Modest Style

Cobalah Sesekali Berjalan Dalam Sepatu Mereka

,

Setiap orang bisa jadi tidak seperti kelihatannya, tulis Sya Taha.

 

3002-WP-Sya-Walk-SXC

 

Sadar atau tidak, sengaja atau tidak, kita biasanya menilai orang berdasarkan tampang atau cara berbicara mereka. Butuh perjuangan besar untuk meninggalkan kebiasaan ini dan mendidik diri sendiri supaya sadar bahwa meski seseorang mungkin tampil dalam cara tertentu, kepribadian mereka bisa jadi sangat berbeda.

Dan tahukah Anda? Hal itu sangat normal. Menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya memainkan peran besar dalam cara kita untuk memutuskan tindakan selanjutnya demi keselamatan diri sendiri: amankan orang ini jika didekati, atau apakah kita sebaiknya menghindar saja?

Tetapi saya hanya bisa berpendapat untuk diri sendiri. Meski barangkali saya tidak bermaksud jahat dalam menilai seseorang, penilaian saya dapat menimbulkan konsekuensi yang nyata bagi harga dirinya. Saya punya pengalaman paling menyiksa saat dihadapkan dengan banyak orang dari berbagai tingkat keterbatasan fisik dan mental.

Kakak perempuan saya, Syiqah, bepergian dengan kursi roda karena memiliki masalah tulang belakang yang menyebabkan kelumpuhan dan pengecilan otot (spinal muscular atrophy). Semasa kecil, saat dia dan saya mengikuti kelas agama, masjid yang kami datangi tidak bisa diakses oleh pemakai kursi roda. Setiap minggu, kami harus mengumpulkan dua atau tiga pemuda untuk menggotong kursi rodanya menuruni tiga anak tangga besar ke dekat ruang kelas berada, sebelum mengatur ulang panel dinding supaya dia bisa masuk ke dalam kelas. Proses ini diulang setelah pelajaran berakhir. Terima kasih banyak kepada pemuda-pemuda itu, namun terkadang saya berharap kami tidak harus memasuki kelas dengan cara seheboh itu setiap hari Minggu.

Bagi saya, kakak hanyalah manusia normal sebab kami tumbuh besar bersama dan saya tahu apa yang disukainya. Dia mungkin tidak bisa berjalan atau melakukan banyak hal yang dianggap biasa saja oleh orang dengan fisik sempurna. Tetapi dia sangat cerdas, pekerja keras, dan jauh lebih berprestasi dengan cara ini. Dan omong-omong, dia adalah atlet Paralimpiade yang mewakili Singapura untuk cabang olahraga Boccia.

Tahun 2010, tak disangka-sangka saya ditugaskan sebagai asisten olahraga dan pendampingnya untuk sebuah pertandingan internasional di Eropa. Asistennya yang biasa bermasalah dengan visa dan dua minggu sebelum tanggal pertandingan, kakak meminta saya untuk menggantikannya. Saya pikir saya hanya akan melakukan apa yang diperintahkannya. Saya tidak mengira pengalaman itu akan mengubah cara saya dalam memandang dunia.

Boccia merupakan pertandingan lempar bola yang dimainkan peserta tunggal atau berkelompok tanpa melihat jenis kelamin. Tujuannya adalah mencetak angka tertinggi dari setiap bola peserta yang paling dekat dengan bola target putih (the jack). Di akhir babak keempat, bola yang berada paling dekat dengan the jack menentukan jumlah poin dan dengan begitu dinyatakan sebagai pemenang.

Cabang olahraga ini terdiri dari empat kategori. Dua kategori pertama diikuti atlet dengan kelumpuhan otak (cerebral palsy). Dua kategori terakhir diikuti atlet dengan kondisi berbeda-beda yang menyebabkan keterbatasan dalam mengendalikan tubuh bagian atas—seperti distrofi otot (muscular dystrophy) atau atrofi otot spinal (spinal muscular atrophy). Sebelum bertanding, para peserta diklasifikasikan ke dalam salah satu dari keempat kategori tadi berdasarkan kemampuan mereka untuk melempar atau menangkap bola-bola dari kulit lembut.

