Modest Style

Hari-Hari Bahagia Ramadhan

,

Inilah waktu ketika kita harus menahan diri dan merasakan lapar, tapi bagi umat muslim, Ramadhan adalah bulan membahagiakan yang mengilhami hubungan yang lebih mendalam. Amal Awad mengenang puasa di masa kanak-kanaknya.

Foto: SXC
Foto: SXC

Kenangan paling awal tentang Ramadhan berasal dari tahun-tahun saya ketika di sekolah dasar. Seperti sekarang, muslim di Australia saat itu berpuasa di musim dingin, yang berarti hari-harinya cukup singkat dibanding musim panas yang panjang dan terik. Pada pukul 5.30 petang kami makan dan shalat maghrib sebelum duduk di depan TV untuk menonton tayangan ulang Happy Days sambil mengunyah aneka cokelat batangan ukuran kecil.

Setidaknya itulah yang saya dan saudara-saudara saya lakukan. Bukan berarti kami sekadar ikut-ikutan berpuasa. Kami mengerti. Kami menghargai kekhidmatannya. Kami tidak begitu saja menerima semuanya tanpa menghargainya. Kami merayakan Idul Fitri dengan rasa lega dan syukur. Cokelat batangan tidak pernah terasa begitu enak.

Tapi saya ingat betul hari-hari menonton TV pada senja yang dingin, karena itu adalah satu masa dalam setahun di mana kami benar-benar berkumpul. Selalu ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan, waktu tidur untuk dipatuhi, dan doa-doa yang harus dibaca. Tapi ada keintiman yang saya rindukan untuk kembali merasakannya.

Ada hal-hal lain yang saya ingat, beberapa di antaranya menyebabkan perut saya sedikit tidak enak.  Kenangan hari pertama itu, tenggelam dalam aroma sup kacang lentil, ibu sibuk di dapur untuk memastikan semua orang dapat makan tepat waktu.

Kegembiraan yang kita rasakan saat membeli baju baru untuk Idul Fitri – bagaimanapun juga, ini hari raya, dan kita merasa baru.

Dan kemudian ada hal-hal kecil. Saya menikmati kegiatan mengatur meja makan setiap malam. Rasanya agak mirip The Brady Bunch, di mana meja sudah disiapkan dan keluarga selalu makan bersama-sama. Saya berhati-hati melipat serbet, menata alat makan, memastikan semua orang mendapat mangkuk dan piring. Meja kami tampak elegan, keren, dan sesuai untuk keluarga.

Dan inilah salah satu elemen terindah Ramadhan. Ini adalah waktu untuk menjalin kedekatan, tidak hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan orang-orang yang kita cintai. Elemen ini bahkan lebih penting ketika Ramadhan pindah ke musim panas dan kami berpuasa, beberapa hari bahkan sampai hampir pukul 9.00 malam.  Hari-hari Ramadhan itu luar biasa panas, dan kalau sekarang saya mengingat dengan takjub bagaimana kami dapat melaluinya dengan baik, saya tidak lupa rasa syukur mendalam yang saya rasakan ketika bulan telah berganti.

Ramadhan di masa kanak-kanak menghasilkan perasaan yang tidak akan pernah benar-benar bisa kita lupakan. Pertama kali mengalami nikmatnya kenyang setelah kelaparan. Perasaan bahwa apa yang kita lakukan mungkin tidak mengubah dunia, tetapi mungkin mengubah cara orang memandangnya. Saya hanyalah seorang anak kecil, tapi puasa membantu saya untuk memahami apa arti disiplin dan bagaimana hidup tanpanya. Ini membuat saya memperhatikan agama saya dan mengajukan berbagai pertanyaan sehingga saya bisa lebih memahami ritual yang tampak begitu berbeda dengan jenis ibadah lainnya ini.

Sebagai orang dewasa, walaupun Ramadhan tidak pernah kehilangan maknanya, saya kadang-kadang merasa maknanya menjadi hambar di tengah tuntutan kehidupan pekerjaan. Hubungan dan tekanan kerja tidak pernah menjadi masalahnya; namun tinggal di sebuah negara non-muslim di mana berpuasa merupakan suatu pengecualian, bukan norma yang biasa, menimbulkan tantangan di tempat kerja.

Bukan berarti kita tidak memiliki rekan kerja yang memahami – sebagian besar ada, kok. Tapi entah kenapa makna penting bulan ini bisa sedikit hilang dalam kabut kesibukan di tempat kerja. Anda berbuka puasa di kereta api atau bus menuju rumah, bukannya dengan alunan melankolis adzan dari radio yang kemerisik di rumah.

Anda ingat juga, kan?

Kita mulai mengabaikan sahur, cukup senang untuk bangun dan minum seteguk air dan beberapa butir kurma, bukannya makan besar seperti orang yang hendak bertanding. Hidup terpisah dari orangtua menjadi penyebabnya, begitu pula rasa malas.

Namun bagi sekian banyak orang yang saya kenal, sahur sama pentingnya dengan berbuka puasa. Sahur selalu menjadi waktu ketika keluarga makan bersama sebagai persiapan hari esoknya. Akan ada obrolan, tawa dan, seperti yang diistilahkan salah satu teman saya, terburu-buru menenggak segelas air sebelum imsak.

Dan sekarang, sebagai orang dewasa, kita masih berbicara tentang Ramadhan dengan harapan dan kegembiraan. Ini adalah pintu menuju dunia yang lain. Sebuah tempat di mana kita bisa melihat diri kita sendiri secara mendalam dan, dengan keinginan kuat, merenungkan hidup kita, spiritualitas kita dan apa artinya merasa butuh, bukan hanya ingin.

Seperti hujan badai yang hebat, Ramadhan adalah indah sekaligus mensucikan. Tetapi juga dapat membuat kewalahan, karena merupakan pengingat bagaimana kita akan diuji, sejauh mana keuletan kita, dan seberapa banyak kita harus belajar.

 

Leave a Reply
<Modest Style