Modest Style

Doa untuk keadilan dan perdamaian

,

Seiring dengan ramainya pembicaraan tentang konflik berkelanjutan di Palestina, Fatimah Jackson-Best berdoa untuk semua orang yang tertindas.

21-WP-Dua-by-Fatimah-iStock-sm
Gambar: iStock

Seperti kebanyakan orang, Ramadhan saya diselingi oleh gambar-gambar dan berita dari Palestina. Perasaan saya tentang konflik terbaru ini dimulai dari ketidakberdayaan hingga kemarahan dan kesedihan. Saya juga merasa bersalah karena mengetahui bahwa dalam jarak setengah lingkaran bumi, orang-orang kehilangan keluarga dan rumah mereka, sementara sehari-hari saya dihabiskan untuk menjalani kehidupan normal saya. Seperti kebanyakan orang, saya ingin melakukan sesuatu namun merasa tidak yakin bagaimana caranya memberi kontribusi yang bermakna.

Kemungkinan besar, sebagai hasil dari rasa tidak berdaya dan tidak menguasai keadaan, beberapa dari kita telah melakukan hal-hal penuh keputusasaan. Dengan gambar-gambar anak-anak dengan tubuh termutilasi dan gedung-gedung hancur dari Palestina terus-menerus bermunculan, maka bermunculan juga pesan-pesan dukungan terhadap Hitler yang (mungkin) dibuat oleh Muslim. Dengan perasaan terkejut, saya membaca Muslim memuji-muji seseorang yang dengan kejam membunuhi orang Yahudi pada masa Perang Dunia II. Saya telah melihat berbagai hal mulai dari ia dielu-elukan sebagai pahlawan hingga orang-orang yang menyayangkan bahwa ia tidak menyelesaikan pekerjaannya.

Sayangnya, ini bukanlah kali pertama pernyataan semacam ini telah dipergunakan sebagai tanggapan terhadap penjajahan berkelanjutan yang dialami oleh warga Palestina. Yang gagal diingat oleh orang-orang yang melakukan hal ini adalah bahwa Hitler tidak hanya membunuh kaum Yahudi, namun juga orang-orang ras campuran, orang-orang difabel, komunis, homoseksual, dan siapa pun yang dilihat sebagai ancaman terhadap pemahamannya atas kemurnian ras.

Hal ini tidaklah mengejutkan saat Anda menyadari kerja penjajahan – yang bisa jadi tidak membeda-bedakan dan pasti selalu merusak. Kalau saja Hitler mendapat kesempatan, umat Muslim pastinya akan dihabisi juga. Jadi kita sedang menipu diri sendir dengan berpikir bahwa entah bagaimana ia telah melakukan sesuatu yang baik bagi kita atau bagi warga Palestina maupun menguntungkan dunia dengan cara tertentu.

Saat kita menyaksikan kekerasan yang menimpa Palestina yang jelas memperlihatkan keburukan penjajahan, akan mudah berlindung di balik gagasan yang mengkhianati nilai kebenaran kita. Namun kita tidak boleh mematikan kompas moral kita dan membiarkan diri kita jatuh ke jurang terendah yang membahayakan. Hal in bukan sekadar pelanggaran terhadap hak orang lain namun juga terhadap hak diri kita sendiri.

Kita tidak boleh lupa bahwa salah satu pelajaran paling mendasar dari Islam adalah untuk mendukung yang benar dan melarang yang salah. Jika kita melihat adanya kesalahan, kita berkewajiban untuk berbicara dan bertindak untuk melawannya, namun kita tidak pernah bisa melawan yang salah dengan kesalahan lain. Tidak akan berhasil.

Jadi pada Ramadhan ini, doa saya diisi harapan berakhirnya penjajahan yang terjadi di mana-mana. Termasuk terhadap orang-orang yang terlihat dan tidak terlihat dalam masyarakat kita. Palestina, etnis Rohingya, Sudan, Mesir, Somalia, Irak, Mali, dan Afghanistan.

Saya mendoakan umat Muslim yang tinggal di negara-negara Barat, yang telah mengalami pengawasan seara tidak adil oleh pemerintah mereka, termasuk untuk mereka yang dihalang-halangi dalam menjalankan ibadah. Saya juga mengirimkan doa untuk penjajahan internal yang ditemukan dalam masyarakat kita dan ketidakadilan yang kita lakukan terhadap satu sama lain.

Entah dalam bentuk pemisahan aliran antara Sunni, Syiah, Ismailiyah, dan Muslim lainnya, kita harus berhenti melihat satu sama lain sebagai musuh. Penjajahan terhadap wanita dan kekerasan yang dilakukan terhadap mereka yang disahkan melalui pemaknaan Qur’an harus ditentang setiap hari. Dan diskriminasi terhadap Muslim atas dasar rasseksualitaskelasjender, etnisitas, dan bagian lain dari identitas kita harus dihentikan.

Tidak bisa lagi kita menyuarakan keadilan untuk bagian-bagian tertentu dalam masyarakat kita dan menutup mata terhadap bagian lainnya. Kita harus memahami bahwa penjajahan dalam bentuk apapun adalah ancaman terhadap kesejahteraan kita bersama, dan tidak satupun memiliki manfaat selain untuk memecah belah dan akhirnya menjatuhkan.

Salah satu pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari kejadian terbaru di Palestina adalah untuk mengingat bahwa sebagai manusia, kita semua bertanggung jawab atas satu sama lain, baik teman maupun orang asing. Kita bertanggung jawab atas Muslim lain namun juga atas umat Kristiani, Yahudi, Buddhis, dan orang-orang yang mungkin tidak mengikuti ajaran agama tertentu. Kita harus mulai memikirkan keadilan sebagai hak setiap orang dan bukan hanya sebagian orang. Setiap orang memiliki hak untuk hidup nyaman dan damai, dan kita tidak dapat membuat pengecualian tertentu terhadap gagasan ini.

Sebagaimana orang lain, saya tidak tahu apa yang akan terjadi di Palestina dan kapan orang-orang di sana akan melalui penderitaan yang mereka alami. Yang saya tahu adalah bahwa doa-doa dan tindakan-tindakan saya penting, begitu pula dengan doa dan tindakan orang lain. Jika dilakukan dengan cara yang benar, hal ini dapat meningkatkan kesadaran pribadi dan sosial kita secara terus-menerus di bulan Ramadhan dan seterusnya.

Leave a Reply
<Modest Style