Modest Style

Di Balik Warna Kulit

,

Berapa banyak dari kita yang menganut gagasan bahwa kulit yang terang yang lebih cantik dari kulit yang lebih gelap? Fatimah Jackson-Best mengeksplorasi akar ‘rasisme’ ini .

Image: Photl
Image: Photl

Usia SD adalah masa pembentukan diri dalam kehidupan sebagian besar anak-anak. Bagi banyak anak, sekolah dasar menjadi saat interaksi pertama dengan orang-orang di luar keluarga mereka, dan melalui hubungan inilah mereka mulai memahami perbedaan. Saya ingat menjadi salah satu dari sedikit muslim berkulit hitam keturunan Karibia di sekolah Islam, dan menyadari bahwa saya berbeda dari teman-teman yang berasal dari Asia Tenggara dan Arab. Dari makanan yang kami makan di rumah sampai cara kami berbicara, kenyataan kami tidak sama.

Selain perbedaan budaya dan etnis, saya juga menyadari bahwa siswa yang warna kulitnya sama seperti saya tidak persis seperti saya juga. Meskipun kami semua memiliki variasi kulit cokelat, anak laki-laki dan perempuan Sudan, Somalia, dan Kenya di sekolah saya berasal dari budaya yang berbeda dari saya.

Mereka yang berkulit lebih terang dipandang lebih cantik dan menarik.

Seiring dengan bertambahnya usia, saya mulai mendengar tentang hal-hal lain. Orang-orang berbicara tentang warna kulit sebagai ukuran kecantikan, dan bahwa seorang wanita yang berkulit sangat gelap tidak memiliki daya tarik yang sama dengan wanita yang berkulit lebih terang. Sebagai orang dewasa, saya jadi paham bahwa ini disebut diskriminasi warna kulit atau istilah yang lebih populer baru-baru ini: shadeism. Kedua istilah ini menggambarkan kulit terang lebih disukai dibanding kulit yang berwarna gelap dan mereka yang berkulit lebih terang dipandang sebagai lebih cantik dan diinginkan. Saya juga jadi tahu bahwa ini bukanlah fenomena khusus yang hanya terjadi pada orang berkulit hitam, tapi merupakan masalah yang dihadapi banyak orang di seluruh dunia.

Orang-orang dari berbagai budaya, ras, dan etnis dapat dijejali gagasan tentang kecantikan yang menjadikan kulit terang sebagai standar dan merendahkan warna kulit lainnya. Beberapa bukti yang paling mencolok untuk hal ini adalah adanya berbagai merek krim dan sabun pencerah kulit; diiklankan di majalah dan tersedia di toko-toko di seluruh dunia. Sebagai contoh, di sini, di Barbados, sebuah negara mayoritas kulit hitam, Anda dapat membeli sayuran kalengan di salah satu lorong supermarket dan di lorong lainnya, krim pemutih atau ‘pencerah’ kulit dari India, Cina, atau Amerika Serikat.

Fenomena ini berperan dalam ketidakpuasan perempuan sambil menggunakan rasisme untuk mendorong produk perusahaan

Ramuan beracun ini merusak kulit wanita sekaligus harga dirinya dengan menjual gagasan bahwa kulit terang adalah yang paling indah, dan pasti lebih diinginkan daripada warna kulit yang ia bawa dari lahir. Untuk wanita yang kerasukan ide-ide ini, produk-produk pemutih kulit dapat menjadi cara yang relatif mudah untuk memenuhi dambaan mereka akan kulit yang terang dan cantik. Untuk alasan ini, produk pencerah kulit membentuk salah satu segmen paling buruk dari pasar kecantikan dan keberadaan mereka hanya memperdalam masalah harga diri sekaligus memanfaatkan ketidakpuasan perempuan.

Tetapi kenyataannya adalah kaum perempuan membeli produk-produk ini. Ketika menghabiskan musim panas di Jamaika beberapa tahun yang lalu, saya melihat para perempuan yang tidak mau ke luar tanpa payung. Setelah melihat lebih dekat, saya menyaksikan kulit mereka putih bak kapur dan penampilan mereka pucat pasi. Saya menyadari bahwa mereka adalah wanita yang menggunakan produk yang keras untuk mencerahkan kulit, dan karena itu mereka tidak bisa terkena sinar matahari langsung karena takut kulitnya rusak oleh sinar matahari. Setiap kali saya melihat salah satu wanita itu, saya bertanya-tanya mengapa dia berpikir bahwa warna kulit alaminya tak seindah kulitnya yang sekarang. Tidak masuk akal bahwa seorang wanita rela melakukan hal itu hanya untuk tidak dapat berjalan di siang hari dan kehilangan kilau alami kulitnya.

Mendengar tentang wanita yang ikut-ikutan mencerahkan kulit di seluruh dunia ini sungguh menyedihkan, karena fenomena ini berperan dalam ketidakpuasan perempuan sekaligus menggunakan rasisme untuk mendorong produk perusahaan. Tujuan mencerahkan kulit seseorang dapat dibilang hanya masalah estetika, tetapi juga dibangun di atas gagasan bahwa kulit putih atau sedekat mungkin ke putih adalah lebih baik daripada menjadi diri kita yang sebenarnya.

Kenyataannya adalah tidak ada yang lebih baik daripada menerima diri sendiri dan melawan norma-norma sosial yang merusak fisik dan emosional. Mungkin kalau wanita benar-benar meresapi hal ini, produk pencerah kulit akan menghilang dari toko, majalah, dan kesadaran kita.

Untuk informasi lebih lanjut tentang shadeism, tontonlah film pendek oleh Nayani Thiyagarajah di sini.

Leave a Reply
<Modest Style