Mengenal cendekia: Suhaib Webb, mantan berandal hip-hop

,

Satu dekade belakangan, imam yang berbasis di Boston ini telah menjadi seorang tokoh berpengaruh di kalangan pemuda Muslim. Oleh Omar Shahid.

WP-Webb-by-Omar-02-sm
Foto Suhaib Webb oleh Umar Nasir/Flickr

William Webb, seorang DJ, anggota geng, perokok mariyuana, dengan rambut pirang, mata biru dan tinggi 1,9 m, bukanlah pilihan utama sebagai salah seorang imam ternama Amerika. Namun, masa lalunya yang tidak bisa dibilang baik menjadi bahasan menarik dalam ceramahnya untuk pemuda-pemudi Muslim yang merasa akrab dengan hidup Imam Suhaib William Webb.

Imam Webb, satu di antara 500 Muslim paling berpengaruh di dunia menurut sebuah lembaga penelitian Yordania, menjadikan Islam relevan dan keren untuk pemuda Muslim. Ia memenuhi ceramah-ceramahnya dengan sebanyak mungkin acuan terhadap budaya pop sebagaimana ia menggunakan acuan teks-teks Islami – dan perpaduan modernitas dengan tradisi inilah yang meningkatkan daya tariknya. Tahun lalu, ia bahkan menyampaikan khutbah tentang sebuah episode drama televisi Amerika populer Breaking Bad di Islamic Society of Boston Culture Centre (ISBCC). Di dalam khutbahnya, dengan teliti ia menganalisis dan membedah tema-tema yang terdapat di dalam episode tersebut, dan mengaitkannya ke cara pandang Islam. Awal tahun ini, ia menyampaikan khutbah tentang film Hollywood Noah. Ceramah-ceramah semacam inilah yang memberinya status selebriti satu dekade belakangan ini di antara pemuda Muslim di seluruh dunia.

Sebagai imam ISBCC, ia dikenal karena menyebarkan apa yang disebut sebagai “Islam moderat”. Di media sosial, ia rutin menyuarakan kecaman tehadap apa yang ia sebut sebagai “nut jobs” (orang gila) atau ekstremis di antara umat Muslim, dan baru-baru ini menyarankan umat Muslim mengumpulkan posting oleh orang-orang yang mendukung terorisme dan menyalinnya ke sebuah laman Facebook berjudul Muslims Policing Their Own (Muslim Mengawasi Umat Sendiri), agar para umat Muslim bisa mengetahui siapa mereka. Bahkan, sebuah dokumen yang bocor pada tahun 2004 di Sunday Times memperlihatkan bahwa Imam Webb adalah satu di antara ulama yang oleh pemerintah Inggris ingin dijadikan duta dari – menggunakan istilah tadi – Islam moderat.[i]

Sempat terlibat dalam budaya hip-hop, Imam Webb meninggalkan dunia musik tersebut dan menjadi mualaf di tahun 1992 pada usia 20 tahun, setelah mempelajari Islam selama beberapa tahun. Hal tersebut ia lakukan sebagian karena terdorong oleh legenda dan seniman hip-hop yang membumbui lirik mereka dengan acuan Islami: Chuck D, Rakim, dan KRS-One, yang ia sebut sebagai “guru-guru pertama”-nya.

Qur’an juga memiliki dampak dramatis pada keyakinannya. Ia ingat membaca terjemahan bahasa Inggris Qur’an di toilet rumah – agar ibunya, seorang Kristen taat, tidak tahu. Memeluk Islam bukanlah hal yang diinginkan keluarganya: ia lahir di keluarga Kristen kelas menengah di Oklahoma pada tahun 1972, di mana kakeknya menjadi penceramah. Namun setelah sebuah krisis spiritual, satu masa yang diisi rasa “kosong”, dan serangkaian kegiatan geng yang berujung pada hukuman satu pekan penjara dan keterlibatan dalam penembakan dari mobil bergerak, ia akhirnya memeluk Islam.

Selanjutnya ia menghabiskan 10 tahun untuk belajar pada seorang ulama Senegal. Dan terlepas dari menyebut dirinya sendiri “malas”, ia mulai menghafal Qur’an yang belakangan dihafalnya secara penuh di Arab Saudi. Ia belajar di Al-Azhar University yang prestisius di Mesir antara tahun 2004-2010 – disponsori oleh Masyarakat Muslim Amerika dalam upaya membina pemimpin untuk menangani krisis umat Muslim modern yang tinggal di Barat. Ia juga belajar di Kuwait, Qatar, Yordania, dan Malaysia. Kini, ia sudah menikah dan memiliki dua anak.

Meski masih populer di kalangan umat Muslim – terutama di Malaysia, di mana ia memandu acara TV dan radio mingguan – dukungan yang diterimanya menyusut belakangan ini. Ia kini banyak dituduh bersikap terlalu liberal dan tidak memiliki pandangan pasti secara teologis. Ia juga dituduh mendukung Presiden Obama, tokoh yang tidak terlalu populer di kalangan umat Muslim, dan mengubah pendiriannya yang dulunya tidak bersahabat terhadap homoseksualitas dan pernikahan sesama jenis. Kedua tuduhan telah disangkal dan ditanggapi dengan tegas olehnya di laman Facebook.

Yang juga adalah bagian dari daya tariknya adalah sikap santainya, kerendahan hatinya, dan mungkin – yang akan disebut oleh orang muda – “sikap apa adanya”. Omar Offendum, seorang seniman hip-hop Amerika Suriah berkata pada saya: “Iman Suhaid Webb adalah salah satu ulama favorit saya. Ia bersikap apa adanya dan kita akrab dengan kisahnya.” Saat berceramah di Kanada pada tahun 2013, ia membuat banyak pemuda Muslim tertawa terbahak – hingga ia harus menyuruh mereka berhenti tertawa – saat ia dengan jahil mengatakan akan merokok mariyuana di surga. Hal ini membuat orang-orang berkata “astagfirullah”, yang ia balas dengan tajam: “Tidak ada yang haram di jannah.”

Sangat sadar akan isu-isu yang dihadapi pemuda Muslim, selama bertahun-tahun ia telah menjembatani jurang pemisahan antara isu-isu kontemporer dan Islam. Pada 2010 ia dinominasikan sebagai Pencuit Muslim Terbaik oleh Brass Crescent Awards. Ia juga mengelola sebuah blog yang bertujuan untuk “menjembatani pengetahuan Muslim ortodoks dan kontemporer, menyoroti isu-isu budaya, sosial, dan politis yang relevan dengan Muslim di Barat”. Terlepas dari candaannya, keriangannya, dan seringkali kebiasaan uniknya, Imam Webb juga memiliki sisi serius. Di video di bawah misalnya, ia memulai dengan candaan tentang Muslim yang pergi untuk berpesta dan mengakhiri dengan pesan tentang kesakralan hidup manusia.

Imam Webb patut didengarkan, bukan hanya karena ia telah menghabiskan tahunan untuk belajar secara intensif, tetapi juga karena ia memiliki dampak atas pemuda Muslim di seluruh dunia. Dan, di masa di mana kecurigaan terhadap pemuda Muslim dan ekstremisme meningkat, suaranya saat ini menjadi lebih penting daripada biasanya.

________________________________________

[i] Sohaib Saeed, ‘If Qaradawi is an extremist, who is left?’, The Guardian, 9 Jul 2004, di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik