Modest Style

Gunung Papandayan: Cerita pendakian seorang pemula

,

Gunung Papandayan adalah gunung yang indah dan cukup ramah bagi pendaki pemula, tulis Cahya Meythasari

Sudah empat kali saya mendengar cerita teman melakukan pendakian ke Gunung Papandayan. Meski saya belum pernah mendaki gunung, melihat foto-foto teman yang berbagi foto tentang pendakian gunung ini saya jadi ingin mencoba. Maka tak lama sejak itu, saya dan sejumlah teman-teman Pramuka yang sudah sangat rindu dengan alam merencakan untuk mendaki Gunung Papandayan.

Tak disangka, mendekati waktu pendakian, cuaca Jakarta justru semakin mengkhawatirkan. Hujan mengguyur dengan deras disertai banjir dimana-mana. Akhirnya, 10 dari 15 teman saya yang berencana pergi mengundurkan diri untuk ikut. Saya pun sempat merasa ragu. Namun, akhirnya keinginan saya dan keempat teman saya – Septi, Sandy, Erwin, dan Ogie – tetap bulat. Dengan persiapan kilat satu hari sebelum keberangkatan, kami pun memutuskan untuk tetap mendaki.

Kebetulan kami berempat memang pecinta alam yang sudah cukup sering bertualang, sehingga tidak terlalu sulit untuk mengumpulkan dan melengkapi peralatan dan perbekalan walaupun hanya berlima.

Berikut ini beberapa perlengkapan yang kami bawa:

Perlengkapan Kelompok:

  • Tenda + Pasak
  • Tali rafia
  • Matras
  • Kompor trangia
  • Parafin
  • Nesting (tempat memasak untuk tentara)
  • Kebutuhan makan untuk2 hari
  • Flysheet
  • Matras

Perlengkapan pribadi:

referensi isi tas carrier
referensi isi tas carrier
  • Tas carrier
  • Pack cover (bungkus luar tascarrier)
  • Tas kecil (berisi dompet,obat pribadi, ponsel,dll)
  • Senter (lebih baik yang model headlamp)
  • Kacamata
  • Peralatan jahit (untuk kebutuhan darurat)
  • Plastik dan kantung sampah (untuk bungkus baju kotor, baju bersih, dan pelapis dalam tas carrier)
  • Kamera
  • Kantung tidur
  • Jas hujan/poncho
  • Alat tulis
  • Jaket
  • Sandal gunung dan sandal jepit
  • Baju ganti untuk 2 hari (luar dan dalam)
  • Alat makan
  • Air minum
  • Alat mandi
  • Alat Shalat

Kami berencana hanya dua hari berada di atas gunung, sehingga tas yang saya bawa cukup yang berukuran 45L + 10 (45 liter, dengan ekstensi 10 liter).

Akhirnya hari keberangkatan pun tiba. Ada tiga cara berangkat dari Jakarta menuju Terminal Guntur (Garut):

  • < jam 9 malam: dari Terminal Lebak Bulus (Jakarta-Garut) Rp. 35.000 per orang
  • > jam 9 malam: dari Terminal Kampung Rambutan (Jakarta-Garut) Rp. 35.000 per orang
  • >jam 9 malam:dari Terminal Lebak Bulus (Jakarta-Cileunyi) Rp. 26.000 per orang

Perjalanan ini kemudian diteruskan dengan menumpang mobil elf jurusanCileunyi-Garut, Rp. 10.000 per orang.

Di luar dugaan, malam itu saya masih diharuskan atasan saya untuk lembur sampai jam sembilan malam. Padahal, kami seharusnya sudah berangkat dari Terminal Lebak Bulus jam delapan malam dan keempat teman saya sudah berada di terminal Lebak Bulus. Akhirnya kondisi ini mengharuskan kami melakukanperjalanan malam hari, agar kami tetap dapat mendaki Gunung Papandayan di pagi keesokan harinya. Ini penting karena Gunung Papandayan adalah gunung berapi yang masih aktif dan mengeluarkan asap belerang yang kuat, terlebih di atas jam 10 pagi.

Maka kami berangkat dari Lebak Bulus menuju Cileunyi sekitar pukul 21.30. Pukul dua pagi, kami pun tiba di Cileunyi. Kami sempatkan untuk packing ulang, membagi perlengkapan ke carrier bag yang dirasa masih kosong (bukan punya saya tentunya, karena tas saya kecil. Hihi…)

Perjalanan kami lanjutkan dengan menumpang elf hingga tiba di Terminal Garut pukul 03.00. Kami lalu menunggu waktu subuh tiba di sekitar masjid di depan Terminal Guntur.

Setelah pagi tiba, kami melanjutkan perjalanan menggunakan elf yang hanya mau berangkat jika kuota penumpangnya sudah terisi penuh. Kerja sama dengan penumpang lain yang akan pergi ke Papandayan menjadi solusi kami berangkat lebih segera. Dalam waktu 30 menit kami pun sampai ke tujuan, Cisurupan, dengan merogoh biaya 10 ribu rupiah saja.

Angin dingin mulai terasa menusuk tulang di daerah ini. Tak jauh dari tempat kami diturunkan elf tadi, kami menemukan Pasar Tradisional Cisurupan dan membeli beberapa sayur-mayur segar untuk dimasak ketika di atas gunung. Kami merencanakan menu kangkung, tempe dan sop sayur untuk disajikan di atas nanti.

Di Simpang Cisurupan sudah tersedia pickup yang siap mengantarkan para pendaki sampai ke alun-alun Papandayan. Setelah tawar menawar, akhirnya biaya yang harus kami bayarkan adalah 120 ribu rupiah untuk 10 orang penumpang (5 orang lainnya dalam rombongan ini adalah pendaki-pendaki lain yang berasal dari Bogor).

Setangah jam kemudian setelah melalui jalan rusak, ilalang, pemandangan gunung Cikurai yang memukau sepanjang perjalanan dan pepohonan tinggi besar, kami pun sampai di alun-alun Pos Pendakian Papandayan pukul 08:30. Teman saya, Sandy, segera melapor ke pengurus pos dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 2.000 (dua ribu rupiah) per orang.

Sebagai informasi tambahan, saya sarankan untuk tidak mengenakan jaket ketika mendaki, karena tubuh akan sangat kegerahan akibat perjalanan yang cukup jauh. Berdoa sebelum melakukan pendakian adalah satu hal yang wajib.

Perjalanan pun kami mulai. Kami disambut dengan kawah putih yang begitu luas dan mengepulkan asap dengan bau yang tidak sedap. Teman saya mengingatkan kami untuk menggunakan masker yang sudah dibasahi air, agar oksigen dari air tersebut mengurangi bau belerang yang sangat menyengat.

Karena beberapa teman saya sudah sering mendaki ke tempat ini, rute pun dapat kami lalui tanpa tersesat. Perjalanan di sepanjang jalur pendakian Gunung Papandayan ini jauh dari membosankan karena pemandangannya tidak monoton. Setelah sajian pemandangan kawah dengan semburan asap belerang di awal pendakian, kemudian kami disajikan pemandangan padang rerumputan yang hijau dan memanjakan mata.

Cantiknya Cantigi di sepanjang pendakian
Cantiknya Cantigi di sepanjang pendakian

Disekitar wilayah pegunungan ini, banyak terdapat Cantigi, tumbuhan cantik berwarna merah yang ternyata dapat dimakan. Rasanya sedikit sepat, seperti kedondong. Kabarnya Cantigi yang cantik ini juga merupakan tanaman pelindung bagi Edelweis (Sayangnya, Edelweis saat itu sedang tidak tumbuh berkembang). Sejak saat itu, saya bercita-cita menamai salah satu anak saya nanti Cantigi!

Setelah berjalan beberapa lama, kami disajikan dengan pemandangan indah lain: air terjun. Tidak besar memang, namun aliran dan suara gemericiknya mampu menenangkan dan melepas lelah kami setelah beberapa lama berjalan.

Di sela-sela pepohonan,kami bertemu dengan pemandangan “danau cinta”. Entah ada cerita apa dibalik danau tersebut hingga disebut danau cinta. Namun, jika kita perhatikan dengan kamera resolusi tinggi, danau ini memang berbentuk hati. Mungkin itu sebabnya ia disebut danau cinta.

Tidak terasa, tibalah kami di Pondok Salada, pemondokan kami, pukul 11.00. Kami langsung berbagi tim:tiga orang untuk membangun tenda, dua orang memasak.

Sensasi dingin luar biasa yang saya rasakan ketika bermalam di dalam tenda tidak akan pernah terlupa.

Cukup semalam kami bermalam di sana. Keesokan harinya setelah berkemas, kami pulang kembali ke Jakarta dengan rute yang sama seperti saat berangkat. Di Garut, tidak lupa kami menjajaki beberapa kuliner Garut di sepanjang jalan Siliwangi.

Sampai jumpa di perjalanan saya berikutnya!

Leave a Reply
<Modest Style