Modest Style

Fesyen Muslim yang Sadar Lingkungan

,

Inti dari Indonesia Fashion Week 2014 adalah menemukan visi yang pas untuk “fesyen Muslim”. Namun lebih dari itu, pergelaran yang akan segera menjadi kegiatan bisnis-untuk-bisnis tersebut juga akan menjadi pemimpin mode dunia, pemberhentian wajib bagi para pembeli dan media. Amal Awad melaporkan.

[Not a valid template]

Mudah saja menyebut Indonesia Fashion Week (IFW) sebuah parade festival bermerek. Namun dengan slogan “The Biggest Fashion Movement”, jelas bahwa di tahun ketiganya, pergelaran empat hari ini bukan sekadar festival fesyen biasa.

Otak acara ini, Dina Midiani, menekankan bahwa IFW adalah tentang perubahan – di dalamnya terdapat kesadaran terhadap lingkungan dan fokus pada pertumbuhan lokal. Komunitas, perdagangan, perekonomian, dan gaya Indonesia, semuanya terjaring dalam pernyataan misi IFW.

“Kami ingin menjadi pusat tren fesyen Muslim,” ungkap Dina, yang terinspirasi mengadakan IFW karena cita-cita Indonesia untuk menjadi pemain utama di panggung mode dunia.

“Indonesia ingin menjadi salah satu pusat fesyen [utama] di tahun 2025. Namun kami harus melakukan sesuatu karena kami tidak memiliki sebuah pergelaran internasional di sini. Dalam 10 tahum, kami ingin [acara ini] menjadi salah satu [acara] penting di Asia.”

Di 2020, IFW telah akan menjadi pusat fesyen Muslim, melihat dari besarnya populasi Muslim dan tingginya angka “desainer yang menciptakan fesyen Muslim yang sangat indah”.

Untuk saat ini, dengan menempati lebih dari tiga balai sidang utama yang besar dan melayani kebutuhan pembeli dunia, media, dan masyarakat, IFW adalah acara yang mengagumkan. Target utamanya adalah untuk menjadi kegiatan bisnis untuk bisnis, dengan tempat terpisah untuk umum. Namun Ibu Dina mengakui bahwa diperlukan dua tahun lagi untuk mencapai itu. Untuk sekarang, IFW memenuhi kebutuhan “seluruh peserta”.

Meski dengan adanya pengaruh dari bahan sarung dan batik sebagai ciri khas Indonesia, jelas terdapat upaya menjadikan Indonesia sebagai destinasi mode bercita rasa internasional. Ibu Dina menyebutkan bahwa mereka berniat mendesain ulang sarung batik agar dapat dipopulerkan melebihi fungsi biasa. Ia juga menekankan bahwa tujuannya bukanlah menjadikan Indonesia sebagai pengikut, namun sebagai pemimpin, terutama dalam bidang fesyen Muslim.

“Kami memiliki populasi Muslim terbesar di sini. Ada beragam gaya baru penggunaan baju Muslim yang diikuti oleh banyak orang di Indonesia – dari cara berhijab dan beragam banyak gaya [lainnya],” ujarnya.

Meski begitu, ia pun menyadari tantangan yang dihadapi fesyen Muslim – penuh gaya namun tetap santun. Muslim tidak boleh “pamer”, namun dengan kebangkitan fesyen Muslim di panggung peraga, Indonesia membangun sebuah industri yang istimewa namun tidak berlebihan.

“Fesyen Muslim sedang berkembang. Di Korea, semua orang ingin mengenakannya, namun mereka juga ingin tampil beda. Menarik, namun kami ingin menemukan formula,” ujarnya.

Menurutnya, keikutsertaan Timur Tengah dalam berbisnis dengan mereka mengharuskan fesyen Muslim “melakukan hal yang benar.”

“Apa arti fesyen Muslim?”

Sebagai permulaan, fesyen Muslim dapat diartikan membuat fesyen bentuk ekspresi yang mencerminkan kepribadian, namun tetap santun dan terhormat.

“Kami juga ingin membangun negara kami menjadi lebih kaya, dan kami berharap fesyen dapat memberikan kontribusi besar. Fesyen seringkali merupakan salah satu kontributor terbesar,” lanjutnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, IFW memiliki beberapa partner hebat yang membantu mewujudkan cita-cita mereka – dengan pendanaan dari tiga kementerian negara dan berbagai merek dagang, terdapat lebih dari cukup bahan bakar untuk meluncurkan IFW ke ketinggian dunia mode.

