Di balik cemoohan hijab “punuk unta”

,

Merendahkan anak muda Muslim tidak akan membantu menciptakan generasi yang percaya diri, menurut SyaTaha.

Young muslim woman with pink costume wearing hijab
Apakah ia Muslimah shalihah atau pengguna sanggul hijab yang haram? (Gambar: Fotolia)

Beberapa tahun yang lalu, saya mengobrol dengan seorang teman kampus di asramanya. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga Muslim Afrika Timur, tetapi ia tidak berjilbab dan saya kurang mengetahui didikan agamanya. Kami kebetulan menyebut nama seorang teman berjilbab dari Arab, dan menyebutkan bahwa ia bersanggul di belakang kepala (yang saya pikir adalah kuncir). Namun lalu teman saya berucap, “Itu haram.”

Merasa bingung, saya pulang ke rumah dan melakukan pencarian tentang “hijab”, “sanggul” dan “haram”. Saya belum pernah mendengar hukum ini dari ustadz mana pun (dan saya kenal cukup banyak ustadz) pada 20 tahun terakhir. Saat berjilbab dulu, gulungan kuncir rambut saya berguna untuk tempat jepit rambut yang menahan kerudung saya tetap di tempat. Atau mungkin masalah sanggul ini bukan masalah besar di daerah asal saya, Asia Tenggara?

Internet penuh dengan hal-hal menakjubkan. Saya kemudian menemukan video panduan mode cara mengenakan jilbab gaya Arab Khaleeji, gambar perempuan yang wajahnya dikaburkan menggunakan Microsoft Paint dengan panah mengarah ke sanggul tercela, dan peringatan keras untuk Muslimah yang belum tahu seperti saya. Dan saya menemukan hadits yang sepertinya menjadi rujukan aturan ini: perempuan yang kepalanya seperti punuk unta “tidak akan masuk surga dan mencium aromanya”[i]

Mari kesampingkan dahulu argumen bahwa Abu Hurairah bukanlah perawi hadits yang paling terpercaya, dan banyak dari 5.300 hadits yang ia ingat selama tiga tahun mengiringi Rasul adalah hadits paling misoginis yang ada dari keempat mazhab Sunni.[ii]

Saat saya berjilbab di Singapura, sanggul di belakang kepala itu lumrah. Sekarang, banyak perempuan muda menggunakan ikat rambut atau jepit besar menyerupai bunga agar sanggulnya tampak berisi. Pengantin yang menggunakan baju “Arab” juga kerap mengenakan jilbab yang hiasannya mirip sanggul. Di Turki misalnya, banyak perempuan berjilbab yang tidak ikut-ikutan berbagai gaya hijab terbaru; gaya paling populer untuk jangka waktu yang lama adalah kerudung sutra warna-warni yang dililitkan di leher dan – ya – sanggul di belakang. Di daerah Teluk di mana sanggul besar menjadi tren, kaum perempuan mengenakannya sebagai pernyataan fesyen.

Sama seperti dalam fenomena “jilboobs” di mana perempuan direndahkan karena tidak mengenakan pakaian yang “pantas” menurut sang pendakwa, mencari-cari kesalahan dalam berpakaian adalah salah satu karakteristik patriarki. Dalam patriarki agama, rasa malu dimanfaatkan dengan sangat baik. Khususnya dalam urusan jilbab, selalu ada alasan untuk mengolok-olok perempuan untuk membuat mereka mengganti gaya berpakaian; apa yang mereka kenakan sepertinya tidak pernah cukup baik.

Perempuan yang berpakaian sopan di jalan bisa disuruh mengenakan hijab; Seorang yang mengenakan hijab diperingatkan bahwa pakaiannya terlalu berwarna atau mencolok atau rambut mereka terlihat; Seorang yang bercadar dianggap menggoda dengan matanya; dan pada akhirnya perempuan yang benar-benar menutup aurat di tempat umum dianggap menyebabkan fitnah atau kekacauan hanya semata-mata karena keberadaannya. Setidaknya sekali selama hidup saya, saya sudah pernah mendengar semua alasan untuk berhijab ini.

Meskipun saya akan membesarkan anak saya untuk mengikuti hati nuraninya dan bertanggung jawab atas tindakannya, saya juga percaya bahwa perlakuan orang lain terhadap kita memiliki peran terhadap bagaimana kita melihat diri sendiri. Jika kita terus diberitahu bahwa cara berpakaian kita adalah dosa, kemungkinan kita lalu akan menganggap diri kita sendiri bukan siapa-siapa. Ketika kita berbicara melawan ketidakadilan dan diberitahu bahwa poin kita tidak valid karena kita belum menghabiskan waktu X tahun di universitas Y, maka kita akan berpikir bahwa kita adalah orang yang gagal.

Para perempuan muda Muslim yang membuat tutorial fesyen sering mendapat teguran bahwa makeup dan gaya hijab mereka tidak Islami, sementara para pria mudanya merasa depresi karena memiliki tato. Alih-alih menuding kesalahan orang lain, mari kita berfokus kepada sisi baik satu sama lain. Bagaimana kita dapat membesarkan umat Muslim yang kuat dan percaya diri jika keputusan mereka selalu dipatahkan?

________________________________________

[i] Diriwayatkanoleh Abu Hurairah, dalam Riyadush Shalihin, di sini
[ii] Raja Rhouni, Secular and Islamic Feminist Critiques in the Work of Fatima Mernissi, hlmn. 220, di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik