Modest Style

Hijab Saya, Pilihan Saya

,

Hijab adalah salah satu simbol paling terkenal dari Islam, tapi apakah itu adalah hubungan yang cukup adil untuk dibuat? Fatimah Jackson-Best merefleksikan perjalanannya mengenakan hijab serta gambaran yang lebih besar di balik secarik kain ini.

0601-WP-Hijab-by-Fatimah-Salam-Stock
Foto: Salam Stock

Saya mulai secara teratur mengenakan jilbab ketika berusia praremaja dan bersekolah di sebuah sekolah Islam. Pada usia yang masih mudah dipengaruhi itu, saya mengacu kepada teman-teman sekolah untuk mengetahui tentang norma yang berlaku, dan yang saat itu saya tahu jilbab adalah untuk menutupi kepala kita. Bagi saya benar-benar tidak ada pilihan sadar dalam hal ini; jilbab adalah harapan yang akan saya penuhi sebagai seorang gadis Muslim, jadi saya memakainya tanpa pertanyaan atau banyak refleksi pribadi.

Ketika saya berumur 18 tahun, saya mulai bereksperimen dengan gaya jilbab saya. Tidak hanya menjepit atau mengalungkannya di depan seperti yang saya lakukan selama bertahun-tahun, saya mulai membungkusnya di bagian belakang kepala menjadi gulungan. Saya tidak akan pernah melupakan reaksi dari orang tua dan masyarakat terhadap perubahan ini. Beberapa berpikir saya akan melalui fase pemberontak, sementara yang lain menganggap saya menjauh dari Islam.

Tetapi sesungguhnya, saya sedang menjelajahi identitas saya sebagai seorang wanita berjilbab. Sebagai seorang gadis muda yang sudah mulai mengenakan kerudung sebagai bagian dari seragam sekolah saya, secara alami kebiasaan itu menular ke dalam kehidupan sehari-hari saya, tapi saya tidak pernah ditanyai apakah saya ingin memakai jilbab. Ketika saya menjadi dewasa muda akhirnya saya mempunyai pilihan, dan sementara saya tidak ingin menghilangkannya sama sekali, saya memutuskan untuk menyesuaikannya dengan keinginan saya sendiri.

Selama saya berada dalam tahap coba-coba dan sampai sekarang saya telah sampai pada pemahaman soal jilbab dalam banyak hal, tetapi saya tidak percaya bahwa itu merupakan indikator tingkat keyakinan seorang wanita. Kita semua mengenal wanita yang memakai jilbab dan mereka yang tidak, dan keduanya akan memiliki berbagai tingkat iman dan hubungan yang berbeda dengan Tuhan. Menurut pendapat saya jilbab bukanlah barometer iman, dan tidak harus menjadi barometer iman.

Jenggot seorang pria atau peci kufinya (atau ketiadaan atribut-atribut ini) tidak menerima jumlah perhatian dan perdebatan yang sama seperti jilbab wanita.

Perjalanan setiap wanita menuju hijab bersifat pribadi dan unik, tetapi banyak dari jalan kita akan memiliki beberapa kesamaan. Untuk beberapa wanita seperti saya, jilbab mungkin bukan keputusan sadar, dan itulah sebabnya mengapa begitu banyak dari kita berjuang dengan itu atau bereksperimen dengan gaya jilbabnya. Bagi orang lain, mengenakan jilbab adalah pilihan yang dibuat melalui proses berpikir dari diri wanita itu sendiri dan merupakan refleksi dari hubungannya dengan Allah (swt). Dan tentu saja ada orang lain yang mungkin memilih untuk tidak memakai jilbab sama sekali dan beresiko menghadapi penghakiman dari pria dan wanita meskipun tindakan mereka bersifat sangat pribadi.

Bagi saya, tak satu pun dari wanita ini yang tingkat spiritual atau keagamaannya di atas yang lain . Tetapi satu hal yang paling sulit tentang menjadi seorang wanita berjilbab (atau tidak menjadi seorang wanita berjilbab) adalah hirarki yang kita masuki berdasarkan bagaimana atau jika kita menutupi rambut kita. Menjadi seorang perempuan berjilbab datang dengan satu set harapan tentang bagaimana seorang wanita Muslim harus bersikap dan berpakaian. Untuk melangkah keluar dari batas-batas tersebut mengundang penilaian dan opini publik yang tidak adil.

Wanita yang tidak menutup rambut mereka atau yang tidak menutup rambutnya dengan cara tradisional juga dinilai dan dikenakan asumsi mengenai keyakinan agama mereka. Inti dari berbagai perspektif  soal jilbab adalah fokus yang berlebihan pada tubuh perempuan, dan secara fundamental  spiritualitas kita. Masalah ini dapat membatasi kemampuan kita untuk membuat pilihan tentang jilbab yang mencerminkan apa yang benar-benar kita inginkan. Sebaliknya, kita dibuat untuk memenuhi harapan sosial tertentu yang memuaskan apa yang orang lain inginkan untuk kita .

Yang juga harus dikatakan adalah bahwa tubuh laki-laki Muslim tidak diletakkan di bawah pemeriksaan yang sama seperti wanita Muslim. Jenggot seorang pria atau peci kufinya (atau ketiadaan atribut-atribut ini) tidak menerima jumlah perhatian dan perdebatan yang sama seperti jilbab wanita. Ini menggambarkan prioritas kita sebagai komunitas Muslim dan bagaimana kaum perempuan dibebani untuk menjadi simbol ideologi agama. Kita semua mendengar ungkapan tentang bagaimana seorang wanita berjilbab bagaikan mutiara di dalam kerang, tetapi di mana ada metafora untuk laki-laki yang sama-sama menekankan pentingnya kerendahan hati mereka?

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan saya karena saya terus bereksperimen dengan jilbab saya. Saya baru saja membuat keputusan pribadi untuk kembali ke mengalungkan jilbab saya di depan. Saya masih memproses mengapa saya membuat perubahan ini, tapi sekali lagi itu adalah pilihan saya untuk memutuskan bagaimana saya memakai jilbab saya.

Leave a Reply
<Modest Style