Evolusi Mode Hijab

,

Hijab semakin mudah didapatkan, dalam beragam model, dan dianggap sebagai bentuk ekspresi seni. Amenakin menjelajahi sejarah hijab kontemporer.

Gambar: laman Facebook Pearl Daisy Ltd
Gambar: laman Facebook Pearl Daisy Ltd

Sepuluh tahun lalu, dengan satu kunjungan ke sebuah toko untuk membeli hijab Anda akan tahu Anda memiliki pilihan yang terbatas. Yang jelas kali pertama saya mengenakan hijab tujuh tahun yang lalu, satu-satunya tempat saya dapat menemukan kerudung yang saya sukai adalah toko-toko merek terkenal yang mahal. Dan meski toko-toko seperti ini penuh dengan warna dan ragam kerudung yang saya sukai, mereka tidak memiliki cukup banyak pilihan bahan yang cocok dijadikan kerudung.

Hasilnya, saya cenderung mengenakan kerudung yang besar dan berat atau yang berukuran sangat kecil dan ringan yang mengharuskan saya ekstra waspada kalau-kalau ada hembusan angin. Ini bukanlah absurditas yang disengaja, namun hal di atas menggambarkan bagaimana standar budaya kemungkinan membentuk cara penggunaan dan kerudung dalam masyarakat yang berbeda. Jika satu hijabi merasakan keinginan untuk mendapatkan hijab lebih kaya warna yang cocok dengan cara berpakaian Barat, maka tentunya ada lebih banyak lagi yang menginginkan hal yang sama.

Industri pakaian santun dan “mode hijab”, pada saat itu, sangat terbatas pada butik-butik Timur Tengah, dengan akses yang terbatas pada kebanyakan pembeli kelas atas di Barat. Adanya permintaan yang tinggi dari penonton laman Youtube – banyak di antaranya yang menjadi pelanggan pertama toko saya – mendorong saya mendirikan label sendiri, Pearl Daisy. Bahkan sebagai pengusaha baru, saya dengan cepat melihat tren dalam industri ini. Industri mode hijab akan berkembang – dengan cepat.

Pendirian dan perkembangan perusahaan saya sebenarnya bertepatan dengan lonjakan perkembangan secara umum dalam dunia mode hijab. Dunia media sosial meledak dengan mode hijab dan blogger yang menampilkan tatanan hijab baru, semua bersemangat mempertunjukkan cara pandang masing-masing tentang pakaian santun dan penutup kepala. Yang saya tangkap lebih dari sekadar kebutuhan adanya ragam penutup kepala – ini hanya catatan sampingan. Justru yang terlihat jelas adalah bahwa perempuan Muslim tidaklah seragam. Meski penggambaran yang umum pada masa itu adalah tentang perempuan Muslim standar dengan tampilan ala “Arab”, perkembangan menyeluruh dalam jumlah perempuan pengguna hijab di Barat bermakna bahwa tidak ada lagi satu citra yang dapat memukul rata penggambaran perempan Muslim.

Sepanjang sejarah adanya keragaman budaya, masyarakat Muslim telah mengekspresikan hijab (dan jenis pakaian lainnya) berdasarkan standar kepantasan budaya masing-masing. Dari gaya dupatta India sampai turban Afrika, penutup kepala telah tampil dalam berbagai bentuk. Tentunya, seiring pertumbuhan populasi Muslim di negara Barat, gaya hijab lainnya turut berevolusi di dalam lingkup masyarakat – tersebar, berevolusi, dan beradaptasi sesuai keinginan para pengguna yang tinggal di wilayah tersebut. Dari hijab bermotif macan tutul hingga bros mungil yang manis tersemat pada bahan yang lembut, kerudung tidak pernah diekspresikan seberagam ini sebelumnya.

Seringkali terdapat semacam keraguan dalam beberapa masyarakat Muslim, dan juga dari beberapa hijabi sendiri, untuk mengaitkan istilah “hijab” dengan “mode”. Mengenakan hijab, sederhananya, dilakukan atas perintah Tuhan dan karenanya merupakan sebuah tindakan suci. Bagaimana mungkin hal tersebut menjadi tindakan memenuhi tuntutan mode? Bagaimanapun, jika mode dipahami melalui penjelasan kamus yang berupa “tradisi atau gaya pakaian umum”, maka tidak dapat dipungkiri bahwa hijab tidak akan pernah dianggap modis, karena tidak akan pernah menjadi bagian dari industri mode arus utama (Barat). Mungkin hal ini akan berubah suatu hari nanti – wallahu’alam.

Di samping mungkin tidaknya hijab sebagai penutup kepala menjadi sebuah kelaziman di dunia Barat, hijab akan terus diadaptasi oleh perempuan Muslim yang sedang membangun identitas. Jika seni dipahami sebagai ekspresi, maka sangat mungkin berbagai gaya hijab dipandang oleh perempuan Muslim sebagai bentuk seni. Gagasan ini menginspirasi fotografer Sara Shamsavari, yang membuat buku London Veil setelah terinspirasi oleh kreativitas yang diperlihatkan oleh pengguna hijab yang ia temui di jalan-jalan kota London.[i]

Terlepas dari dirayakan dan diterima atau tidaknya hijab di dunia Barat, industri hijab akan terus maju seiring makin banyaknya perempuan – Muslim maupun non-Muslim – yang membuat keputusan penting untuk mempercantik diri mereka dengan hijab. Bagi mereka, kerudung dan pakaian santun berpadu dengan identitas mereka, dan mereka mengadaptasinya sambil turut mengalami perubahan juga.


[i] Homa Khaleeli, ‘Lifting the veil on London’s stylish hijab wearers’, The Guardian, 6 Mar 2013, tersedia di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik