Modest Style

Cendekiawan Muslimah: Ingrid Mattson

,

Cendekiawan, akademisi, dan penulis kelahiran Kanada ini bekerja melawan ekstrimisme dan mengundang umat Muslim untuk bersama memecahkan masalah-masalah sosial. Oleh Omar Shahid.

WP-Mattson-by-Omar
Gambar: ingridmattson.org

Dr Ingrid Mattson adalah kasus yang jarang ada dalam sejarah Islam di Amerika. Pada 2006, ia terpilih sebagai Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA). Saat itu merupakan sebuah momen bersejarah: seorang mualaf, wanita, dan non-imigran berada dalam kedudukan tinggi organisasi payung Muslim terbesar di Amerika Utara. Namun hal ini bukan sekadar gestur formalitas: Dr Mattson, seorang tokoh bagi wanita Muslim di seluruh dunia bagian Barat, adalah seorang cendekiawan Islam, akademisi, penulis yang cerdas juga fasih menyuarakan pendapatnya, dan seorang penasihat pemerintahan AS.

Ada suatu hal yang menyegarkan melihat Ingrid Mattson, 51, sebagai pemimpin komunitas Muslim di Amerika. Inilah seseorang yang dengan briliannya menyatukan makna menjadi orang Amerika sekaligus Muslim. Bukan seorang pemimpin yang menakutkan, buka pula seorang pria berjanggut berbalut busana tradisional panjang, namun seorang yang dapat dijadikan pengingat baik oleh non-Muslim dan Muslim bahwa Islam bukanlah sesuatu yang asing, namun sebuah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Amerika modern.

Pada 1987, saat sedang mengejar S1-nya dalam bidang filosofi, ia berpindah agama menjadi Islam. Tidak seperti kakak perempuannya yang berpindah agama menjadi Yahudi setelah bertemu dengan calon suaminya, perpindahan agama Dr Mattson tidak dipengaruhi oleh pernikahan. Setahun sebelum perpindahan agamanya, ia sedang berada di Paris untuk mengikuti kelas singkat di mana ia bertemu dengan sekelompok pelajar Senegal miskin yang meninggalkan bekas mendalam pada dirinya yang pada akhirnya membuatnya mengubah jalan hidupnya. Ia merasa mereka hangat, murah hati, dan sangat spiritual; seuah pertemuan yang akan membawanya pada sebuah perjalanan untuk mempelajari lebih mendalam tentang keyakinan mereka. Setelah membaca Qur’an, cara pandangnya terhadap hidup mulai berubah, dan ia mulai memaknai perannya di muka bumi dengan berbeda. Ia semakin mendalami penelitiannya tentang Islam hingga akhirnya ia memeluk agama ini secara penuh.

Dibesarkan dalam keluarga kelas menengah Katolik Roma di Kanada pada 1963, Dr Mattson adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Pada usia 16 tahun, ia meninggalkan agama Katolik, dan bersikap acuh tak acuh pada agama serta menjalankan hidup sebagai seorang agnostik. Islamlah yang mengembalikan keimanan pada hatinya dan – dengan semangat banyak mualaf – ia kemudian mendedikasikan hidupnya untuk agama. pada tahun 1987, ia pergi ke Pakistan selama setahun dan mengembangkan program pelatihan kebidanan untuk wanita pengungsi Afghanistan. Kelas-kelas tersebut begitu berpengaruh hingga Taliban melarang para wanitanya untuk turut menghadiri. Pakistan jugalah tempat ia bertemu dan menikah dengan suaminya, seorang insinyur Mesir.

Sekembalinya ia ke Amerika Utara, ia mengambil PhD dalam bidang Studi Islam selama 10 tahun, lulus pada tahun 1999. Ia mendirikan satu-satunya program terakreditasi untuk melatih ulama Muslim Amerika, di Seminari Hartford di Connecticut. Kini, mahir berbahasa Arab, ia adalah Profesor bidang Studi Islam di Huron University College di Kanada. Namanya juga masuk ke dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh oleh Majalah Time pada tahun 2007.

Sebagai tokoh kenamaan komunitas Muslim Amerika, sebuah komunitas yang dikungkung oleh stereotipe dan terus-menerus dipaksa untuk membela agama mereka di hadapan tuduhan terorisme, Dr Mattson memiliki pesan yang jelas. Pada pidato ISNA 2011, ia mengatakan: “Kita harus terus fokus pada hal yang benar, dan tidak teralihkan […] dan menggunakan seluruh tenaga kita dalam debat kusir tanpa akhir di mana kita terus-menerus membantah tuduhan konyol tentang Islam. Sebaliknya, [kita harus] mengajak mereka yang telah membuka tangan dan hati mereka pada kita untuk bekerja sama menuntaskan masalah masyarakat kita yang sebenarnya.”

Meski begitu, Dr Mattson menanggapi isu ekstrimisme dengan sangat serius dan telah mendedikasikan bertahun-tahun hidupnya bertarung melawan isu tersebut. Karena berlatar belakang pendidikan Islam klasik, ia merasa tidak siap menghadapi isu-isu ekstrimisme pada awal mula kemunculannya pasca 9/11. Namun, hal ini merupakan sesuatu yang telah ia hadapi selama bertahun-tahun: menyampaikan ribuan pidato dan menghabiskan ratusan jam dalam rapat-rapat bersama para pemimpin Muslim di seluruh dunia, para anggota Kongres AS, Departemen Keamanan Dalam Negeri, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Kehakiman. Ia juga menulis buku The Story of the Quran, yang menelusuri asal usul literalis dan pemaknaan dekontekstualis Qur’an di kalangan ekstrimis militan Muslim awal.

Meski tidak beragama Islam sejak lahir, Dr Mattson, sebagaimana banyak Muslim Amerika lainnya, telah menjadi pemimpin berpengaruh komunitas Muslim. Bukunya How to Read the Quran akan segera terbit. Akun Twitter miliknya merupakan bukti semangatnya untuk menyaksikan perubahan di dunia: lini masanya dibanjiri isu-isu politis, relijius, dan sosial di AS dan luar negeri.

Namun berbeda dengan pemimpin keagamaan lainnya, nama Dr Mattson bebas kontroversi. Tentu, beberapa pihak telah dengan sengaja berusaha mengait-ngaitkannya – bersama dengan para pemimpin Muslimnya – dengan ekstrimisme, berupaya menodai nama baiknya, namun mereka hanya berhasil menunjukkan kerusakan moral dan agenda konyol mereka sendiri. Dan ia tetap menjadi duri bagi kaum Islamofobia. Ia merupakan kisah sukses Muslim Amerika yang misi hidupnya adalah menyebarluaskan kualitas terbaik Islam, sambil mematahkan narasi salah tentang Islam yang dijajakan di dunia ini oleh banyak pihak.

Meski tidak banyak cendekiawan Muslim wanita berpengaruh yang dapat ditemui di dunia Barat, Dr Mattson jelas merupakan salah satu yang pantas berada di urutan teratas.

Ikuti wawancara kami dengan Dr Ingrid Mattson tentang kepemimpinan wanita dan keberagaman di kalangan Muslim

Leave a Reply
<Modest Style