak merusak keseluruhan penampilan.

Karena ini acara pernikahan dan sebagian besar bebatuan di bagian depan blus tertutup oleh scarf, saya ingin menyeimbangkannya dengan aksesori. Saya mengenakan kalung di hijab sebagai riasan kepala/tiara. Pilihan ini membuat penampilan saya cocok untuk acara di mana wanita diberi kesempatan untuk berdandan dan memakai perhiasan yang cantik.

Bicara tentang perhiasan, saya rasa saya bisa mewakili banyak hijabis saat mengatakan: saya merindukan anting-anting! Menurut saya, bisa saja memakai anting-anting. Akan tetapi, banyak gaya  berkerudung tidak cocok untuk anting-anting, dan diperlukan usaha lebih besar (setidaknya bagi saya) untuk memodifikasi kerudung dengan anting-anting.

Saya lebih suka kalau aksesorilah yang dimodifikasi di sekitar kerudung, bukan sebaliknya. Tapi itu pilihan pribadi saya. Selama ini, alhamdulillah, keinginan untuk menambahkan sepasang anting-anting atau kalung choker pada kerudung sudah lenyap, dan sekarang saya memilih jenis aksesori lain. Saya lebih suka meminimalkan penggunaan aksesori hanya dengan sebentuk cincin yang simpel.

Sering kali,  kita menghadapi kesulitan dalam banyak urusan karena pikiran kita terpatri pada urusan itu dan melupakan konteks hidup kita.  Kita tidak sempurna, namun kita memiliki keinginan untuk meningkatkan diri. Jika kita mencoba melapangkan hati dari cinta terhadap dunia, merelakan sejumlah kemewahan tanpa merasa kehilangan, kita akan segera menemukan kemudahan dan kepuasan dalam keputusan tersebut.

Semoga Allah (SWT) memperkuat keyakinan kita terhadap apa yang kita lakukan untuk-Nya, serta memurnikan niat kita hanya untuk-Nya. Amin.

Leave a Reply
<Modest Style