Hari Para Arwah

,

Ada banyak cara untuk mengenang mereka yang telah berpulang mendahului kita. Eren Cervantes-Altamirano berbagi cerita tentang cara yang paling disukainya.

[Not a valid template]

Dari semua hari raya di Meksiko, Día de Muertos alias Hari Para Arwah (Day of the Dead), adalah yang paling saya sukai. Hari raya ini bersifat sinkretik atau menggabungkan dua tradisi: tradisi leluhur dan tradisi bangsa Spanyol. Awalnya, Hari Para Arwah merupakan ritual yang dirayakan secara luas di antara suku-suku asli seperti Aztek, Zapotek dan Maya. Selama masa pra-Hispanik (artinya, sebelum era kolonisasi), perayaan ini menjadi ritual untuk memperingati berakhirnya musim panen serta mewakili siklus kehidupan dan kematian.

Pada zaman kolonisasi, tradisi Katolik berusaha mengganti sejumlah hari raya asli sebagai usaha dari gerakan utamanya: menjadikan orang-orang pribumi sebagai penganut agama Katolik. Di Meksiko, usaha ini termasuk penghancuran tempat-tempat ibadah penduduk asli serta pembangungan gereja-gereja Katolik di atasnya. Hari Para Arwah diganti citranya, diberi makna baru dan disulap menjadi hari raya Katolik. Sementara itu, para pribumi terus merayakannya secara diam-diam.

Saat ini, hari raya Kristiani yang disebut Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saints’ Day), yang bertujuan menghormati semua santo karena mereka diyakini telah memperoleh status istimewa di surga, diadakan tepat di Hari Para Arwah (dan juga Halloween). Ini karena  tujuannya memang untuk menggantikan ritual pagan sebagai perayaan berakhirnya musim panen di Eropa. Barulah sekitar 100 tahun silam Hari Para Arwah dapat dirayakan kembali secara terang-terangan.

Tradisi Meksiko memandang perayaan Hari Para Arwah sebagai cara untuk menolak kolonisasi. Sekarang, meski di hari ini masyarakat beribadah di gereja dan mengunjungi pemakaman Kristen, keseluruhan perayaan tidak banyak hubungannya dengan agama Katolik. Di Meksiko, orang juga sudah terbiasa melihat dekorasi bergambar Catrina, kerangka perempuan anggun yang pada awal 1990-an digunakan untuk mengolok-olok golongan yang menyangkal warisan nenek moyang mereka demi mendukung identitas Eropa yang palsu.

Pada 1 dan 2 November tahun ini, kami mengenang nenek moyang dan mendiang keluarga kami. Biarpun tradisi ini tampak mengerikan bagi orang dari kebudayaan berbeda, saya selalu merasa inilah hari raya yang memotivasi orang untuk berdamai dengan kematian karena mengandung humor dan keriaan. Kami percaya bahwa selama dua hari ini, kami mendapat kesempatan untuk merayakannya bersama keluarga dan teman-teman yang telah meninggal dunia. Dalam tradisi Meksiko, dikatakan bahwa pintu-pintu surga akan terbuka untuk memberi jalan bagi para roh ini untuk mengunjungi orang-orang yang mereka cintai. Keluarga yang menyambut pun merupakan bagian dari hari raya ini.

Waktu masih kecil, saya ingat banyaknya persiapan yang dilakukan untuk menyambut hari ini. Anak-anak dianjurkan membuat papel picado, jenis hiasan yang terbuat dari kertas tisu warna-warni; saling bertukar calaveritas de azúcar (gula berbentuk tengkorak aneka warna); dan menuliskan calaveras, puisi jenaka untuk mengenang kematian yang juga dapat ditujukan bagi mereka yang masih hidup.

Pada hari pertama, kami merayakan roh anak-anak dan mereka yang belum mencapai masa dewasa. Di hari kedua, kami merayakan roh orang dewasa. Di rumah, kami membuat altar (yang bentuknya bervariasi tergantung tempat dan keluarga). Namun demikian, ini bukan altar pemujaan melainkan titik sentral untuk menarik roh orang-orang yang kami cintai. Di altar ditaruh foto-foto para kerabat yang telah berpulang bersama dengan lilin dan berbagai benda yang dulu sering mereka gunakan saat masih hidup.

Dewasa ini, sekolah dan kantor pemerintah turut berpartisipasi dengan mendirikan altar raksasa demi menghormati orang-orang yang dianggap berjasa. Saat masih SMU, altar di di sekolah saya sering ditujukan untuk menghormati para tokoh Amerika Latin terkenal seperti Ché Guevara. Di kota saya, rumah sakit anak-anak terdekat pun membangun altar besar berhiaskan mainan dan permen untuk merayakan arwah anak-anak. Tetapi di rumah, altar kami hanya untuk menghormati para nenek buyut dan kakek buyut kami (sekarang, termasuk kakek dari pihak ibu dan dua paman).

Di rumah saya, kami mendirikan altar dengan gula berbentuk tengkorak, lilin, makanan dan minuman. Ayah akan meletakkan permen dan kue-kue kering untuk almarhumah neneknya (kedua makanan itu favorit beliau) dan Ibu akan menghias altar dengan rokok dan botol minuman kesukaan almarhum ayahnya. Satu elemen penting di altar adalah pan de muerto alias roti para arwah (bread of the dead), roti beraroma jeruk dengan hiasan “tulang belulang” di atasnya, yang pembuatannya makan waktu sekitar enam sampai tujuh jam (saya membuatnya dari awal). Roti ini akan menjadi dekorasi altar hingga 2 November sewaktu kami berkumpul dengan teman dan keluarga untuk menyantapnya bersama champurrado (cokelat panas dari jagung) atau atole (minuman pekat dari jagung yang tersedia dalam beberapa rasa).

Untuk memberi tanda pada roh-roh yang mampir, kami membuat jalan dari cempasúchil, bunga kuning amat wangi yang telah diasosiasikan dengan kematian sejak masa pra-Hispanik. Jalan yang terbentuk dari kelopak bunga ini dimaksudkan untuk memandu para arwah dari pintu rumah kami ke altar sehingga mereka bisa masuk dan menikmati benda-benda yang kami siapkan untuk mereka.

Di beberapa tempat, termasuk di kota nenek saya di Meksiko selatan, orang-orang berziarah ke kuburan selama dua hari. Di sana, gagasannya dibalik: menjadi tanggung jawab keluarga untuk mengunjungi sanak saudara yang sudah tiada. Pihak keluarga menghabiskan waktu untuk membersihkan kuburan, membawa bunga dan mempersiapkan diri untuk menginap selama dua malam di sana. Nenek saya sering berkumpul dengan para janda lainnya, dan mereka akan mempersiapkan sejumlah besar hidangan untuk disantap di kuburan. Mereka memulai acara dengan merapalkan doa bagi roh orang-orang yang telah wafat, dilanjutkan dengan pembacaan cerita-cerita kenangan. Mereka menikmati saat tersebut dan percaya bahwa para arwah berbagi momen ini dengan keluarganya.

Di luar Meksiko, hari raya yang oleh sebagian orang dianggap mengerikan ini sering disalahpahami. Ditambah lagi, sebagai mualaf, banyak sesama Muslim yang mempertanyakan perayaan ini sebagai bentuk penyembahan berhala. Akan tetapi, saya yakin hari raya ini amatlah penting karena telah mengajarkan anak-anak sejak dini untuk berdamai dengan kematian serta memotivasi kita untuk tidak melupakan asal kita dan pentingnya makna keluarga.

Hari raya ini kerap menjadi panggilan bagi kita untuk menikmati singkatnya kehidupan di Bumi serta mempersiapkan diri untuk kembali ke haribaan-Nya. Jika kita merenungkannya, kematian tidaklah terasa begitu buruk!

Leave a Reply
Aquila Klasik