Modest Style

Haji: Antara Status dan Perilaku

,

Apakah menunaikan ibadah haji membuat seseorang menjadi lebih baik atau sebaliknya? Afia R Fitriati merenungkan pertanyaan ini.

Jemaah haji melaksanakan ritual jalan terakhir (Tawaf Wada) mengeilingi Ka’bah pada Masjid Agung al-Haram di kota suci Mekkah, Arab Saudi, 30 November 2009. AFP Photo / Mahmud Hams
Jemaah haji melaksanakan ritual jalan terakhir (Tawaf Wada) mengeilingi Ka’bah pada Masjid Agung al-Haram di kota suci Mekkah, Arab Saudi, 30 November 2009. AFP Photo / Mahmud Hams

Saat jutaan jemaah haji singgah di Padang Arafah minggu ini, saya teringat akan sebuah kisah yang pernah saya  baca. Alkisah dua malaikat sedang membahas mengenai para jemaah haji. Malaikat pertama bertanya kepada malaikat kedua, “Berapa banyak dari orang yang pergi haji tahun ini diterima hajinya oleh Allah SWT?”. Malaikat kedua menjawab, “Ada jutaan orang yang datang ke tanah suci tahun ini, tetapi hanya dua orang yang memperoleh pahala sempurna.”

“Dari dua orang ini, satu orang bahkan tidak jadi pergi karena dia menyumbangkan semua tabungan hajinya untuk membantu tetangganya yang miskin.”

Alegori ini mengingatkan saya pada nilai-nilai utama yang terletak pada ritual haji: iman, pengorbanan, kerendahan hati dan persaudaraan. Bagi banyak umat Muslim, melaksanakan ibadah haji dianggap sebagai ibadah tertinggi. Seorang jemaah haji harus meninggalkan kekayaan, pekerjaan dan keluarga untuk mempersembahkan hampir seluruh waktunya demi menyembah Allah serta menunaikan salah satu dari rukun Islam.

Di tengah jutaan orang berpakaian serbaputih, seorang jemaah haji diingatkan bahwa dirinya hanyalah setitik kecil di tengah lautan umat manusia.

Jadi, sangat disayangkan apabila ada jemaah haji yang gagal memahami pelajaran mendasar dari ibadah ini atau gagal membawa pulang pelajaran tersebut ke kampung halamannya. Di Indonesia misalnya, sudah biasa bagi para politisi untuk memamerkan gelar ‘Haji’ atau ‘Hajjah’ (pria atau wanita yang sudah pergi haji) dengan tujuan mengumpulkan suara pada saat pemilihan umum. Banyak dari politisi ini yang lantas mengecewakan para pemilih mereka dengan ingkar janji atau dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi.

Bicara tentang korupsi, rakyat Indonesia pun sudah familiar dengan kasus-kasus di mana para birokrat maupun pengusaha korup mengunjungi tanah suci dan melaksanakan umrah atau haji demi “menghapus dosa-dosa mereka”, untuk kemudian kembali melakukan kejahatan  yang sama —atau bahkan yang lebih serius, di negara mereka.

Di tingkat yang lebih personal, pada suatu kesempatan baru-baru ini, saya mendengar seorang kerabat yang baru berangkat haji tahun lalu, melontarkan kata-kata kasar nan menyakitkan kepada orang tua yang sedang sakit.

Meskipun haji tidak lantas menjadikan seseorang malaikat—seperti halnya mengenakan hijab tidak lantas menjadikan seorang Muslimah manusia suci—dalam kasus di atas, orang yang telah menempuh perjalanan spiritual yang sangat melelahkan seperti berhaji seyogianya bersikap lebih lembut dan sabar dalam kondisi seperti itu.

Jadi, selagi kita berdoa agar diberi kesempatan untuk mengunjungi Ka’bah dan menunaikan rukun islam kelima, marilah kita juga mengamati perilaku sehari-hari kita dan bertanya: di antara jutaan orang yang melaksanakan haji, akankah saya berada di antara orang-orang terpilih yang ibadahnya diterima Yang Mahakuasa?

Leave a Reply
<Modest Style