Modest Style

Hal-hal Buruk

,

Sulit untuk dipercaya, tetapi kita perlu kegelapan untuk menemukan cahaya, tulis Amal Awad.

Gambar: SXC
Gambar: SXC

Orang bilang hal-hal buruk datang sekaligus bertiga. Ini mungkin benar, tetapi hal-hal buruk juga datang satu-satu, berlima, dan bertujuh sekaligus. Tanyakanlah kepada siapa saja yang memiliki sedikit pengalaman hidup dan mereka akan memberitahu Anda bagaimana segalanya bisa berjalan kacau sekaligus, atau bagaimana satu hal buruk dapat dengan cepat diikuti hal buruk lain.

‘Hal-hal buruk’ cenderung tidak terjadi secara terpisah atau dalam letupan-letupan kecil. Trauma bergulung-gulung menghantam kita seperti guntur, dan seperti cuaca, rasanya bagai kita sedang dihujani keburukan. Ini seperti ledakan tantangan yang bisa terjadi begitu saja mengagetkan kita.

Sementara semesta mungkin sedang menguji kita, banyak hal yang terjadi selanjutnya ditentukan oleh cara kita dalam memandang dan menyikapi apa yang sedang terjadi.

Kita menemukan ketenteraman dalam firman Tuhan yang meyakinkan kita bahwa Dia tidak memberi kita cobaan lebih dari yang kita bisa pikul. Tapi ada juga kekuatan afirmatif dalam berpikir positif, dan saya penganjur yang gigih dalam hal ini.

Apakah nurani kita menyuarakan rasa syukur atau rasa takut?

Bagaimanapun, cara kita berpartisipasi dalam kehidupan dan menerima tantangan banyak bermuara pada bagaimana kita berpikir. Sebagian di antaranya (jika tidak sepenuhnya) ditentukan oleh bahasa yang kita gunakan – kepada diri sendiri, baik diam-diam maupun secara lantang.

Kata-kata apa yang kita gunakan untuk membingkai narasi pribadi kita? Itulah bahasa otak kita. Bahasa ini menyaring pandangan kita, kemampuan kita untuk mencapai tujuan, bagaimana kita berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain, dan bahkan spiritualitas kita.

Apakah kita berpikir dalam perspektif keterbatasan atau kelimpahan? Apakah nurani kita menyuarakan rasa syukur atau rasa takut?

Tidak perlu jauh-jauh menyelami batin untuk menyadari bahwa cara kita mempersepsi harga diri memengaruhi kesejahteraan kita. Kita dapat mengubah pikiran dalam sekejap hanya dengan mengalihkan cara pandang. Jika tidak, ini seperti menonton film 3D tanpa kacamata khusus. Kita dapat melihat apa yang ada di depan kita, tapi agak kabur.
Kesadaran ini datang dalam fokus yang tajam ketika hal-hal buruk mulai terjadi. Tapi kemudian kita menyadari sesuatu yang penting. Menyebut mereka sebagai ‘hal buruk’ berarti memberi mereka kekuatan yang tidak seharusnya mereka miliki. Boleh-boleh saja kita mengakui adanya kesulitan dan merasa tertantang karenanya. Tetapi, merendahkan diri dengan menggunakan istilah ‘masalah’ dan ‘kesulitan’ akan meneguhkan nilai diri kita. Setiap hari akan berakhir dengan cara hari itu dimulai – dalam kerangka pikir yang negatif.

Padahal mestinya tidak begitu. Berapa kali Anda menangis ketika Anda mengalami hari yang buruk, dan kemudian merasa lega sesudahnya? Jangan terlalu kuat menahan tangis.

Hal-hal ‘buruk’ terjadi untuk membuat dunia ini tetap seimbang. Kita tidak dapat terus-terusan mengalami limpahan sukacita, kebahagiaan, dan kedamaian. Itu garis datar, yang tidak akan pernah memungkinkan kita untuk tumbuh dan menjadi lebih – lebih tertarik dan menarik, lebih puas dan kaya perspektif, serta lebih bijaksana.

Jangan percaya dengan tipuan kebahagiaan yang ada di mana-mana. Ini hanya akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam dan rasa sakit, terutama jika Anda adalah tipe orang yang merupakan kritikus terburuk bagi diri sendiri (ya, saya kadang-kadang demikian).

Suatu hari, pada saat merasa benar-benar tidak seimbang, saya mendapati diri saya sedang berhadapan dengan harapan duniawi saya sendiri: bahwa seharusnya tak boleh ada yang salah, bahwa orang seharusnya tidak perlu marah jika kita baik terhadap satu sama lain, bahwa kita semua harus menghabiskan hari-hari kita melakukan hal-hal yang kita sukai.

Adalah pengingat yang keras bahwa hidup tidak diciptakan dalam bentuk jalan yang mulus. Guncanganlah yang menunjukkan kepada kita siapa kita sebenarnya, dan apa yang sebenarnya kita inginkan.

Dalam upaya untuk mengatasi ketidakseimbangan, saya mengikuti meditasi – jenis meditasi dengan visualisasi terpandu yang saya sukai. Instrukturnya memberi saya semacam wawasan tak terduga yang sangat perlu saya dengar.

Dunia, katanya kepada saya, dalam keadaan terbaik yang pernah ada, dan sekaligus yang terburuk.

Saya memikirkan dualitas, bayangan dan realitas manusia, bagaimana satu hal menyeimbangkan yang lain. Saya berpikir tentang betapa mudahnya saya membiarkan kegelapan mengambil alih cahaya, karena keduanya pasti ada dan akan bersaing. Dan saya menyadari bahwa saya bisa memilih yang satu ketimbang yang lain kapan saja, bahkan ketika hal-hal ‘buruk’ tengah terjadi.

Saya ingat bahwa tidak apa-apa kita merasa lemah atau takut, untuk mengenali bagaimana rasanya saat kehidupan di luar kendali kita, tapi yang penting bagaimana dalam kebingungan itu kita bisa mendarat dengan selamat.

Hal-hal buruk sebenarnya bukanlah hal-hal buruk. Mereka adalah kegelapan bagi cahaya kita, dan mereka mungkin datang bertiga, berlima, atau bertujuh sekaligus. Tapi mereka terjadi pada setiap orang.

Rahasianya adalah dengan berpegangan erat-erat, lalu melepaskan genggaman itu, dan ketika kita membuka mata, akan terbukalah dunia yang benar-benar baru.

Leave a Reply
<Modest Style