‘Dosa asal’ mualaf: Maafkan saya Allah, karena telah berbuat dosa

,

Kehilangan pasangan hidup dan kebutuhan untuk berduka dari jarak jauh menunjukkan tidak memadainya pemahaman tentang kematian yang konvensional untuk Eren Cervantes-Altamirano.

2201-WP-Sin-by-Eren-iStock-sm
Gambar: iStock

Mungkin tidak masuk akal bagi saya untuk berpikiran bahwa Ramadhan akan pernah menjadi waktu untuk ketenangan dan refleksi. Sejak saat berislam, kesabaran saya, cinta saya untuk Islam, dan keimanan saya terus-menerus diuji. Terlepas dari perjuangan saya berada di tengah keluarga non-Muslim, perdamaian saya dengan identitas baru, dan tantangan untuk menempatkan diri di tengah komunitas Muslim arus utama, tahun ini saya memulai Ramadhan dengan kematian.

Menjelang bulan Ramadhan saat saya bersiap untuk berpuasa, saya kehilangan pasangan hidup saya karena kecelakaan mendadak. Ia berencana untuk berangkat dari Arab Saudi ke Kanada dan mengunjungi saya musim panas ini setelah Ramadhan. Kabar yang saya dapat sama-sama mengejutkan orang-orang yang mengenalnya – ia begitu muda, penuh semangat hidup dan mimpi.

Kejadian yang tak terduga tersebut tidak hanya menyadarkan akan kerapuhan hidup di dunia, namun juga memperlihatkan pada kita kualitas terbaik dan terburuk dan komunitas Muslim yang berada di sekitar kita. Kematian Saad adalah suatu hal yang perlu saya pikirkan dan pikirkan kembali dalam upaya memahaminya secara penuh. Saya tidak dapat mengatakan bahwa prosesnya sudah saya lalui. Namun kematiannya juga telah membuat saya mempertanyakan keberadaan saya di tengah umat Muslim sebagai mualaf, sebagai seorang wanita suku asli Meksiko, dan sebagai seorang “pendosa”.

Saya dibesarkan di lingkungan Katolik konservatif di mana pemahaman tentang “dosa asal” terus dijadikan bahan ceramah sebagaimana pembaptisan disarankan. Meski banyak umat Muslim yang menolak gagasan dosa bawaan sejak lahir, saya telah menemukan persamaan yang begitu nyata antara gagasan tentang dosa dan “terapi rasa bersalah” digunakan untuk orang-orang yang “tidak sesuai”. Anda memiliki dosa hubungan di luar nikah, dosa cinta LGBTQ, dosa tidak berbusana yang pantas, dan dosa menjadi wanita dengan kulit berwarna yang mempertanyakan dan mengkritisi pemahaman arus utama – antara lain.

Kematian Saad merupakan pengingat konstan “dosa-dosa” saya dan status yang tidak dapat saya penuhi di tengah komunitas Muslim arus utama di Kanada dan di luar negeri. Jam-jam selepas kecelakaan sangat sangat menegangkan: saya harus menerima kematian Saad, dan satu-satunya penghubung yang saya miliki dengan kejadian ini di Arab Saudi adalah seorang teman. Tidak ada kontak dari keluarga, tidak ada keterangan lebih lanjut.

Setelah tujuh tahun bersama, hubungan kami dinodai dengan ketiadaan upacara pernikahan yang layak dan ketiadaan penerimaan pihak keluarga. Saya tidak pernah cukup baik untuk mereka atau bahkan teman-teman dan kenalan Saad karena kewarganegaraan saya, warna kulit saya, dan latar belakang saya. Bagi kebanyakan mereka, dosa terbesar saya adalah “menggoda” pria Saudi sempurna yang dibesarkan secara konservatif.

Kematian dan rasa kehilangan pasangan hidup saya jalani dari jauh. Saya tidak memiliki hak untuk mengikuti prosesi dan saya masih tidak dianggap pantas untuk mendapat bantuan komunitas dalam melewati masa-masa ini. Meski begitu, saya dikaruniai sebuah keluarga yang, terlepas dari perbedaan yang ada dan perselisihan dalam masalah keagamaan yang kami miliki, mampu mengesampingkan semua itu untuk mendukung saya dan menghormati hidup seorang Muslim yang menganggap dirinya sebagai “seorang Sunni moderat”.