Perempuan Muslim dunia

IFW menawarkan beragam pendekatan mode. Meski ada satu hari yang didedikasikan untuk fesyen pakaian santun – dengan satu peragaan yang bahkan mempertunjukkan sayap malaikat hitam terbalik di atas kerudung – IFW bukan hanya tentang mode aneh dan mengejutkan. Hari ke-1, misalnya, memperlihatkan garis-garis bersih dan jelas pada koleksi Shades of Grey milik desainer kontemporer berbasis di Maroko, Said Mahrouf.

Karena besar di Amsterdam yang lebih liberal, Said memperlihatkan adanya pengaruh Eropa dalam rancangannya, namun tidak merasa hal tersebut bertentangan dengan “perempuan Muslim modern”.

“Saya merancang pakaian yang lebih menarik bagi orang-orang dari selatan – seluruh negara Mediterania. Koleksi saya sangat feminin dan elegan, dan bukan selera perempuan Belanda.”

Said telah menjadikan Casablanca rumahnya, sebuah keputusan yang disebutnya “pintar”, karena adanya kebangkitan fesyen tinggi di wilayah tersebut.

“Maroko sedang sangat berkembang saat ini dalam hal seni dan desain, serta pastinya dalam hal mode.”

Namun meski ia melayani kebutuhan perempuan dalam berbagai ukuran, bentuk, dan preferensi gaya, Said tidak merancang “fesyen etnik”.

Kami memiliki sangat banyak desainer tradisional di Maroko yang membuat rancangan tradisional, dan saya ingin menunjukkan sisi [lain] Maroko. Berapa banyak orang yang Anda temui mengenakan kaftan di jalan? Hampir tidak pernah. Ya, Anda menemui pengguna kaftan yang berkerudung. Namun itu hanya sebagian Muslim. Sebagian lain mempraktekkan agamanya secara berbeda.’

Said meyakini bahwa Maroko semakin liberal “dan berekspresi”.

“Di Maroko Anda mendapat lebih banyak privasi. Anda dapat mempraktekkan agama sebagaimana Anda mau, terutama dengan para perempuan sangat kaya seperti para klien saya. Ya, mereka Muslim, namun mereka tidak berkerudung. Keislaman mereka lebih merupakan sesuatu yang spiritual.”

Ia menyadari adanya pasar bagi fesyen Muslim mengingat besarnya populasi Muslim, namun tidak menganggap adanya kebutuhan untuk secara khusus merancang bagi pasar tersebut.

“Khususnya di Indonesia, saya belum melihat agama begitu diekspresikan dalam [cara berpakaian]… Saya juga mengalami ini di Maroko: orang-orang membeli produk tertentu; namun tidak selalu membeli keseluruhan setelan berdasarkan saran saya. Mereka akan membeli blazer dan mengkombinasikannya dengan pakaian mereka sendiri.”

Pendekatan yang dilakukannya lebih kepada padu padan dan bukan pembuatan koleksi khusus perempuan Muslim.

“Ya. Itulah intinya. Bagi saya, perempuan Muslim itu sangat modern. [Ia] tidak harus seseorang yang berkerudung. Saudari-saudari saya contohnya; mereka memiliki pengalaman yang sangat berbeda [dan] mereka mengenakan rancangan saya. Dan terutama di Maroko, saya melihat perempuan yang sangat modern, namun mereka Muslim dan sangat modern.”

Lebih jauh, sesuatu yang lain ditampilkan oleh rancangan Said – fokus pada femininitas dan kecantikan yang ditutupi.

“Shades of Grey adalah lini yang sangat tegas; meski terkadang sederhana, desainnya tetap arsitektural. Lini ini juga sangat fleksibel dan saya hanya ingin membuat perempuan tampil sangat elegan dan cantik. Itulah tujuan dari koleksi ini.”

Sejalan dengan fokus IFW untuk bersikap ramah lingkungan, Said juga mempromosikan penggunaan bahan alami. “Karena koleksi saya merupakan produk mewah, saya merasa harus menggunakan bahan mewah pula. Saya suka bekerja dengan sutra. Saya [banyak] menggunakan sutra karena sangat lembut, namun juga merupakan pakaian yang tidak akan Anda kenakan setiap hari.”