Sebelum menjadi asisten kakak, saya belum pernah bertemu satu pun penyandang cerebral palsy. Saya juga tidak pernah menyadari betapa bervariasinya kondisi ini. Sebagai contoh, walau ada atlet di kelompok kami bisa bicara (dan sering minta maaf jika tidak sengaja menyakiti kami saat tiba-tiba mengalami kejang lengan atau tungkai), banyak peserta kompetisi lainnya menggunakan bahasa isyarat tertentu, yang hanya dimengerti oleh orang-orang terdekat mereka.

Media sering membawa pengaruh terbesar pada cara kita dalam memahami orang dengan keterbatasan. Contohnya, sejumlah sitkom televisi di Singapura yang menyertakan karakter dengan keterbelakangan mental biasanya memasang aktor untuk meniru kejang otot dan beberapa gerakan yang mirip cerebral palsy. Meski demikian, kondisi ini sangat bervariasi; banyak pengidapnya berfungsi dengan sangat baik, dan dengan fasilitas yang tepat, mereka mampu menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Sayangnya, banyak orang juga cenderung mengasumsikan orang dengan keterbatasan fisik sudah pasti memiliki keterbatasan mental. Misalnya, banyak orang yang berbicara dengan kakak saya seolah-olah dia tidak mengerti bahasa Inggris, seolah-olah perkembangan kognitifnya terhambat, atau seolah-olah dia bahkan tidak ada di sana.

Selama pertandingan itu, saya teringat kepada seorang peserta yang spesial—remaja laki-laki dari Kolombia bernama Ferney. Dia murah senyum tapi kesulitan mengendalikan gerakan tubuh dan mengucapkan kata-kata dengan jelas. Kami bertemu ketika kakak saya bertanding melawannya, dan komunikasi paling sukses yang berhasil saya lakukan adalah dengan bahasa Spanyol saya yang terpatah-patah melalui asisten olahraganya, wanita muda bernama Deisy.

Saya menambahkannya sebagai teman di Facebook dan di sanalah saya berhasil berkomunikasi dengannya untuk pertama kalinya. Walau dia menggunakan bahasa isyarat secara hati-hati dengan pelatihnya, dia juga bisa mengetik di keyboard khusus (hambatan komunikasi kami lalu beralih pada kemampuan bahasa Inggris saya yang minim). Dengan bantuan keyboard (dan Google Translate untuk saya), kami pun dapat bercakap-cakap di chat Facebook!

Saya sadar, hanya karena tanpa sadar saya telah memutuskan untuk tidak bisa berkomunikasi dengan pasien cerebral palsy, saya nyaris terhalang untuk mengenal kepribadian Ferney. Seandainya saya tidak menambahkannya sebagai teman di Facebook, saya tidak akan pernah tahu dia pelajar berprestasi di sekolah.

Di buku To Kill a Mockingbird karya Harper Lee, pengacara Atticus Finch membahas pentingnya melihat segala sesuatu dari perspektif orang lain: ‘You never really understand a person until you consider things from his point of viewUntil you climb inside of his skin and walk around in it’. (Anda tidak akan memahami seseorang sepenuhnya sampai Anda melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… sampai Anda merasuk ke dalam kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya)

Saya pernah bertanya pada kakak apa rasanya menjadi dirinya. Dia bilang, meski dia tahu kemampuannya terbatas, dia tidak merasa terbatasi karena dia dilahirkan dengan kondisi tersebut. Baginya, menanyakan apakah dia ingin berjalan ibarat menanyakan apakah kita ingin terbang.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan diri kita untuk tanpa sadar menilai seseorang, apakah atas dasar kursi roda mereka, tato mereka atau kerudung mereka (atau tidak berkerudungnya mereka). Tapi marilah kita keluar dari zona nyaman dan memahami semua manusia sama di mata Tuhan, dan satu-satunya penilaian sejati atas diri kita adalah tingkat ketakwaan kita (49:13)—sesuatu yang hanya dapat diputuskan oleh Tuhan.

Artikel ini berdasarkan tulisan di blog penulis.

 

 

Leave a Reply
<Modest Style