Berdasarkan tradisi tanah ibu saya di Meksiko selatan, foto Saad terpasang di ruang tamu bersama dengan bunga dan lilin yang dinyalakan setiap hari. Keluarga saya telah berusaha memandu “perjalanannya” dengan rerumputan manis sesuai dengan tradisi beberapa Negara Pertama di tanah di mana kami adalah pengunjung. Lagi-lagi meski begitu, mereka mengerti bahwa Saad pastinya ingin dihormati dengan cara Muslim.

Beberapa hari menjelang Ramadhan diisi dengan kemarahan dan air mata. Selain keluarga saya tidak diperbolehkan mengadakan upacara kematian macam apapun oleh para pemuka Muslim arus utama karena mereka bukan Muslim – karena tidak ada surat nikah atau hanya karena “itu bukan cara kami melakukannya” – saya juga diingatkan bahwa saya hanyalah sekadar angkastatistik dalam buku dakwah, yang akan terus mendapat dukungan yang minim oleh Islam institusional. Anda tahu, Islam institusional berbangga diri dalam menyatakan bahwa sekian banyak wanita masuk Islam (yang sebelumnya pernah saya bicarakan), namun sangat sedikit bantuan yang diberikan kepada para mualaf wanita seperti kami.

Setelah sekian tahun menjadi mualaf, saya menyadari bahwa saya bertanya-tanya mengapa saya dihukum? Apa karena saya dianggap sebagai seorang pezina? Apa karena saya dicurigai kurang Muslim? Atau apa karena saya tidak percaya bahwa pemahaman umum tentang kematian dan duka cita dapat membantu orang-orang yang ditinggalkan?

Seiring perjalanan saya berusaha mengenang Saad dengan cara yang bermakna baginya, saya menyadari bahwa banyak Muslim memiliki hubungan kurang baik dengan kematian. Banyak yang takut, abai, dan mengesampingkannya. Sebagian meyakini bahwa tanggung jawab pada almarhum berakhir dengan dimakamkannya tubuh dan ritual pemakaman yang seringkali tidak mengikutsertakan wanita dan non-Muslim. Pemahaman tentang kematian semacam ini bertentangan dengan pemahaman umum warga Meksiko tentang kehilangan dan kesedihan dan jelas mengacaukan pandangan suku asli tentang siklus hidup dan mati.

Tetap saja, di mata para pemuka Muslim di komunitas saya, alasan-alasan saya inging mengenang Saad tidak cukup baik. Saya terus-menerus diberitahu bahwa ini bid’ah, bahwa ini bukan Islam, dan bahwa saya melakukan tindakan berbahaya yang dapat berujung ke dosa besar. Pilihan yang ditawarkan pada saya adalah meninggalkan permasalahan ini dan “melanjutkan hidup”. Salah satu anggota keluarga seorang teman bahkan memberitahu saya saya: “Anda masih muda dan ada banyak pria di luar sana. Cari penggantinya.”

Namun di tengah-tengah keputusasaan lalu, saya dikaruniai bantuan jaringan Muslim yang lebih luas yang, di atas segalanya, meyakini bahwa Islam haruslah menjunjung cinta, dukungan, dan pemulihan. Saya ditawari bantuan bukan hanya oleh El-Tawhid Juma Circle, namun juga oleh Muslims for Progressive Values di Ottawa dan Edmonton. Keluarga saya disambut oleh Gereja Gabungan di Edmonton dalam sebuah upacara Muslim untuk mengenang Saad dan berupaya meringankan proses pemulihan keluarga. Tentu saja, sangat sedikit Muslim yang hadir di acara tersebut – karena takut dicap “pendosa”.

Setelah berhari-hari menerima skeptisisme dan disebut “pendosa”, saya tetap bertahan dan pada tengah bulan Ramadhan tidak lagi mempertanyakan keyakinan saya, maupun kejadian tragis yang berujung pada kematian Saad, namun justru mempertanyakan tujuan syahadat saya.

Apa artinya menjadi seorang Muslim mualaf jika setiap membutuhkan dukungan saya harus mengais-ngais mencarinya? Apa artinya menjadi “bagian dari” sebuah komunitas yang mempertanyakan etinisitas dan latar belakang ras saya, dan meragukan pengetahuan dan keimanan saya? Apa artinya menjadi seorang Muslim yang “baik” versus seorang “pendosa” seperti saya?

Pada akhirnya, sebagaimana kredo Katolik mengajarkan saya, saya rasa saya harus memulai setiap interaksi dengan mengucapkan: maafkan saya Allah, karena telah berbuat dosa…maafkan saya Muslim karena saya seorang pendosa.

Artikel ini pertama kali diterbitkan di blog penulis Identity Crisis

Leave a Reply
Aquila Klasik