Mode yang penuh kesadaran

Sementara IFW menampilkan berbagai gaya fesyen dan patokan harga, kemewahan yang terjangkau tentu menjadi salah satunya. Sebut saja, misalnya, label lokal Toraja Melo, label yang menunjukkan kesadaran sosial dan lingkungan. Produknya mencakup pakaian sampai tas, semuanya adalah produk kerajinan tangan berkualitas yang dibuat menggunakan bahan hasil tenun alat tradisional dari Tana Toraja di Sulawesi Selatan.

Seorang nenek Toraja menenun menggunakan mesin tenun kayu (Photo: Toraja Melo)
Seorang nenek Toraja menenun menggunakan mesin tenun kayu (Photo: Toraja Melo)

“Ini merupakan cara tenun yang sangat tradisional. Proses penenunannya membutuhkan banyak waktu, antara satu sampai tiga pekan,” jelas Dinny Jusuf, perempuan yang memulai bisnisnya pada 2008. Di 2010, kakaknya Nina bergabung dengannya sebagai desainer.

Toraja Melo bermakna “Toraja cantik”, dan memanfaatkan karya sekitar 200 penenun. Perusahaan ini bertujuan membangun dan memperkaya masyarakat lokal dengan mempergunakan bahan mentah dan bakat setempat.

“Kami memiliki visi membuat para penenun memiliki hidup yang lebih baik. Namun dalam prosesnya kami juga ingin meremajakan warisan Indonesia yang mana adalah menenun,” ujar Dinny.

“Kami bekerja [dengan] masyarakat dan menciptakan produk berkualitas, namun kami mengerjakannya dengan penuh kasih” – dan melalui kerja sama dengan salah satu lembaga keuangan terbesar di Indonesia, BNI, Toraja Melo telah menerima status ramah lingkungan IFW.

Dengan produk tenun unik yang dibawanya ke pasar (saat ini Jakarta, Bali, dan Jepang, yang disebut Dinny sebagai patokan bagi seluruh dunia karena pengawasan mutunya), tidak ada yang terbuang. Sisa-sisa hasil tenun dipergunakan untuk sepatu, tas, dan aksesoris lain.

Desainer Trisa Melati menyebutkan bahwa bahan tenunnya dapat digunakan dalam berbagai cara.

“Secara otomatis ini mengurangi sampah, dan kami mengurangi penggunaan bahannya. Kami selalu berusaha untuk meminimalisasi sampah. Kami berusaha menggunakan setiap senti bahan yang ada.”

Sementara itu, para perempuan Toraja Melo menyatakan bahwa IFW bukan sekadar tentang fesyen Muslim. “Kami lebih tertarik membawa fesyen berbasis tradisi [dan] masyarakat Indonesia kepada dunia.”

Memang rancangan yang digunakan sangat didasari pada budaya, sebut Nina.

“Ini adalah motif kupu-kupu mabuk. Kami juga melihat metamorfosa dari proses para penenun muda dan kemudian memilih warna bersama. [Kami] benar-benar bekerja berdampingan dengan para penenun.”

Hadirnya kesadaran sosial begitu nyata – Toraja Melo adalah tentang membangun perekonomian Indonesia, meningkatkan penghidupan masyarakat lokal, dan bersikap ramah lingkungan.

“Menenun adalah langkah awal,” ujar Nina. “Pada akhirnya ini semua adalah tentang [para perempuan dan] kesejahteraan [mereka]… dan mereka juga mengurus keluarganya.”

Hal tersebut sejalan dengan keseluruhan visi IFW. Bagi Ibu Dina, terdapat penekanan lokalitas melalui aspirasi global.

“Kami ingin membuat semua orang bangga menjadi orang Indonesia,” ungkapnya. “Kami juga berharap Indonesia dapat menjadi inspirasi bagi dunia, karenanya kami memperhitungkan [kemajuan kami].”

Sedangkan mengenai pilar lainnya yang disebut Ibu Dina “green power”, ia menyatakan bahwa hal tersebut lebih dari sekadar pewarna alami dan fesyen berkelanjutan.

“Kami ingin setiap orang di Indonesia, khususnya Jakarta, mempertimbangkan perilaku hijau. Mode adalah sebuah pusat tren. Mode selalu bergerak maju, karenanya kami ingin orang-orang yang berkecimpung di dunia ini menginspirasi dan mencetuskan pemikiran mereka kepada orang lain tentang cara melakukan gerakan hijau dalam industri ini,” ujarnya.

“[Berperilaku] ‘hijau’ adalah sebuah semangat. Jika Anda peduli pada gerakan ini, [maka] itulah tren Anda.”

Leave a Reply
<Modest Style