Modest Style

Dari sarjana komputer menjadi pekerja kebun kelapa sawit

,

Apapun pekerjaan yang kita lakukan, lakukanlah dengan sepenuh hati, tulis Cahya Meythasari.

[Not a valid template]

Seperti banyak lulusan universitas lainnya, setelah lulus kuliah dengan gelar sarjana komputer, saya dulu mengajukan lamaran ke sana kemari. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah kerja magang di sebuah perusahaan konsultan kehutanan sejak semester terakhir. Tetapi dikarenakan lokasi kantor yang sangat jauh di Bogor sedangkan rumah saya di Jakarta, terkadang rasanya lelah melakukan perjalanan bolak-balik Jakarta-Bogor. Terlebih lagi, fasilitas dan kondisi kereta api commuter line waktu itu belum sebagus dan senyaman saat ini.

Akhirnya saya dipanggil untuk wawancara di beberapa tempat. Berbekal doa, shalat istikharah dan restu orang tua, saya memilih menjalani proses seleksi di salah satu perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Banyak yang bertanya-tanya soal pilihan saya: mengapa tidak sesuai dengan minat dan gelar saya, atau berpendapat bahwa bekerja di kebun kurang sesuai dengan jenis kelamin saya sebagai perempuan. Tetapi saya pikir, mengapa tidak? Di situlah terletak tantangannya.

Setelah proses seleksi yang cukup lama, dua bulan kemudian saya diterima bekerja di perusahaan tersebut sebagai Business Controller. Alhamdulillah! Lingkup pekerjaan saya hampir mirip dengan audit internal; departemen saya bertugas mengontrol agar sistem perusahaan berjalan sesuai dengan standar.

Saya bekerja di kantor pusat yang terletak di Jakarta. Tetapi “dapur” perusahaan ini terdiri dari kebun dan pabrik seluas 100.000 hektar di Kalimantan. Personil departemen kami secara berkala melakukan kunjungan secara bergantian ke beberapa kebun dan pabrik tersebut.

Setelah beberapa bulan bekerja, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi kebun dan pabrik perusahaan. Senang bukan kepayang karena inilah pengalaman pertama saya mengunjungi kebun: bekerja sambil berwisata ke tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sungguh exciting!

Di hari yang dinanti-nantikan itu, saya didampingi atasan saya berkunjung di salah satu kebun dan pabrik perusahaan kami yang terletak di Palangkaraya. Adrenalin dan rasa ingin tahu saya makin bertambah ketika setelah dua jam perjalanan dengan pesawat kami tiba di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya. Bandara ini tidak terlalu besar namun cukup bersih terawat.

Kami dijemput dengan kendaraan kebun, sebuah mobil Ford besar yang belum pernah saya kendarai sebelumnya. Di lapangan parkir bandara, berderet mobil jenis ini. Beginilah ciri kota terpencil yang memiliki banyak perkebunan dan pertambangan, karena hanya mobil besar seperti ini saja yang dapat melalui medan yang lumayan berat tanpa jalan beraspal.

Kami sempat mampir ke tempat makan khas Palangkaraya yang menyajikan berbagai sajian ikan laut, udang, cumi, kepiting dan – syukurnya – ayam (sayang sekali saya tidak bisa makan ikan!).

Setelah perut kenyang, kami menyempatkan diri untuk shalat di Masjid Raya Nurul Islam yang cukup besar di pinggir jalan. Setelah menjamak shalat Zuhur dengan Asar, saya sempatkan berkeliling masjid sebentar. Masjid tersebut dihiasi dengan ornamen tradisional dan tempat wudunya didesain sedemikian rupa sehingga mengharuskan kita untuk melakukan wudu sambil duduk. Unik!

Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Ternyata untuk mencapai kebun, kami harus menempuh perjalanan empat hingga lima jam – saya bahkan sempat mabuk darat selama perjalanan ini!

Beberapa jam kemudian kami akhirnya memasuki area perkebunan. Pemandangan di kanan dan kiri kami semuanya kelapa sawit. Setelah berputar-putar di kebun selama satu jam, tibalah kami di mess. Mess kami ternyata dilengkapi ruang olahraga, ruangan rapat, bersih, wangi dan tidak kalah dengan hotel berbintang. Tercoretlah satu ketakutan di kepala saya sebelum berangkat. Kamar mess di tengah hutan ternyata tidak harus seram seperti yang biasanya ditampilkan di film-film horor. Setelah membersihkan diri dan shalat saya pun merebahkan tubuh ke kasur untuk beristirahat. Sungguh perjalanan yang melelahkan tetapi membuka wawasan.

Matahari yang terbit keesokan paginya memanggil kami untuk segera  beraktivitas. Setelah sarapan kami pun bergegas ke area kerja.

Ternyata, jam kerja di kebun tidak seperti jam kerja di kantor pusat. Pukul lima pagi, para karyawan dan pemanen sawit sudah berkumpul berbaris untuk menghadiri briefing. Ada keunikan lain yang saya amati: hampir semua pemanen wanita menggunakan bedak di bagian pipi dan dahi yang sangat tebal seperti tepung. Dengan tertawa atasan saya menjelaskan bahwa yang mereka ulaskan itu adalah bedak dingin agar kulit mereka tidak terbakar panas matahari. Saya tersenyum mendengarnya, buat saya cukuplah menggunakan tabir matahari (sunblock) saja.

Pekerjaan memanen sawit pun dimulai. Untuk mengamati dan mengontrol pekerjaan mereka, kami berbagi tugas untuk mengikuti pemeriksa buah secara acak. Saya waktu itu mengikuti seorang pemeriksa wanita asal Lombok bernama Elizabeth. Tanpa kenal lelah, ia mengecek buah dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak ratusan meter. Saya hampir saja menyerah mengikutinya. Minum saya nyaris hampir habis dan saya kelelahan luar biasa. Sungguh hebat Elizabeth melalukan tugas ini setiap hari.

Di hari-hari berikutnya, kami mengecek sarana dan fasilitas kantor serta pabrik. Sekali lagi, saya salut dengan para pekerja pabrik yang setiap hari selama 24 jam bekerja bergantian untuk memastikan semua mesin berjalan dengan baik dengan kondisi panas dan bau menyengat di dalam pabrik. Meskipun perusahaan menyediakan beragam fasilitas – mulai dari tempat ibadah, pasar, rumah sakit, sekolah, tempat penitipan anak, rumah, listrik, tempat wisata alam hingga kendaraan pribadi – tetap saja lokasi ini terasa terpencil, sangat jauh dari keramaian kota.

Akhirnya seminggu sudah saya berada di kebun. Banyak yang saya pelajari dari perjalanan ini. Bukan hanya pelajaran tentang proses bisnis perusahaan kelapa sawit, namun juga tentang hidup secara keseluruhan. Saya merasa telah diajari untuk bersyukur, karena  ternyata masih banyak orang yang pekerjaannya lebih berat dari pekerjaan saya selama ini. Selain itu, saya bersyukur atas segala kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya – termasuk kesempatan untuk menikmati menjadi seorang pekerja lapangan.

Leave a Reply
<Modest Style