Modest Style

Hijab: Pembuktian atau Ibadah?

,

Di lingkaran sosial maupun media sosial, obsesi tentang bagaimana perempuan berpakaian sebenarnya mencerminkan ketakutan dalam diri kita, tulis Amal Awad.

(Gambar: Dreamstime)
(Gambar: Dreamstime)

Hanya karena seorang perempuan tak mengenakan penutup-kepala, bukan berarti ia tak memiliki kedekatan dengan Tuhan.

Pernyataan sederhana dari seorang teman di Facebook ini mencuri perhatian saya. Saya terbiasa membaca kutipan-kutipan dan aneka pemikiran tentang kehidupan dalam media sosial, namun ketika menyinggung perihal agama, biasanya hal itu menunjuk kepada sebuah kekurangan daripada menyeru kepada orang untuk sebuah keimanan dan kedekatan dengan Tuhan.

Aspek menarik dari pernyataan ini adalah bahwa pernyataan ini dibuat terkait sebuah kutipan yang tampaknya diambil dari akun Mufti Ismail Menk dari Zimbabwe, yang memiliki followers jauh di atas 700.000.

Saat kita menemui seorang perempuan berbusana dengan cara yang tidak dibenarkan dalam Islam, janganlah sekali-sekali berpikir ia lebih rendah daripada kita secara spiritual. Jika kita melakukan itu, maka artinya kita lebih rendah darinya. Percayalah, demikianlah yang diajarkan agama kita. Bisa jadi seseorang itu memiliki ikatan dengan Tuhan yang kita tidak ketahui. Mungkin saja ia memiliki hati yang berpuluh kali lipat lebih baik dari kita. Kelihatannya ia memiliki satu kekurangan yang tampak, dan kita memiliki 50 kekurangan yang tersembunyi.

Memang betul, perempuan tersebut bisa saja memiliki ratusan hal baik yang tak kita sangka. Ini adalah sebuah pernyataan dukungan bagi realitas praktik spiritual – tidak semua orang memiliki pendekatan yang sama, bahkan meskipun Islam menetapkan aturan-aturan yang menjadi acuan. Lebih dari itu, hal ini menjadi pengingat akan dosa akibat menghakimi orang lain. Bukanlah menjadi hak seseorang untuk menilai apakah seseorang beriman atau tidak, sedangkan ia pun menghadapi ujian yang sama di hadapan Tuhan.

Hijab sepertinya bukan lagi sebuah praktik ibadah dari keyakinan, melainkan pembuktian atasnya.

Yang harus digarisbawahi, tak seorang pun memiliki kemampuan untuk menentukan kualitas keterhubungan seseorang kepada Tuhannya. Keimanan bukanlah istilah yang kaku, dan untuk mengindikasikan bahwa hijab adalah penilaian akhir dari makna menjadi seorang muslim adalah sebuah pendapat yang cacat.

Tak mengherankan bahwa kemudian ada seorang pria yang dengan cepat memberi catatan atas unggahan tadi — bahwa Mufti tidak sedang menyarankan cara berpakaian yang tidak sopan, dan bahwa kita harus selalu memiliki tujuan untuk memperbaiki diri (meski ia mengulasnya terlalu jauh dengan mengatakan bahwa ini artinya hijab dapat berlanjut menjadi jilbab kemudian cadar).

Tidak masalah untuk menganjurkan “perbaikan”, namun untuk menghembuskan ketakutan sama artinya dengan menghalau lebih banyak kaum perempuan untuk menganut kesopanan sebagai sebuah lambang keimanan.

Dan demikianlah agaknya makna hijab bagi kebanyakan kalangan – bukan sebagai praktik ibadah dari keyakinan, alih-alih menjadi pembuktian atasnya. Saat saya melepas hijab beberapa tahun lampau, saya kehilangan beberapa kawan yang tak dapat menerima keputusan saya.  Ke-muslim-an saya nampaknya telah berkurang di mata mereka dan, kelihatannya, menjadi ancaman bagi keimanan mereka sendiri.

Hal itu menjadi bagian yang membingungkan saya, karena saya melihat hal ini sepenuhnya sebagai keputusan pribadi dan sama sekali tidak melakukannya untuk mempertanyakan integritas dari hijab. Lebih jauh lagi, saya tidak – seperti kecenderungan yang dilakukan sebagian perempuan lain setelah melakukan “dejabbing (keputusan melepas hijab)” – berupaya meyakinkan perempuan lain untuk bergabung bersama saya dalam sebuah gerilya feminis liberal.

Pukulan di dunia maya dari aksi “memutus pertemanan” dan menghentikan ikatan silaturahmi secara umum menjadi tanda nyata atas keputusan saya itu – tingkat ketidaknyamanan yang sedemikian mereka tunjukkan jelas menunjukkan tanda ketakutan. Saat saya mengenakan hijab, saya bergeming saat perempuan lain memutuskan untuk melepas hijab. Ketika aksi yang mereka lakukan membuat saya bimbang, saya harus berhadapan dengan perasaan saya sendiri terkait hal itu. Saya tak bisa menampik bahwa saya merasa terganggu.

Kenyataannya adalah bahwa kesopanan, dan cara terbaik untuk mengaplikasikannya, selalu menjadi pemikiran yang ada dalam pikiran saya. Sepanjang hidup saya menjalani sekian batasan ketat perihal itu. Ibu selalu membelikan baju dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari ukuran tubuh saya, dan meski ia tidak memaksa saya berhijab, saat saya melepas hijab, dengan segera ia mengingatkan untuk tidak mengubah cara saya berbusana. Artinya, baju lengan terbuka atau secara umum busana yang terbuka tidak akan menjadi pakaian saya.

Ini juga seharusnya bukan isu yang didegradasi menjadi domain perempuan, meskipun dengan obsesi universal yang kita miliki perihal bagaimana perempuan berpakaian dan berperilaku (muslim atau bukan), tak mengherankan jika kita melupakan bahwa laki-laki pun memiliki batasan kesopanan.

Laki-laki ternyata, juga, memiliki ‘hijab’nya – namun kita jarang mendengar tentangnya.

Nyatanya, saya ingat berbincang dengan seorang laki-laki muslim bertahun silam yang mengatakan bahwa ia telah mempertimbangkan mencukur jenggotnya, namun kemudian memutuskan untuk membatalkannya karena ketakutan akan kecaman yang mungkin muncul. Hal ini membuka sebuah tabir bagi saya. Laki-laki ternyata, juga, memiliki ‘hijab’nya – namun kita jarang mendengar tentangnya.

Perbedaannya mungkin, kecuali laki-laki yang bimbang akan hal itu dekat dengan kelompok muslim yang taat, maka kemungkinannya kecil bahwa ia akan dipertanyakan perihal tingkat keimanannya karena tak memanjangkan jenggotnya.

Di masa kini, sangat lazim melihat muslimah muda yang merasakan keterikatan atas keyakinannya, meskipun tidak mengenakan hijab. Kita membuat keputusan-keputusan setiap hari, termasuk di dalamnya adalah bagaimana kita berbusana. Di satu sisi, semua yang kita lakukan adalah bentuk refleksi tentang bagaimana penghadapan kita kepada Tuhan – bukan pada Hari Kiamat, namun di keseharian hidup yang penuh tantangan yang telah dihadirkan bagi kita.

Sudah pasti, saya bukanlah ulama dan saya tidak bermaksud untuk mengajari bagaimana perempuan harus berpakaian, dalam satu hal dan lainnya. Namun, selayaknya perempuan pada umumnya, yang telah berbagi isu tentang tubuh, pencarian spiritual dan perjuangan memahami kesopanan, saya dapat katakan bahwa selalu menjadi elemen manusia di dalam hatinya atas isu-isu berikut ini: kesenangan dasar menikmati fesyen dan busana dengan segala warna dan antusiasmenya, bukan semata-mata untuk menarik perhatian.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud untuk menyarankan fesyen adi-busana dibandingkan berhijab, namun menurut saya sudah sepenuhnya jelas bahwa berhijab bukanlah penanda sejati atas keimanan seseorang.

Dan yang lebih penting lagi, memang tidak seharusnya demikian.

Leave a Reply
<Modest Style