Mengenal Cendekia: Hamza Yusuf

,

Omar Shahid menggali lebih dalam untuk mengenal pria di balik gelar syekh ini.

hamzayusuf
Syekh Hamza Yusuf, salah satu pendiri Zaytuna College, berbicara tentang nilai pendidikan seni liberal. Di podium terdapat buku berjudul “Liberal Arts at the Brink” (Kesenian Liberal di Ujung Tanduk)

Syekh Hamza Yusuf adalah sosok yang mungkin Anda sebut sebagai cendekiawan selebriti. Setelah menyampaikan ceramah, ia biasanya dikerumuni oleh para penggemar yang bersemangat meminta tanda tangannya, mendapat jawaban, atau sekadar melihatnya lebih dekat. Tidak seperti kebanyakan guru dari subkontinen India yang gagal menarik hati kaum muda dengan ceramah sederhana dan membosankan ditambah dengan bahasa Inggris yang tidak sempurna, daya tarik dan karisma cendekiawan Muslim Amerika berkulit putih ini telah mencuri hati seluruh generasi – terutama kaum muda.

Pada tahun 1990an ia meraih popularitas sebagai pembicara muda yang fasih dan menyentuh, mampu meraih hadirin dengan kemampuan bicaranya dan pengetahuannya yang hampir seperti ensiklopedia, bergerak tanpa kentara dari tradisi Islam ke pemikiran, filosofi, sosiologi Barat modern – mengambil kutipan dari beragam jenis buku yang dapat ia — sebagai pembaca yang lahap — gunakan kapan pun. Cendekiawan penuh kobaran semangat ini, dengan ceramah populer tentang antikristus dan bahaya dunia modern, dengan cepat menjadi salah satu Muslim paling berpengaruh di Barat, dengan kaset yang terjual selaris kue.

Hingga kemudian tiba 9/11. Sebuah insiden yang mengguncang seluruh penjuru dunia, menimbulkan awan gelap kecurigaan, kemarahan, dan kegelisahan yang ditujukan pada umat Muslim. Hamza mendapati dirinya berada dalam posisi yang genting: ia menjadi juru bicara bagi umat Muslim dan bahkan dipanggil oleh Presiden Bush – yang sama sekali bukan sahabat umat Muslim – untuk memberikan pentunjuk pada pemerintahan AS.

Sorotan tajam dunia berada pada Islam dan para pemeluknya. Saat itu bukan waktunya untuk retorika radikal atau ceramah berapi-api. Saat itu adalah waktu untuk sensitivitas dan kehati-hatian. Waktu untuk menunjukkan bahwa Islam tidak sedang berperang dengan Barat. Satu kalimat berisi keraguan dapat digunakan oleh para musuh Islam, yang menantikan saat untuk menyalahartikan, mengubah konteks, dan kemudian menyiarkannya keseluruh dunia, sambil berteriak “Aha! Lihat apa yang dipercayai orang-orang Muslim ini!” Cendekiawan seperti Hamza tidak boleh selip lidah; hal itu akan terlalu merugikan, tidak hanya bagi karir mereka namun juga bagi kesejahteraan sesama umat Muslim. Hamza segera menyadari bahwa ia harus mengadopsi nada yang sedikit berbeda, memberikan penekanan pada tradisi Islam perihal belas kasih, cinta kasih, toleransi, dan spiritualitas yang berakar.

Ada beberapa hal yang lebih suka tidak ia katakan di masa lalu

Lawan-lawannya menyatakan bahwa setelah 9/11, ia mencitrakan ulang dirinya sebagai suara bagi Islam moderat yang entah bagaimana berkolaborasi dengan pemerintah AS. Meski begitu, walau memang benar ia telah lebih meringankan retorikanya, ucapan bahwa ia melakukannya sebagai sekutu Bush, sebagaimana yang berusaha dikatakan oleh banyak orang, tampak sama sekali tidak berdasar.

“11 September menyadarkan saya. Saya tidak ingin berkontribusi untuk kebencian dalam bentuk apa pun. Kini saya menyesali telah berdiam diri mengenai apa yang saya dengar dalam dikursus Islam baru dan menjadi bagian di dalamnya dengan kemarahan saya sendiri di masa lalu,” ujarnya dalam sebuah wawancara pada bulan Oktober 2001.

Ketenaran dan terlebih pertemuan-pertemuannya dengan Presiden Bush membuat Hamza memiliki banyak kritikus, pembenci, dan musuh. Mereka seringkali berusaha melecekan namanya, dengan menyebutnya “murahan”, “Sufi”, “bagian dari pelaku bid’ah”, atau bahkan murtad. “Saya dengar dari sumber terpercaya Syekh Hamza Yusuf didanai oleh pemerintah AS,” seorang Muslim muda pernah berkata pada saya. Saya memintanya menunjukkan bukti. Ia tidak menghubungi saya kembali… dan itu setahun yang lalu.

Tuduhan tidak berdasar ini, yang berakar dari kecurigaan dan kebencian pada cendekiawan yang sekadar memahami keyakinannya secara berbeda, membuat para pengagum Hamza ingin menjambak-jambak rambut mereka. Lagipula, bagi mereka, ia adalah salah satu cendekiawan hebat pada masanya.

Lahir di Washington pada tahun 1960, Hamza dibesarkan di North Carolina sebagai seorang Kristiani. Ayahnya adalah seorang akademisi sementara ibunya seorang aktivis. Ia menjadi mualaf pada usia 17 tahun, setelah hampir meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Dihadapkan dengan kematian mengguncangnya begitu dahsyat, hingga menyadarkannya akan kesempatan hidup dan memandunya dalam perjalanan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terdalam kehidupan. Maka ia mulai mempelajari berbagai agama dunia. Namun Islam-lah yang merengkuhnya dan memberinya jawaban yang selama ini ia idam-idamkan.

Hamza kemudian berjalan ke dunia Muslim, belajar di bawah bimbingan ulama dunia paling ternama di tempat-tempat seperti UEA, Arab Saudi, dan Mauritania. Setelah studi 10 tahun, ia kembali ke AS dan meraih gelar studi keagamaan dan pelayanan kesehatan. Ia juga mendirikan Zaytuna Institute pada tahun 1996 – kini Zaytuna College – sekolah seni liberal Muslim pertama di AS. Selain menjadi seorang penulis, ia membagi waktunya antara mengajar di Zaytuna, memberi kuliah di sekeliling dunia, mengejar gelar PhD pada bidang Studi Islam, dan meluangkan waktu dengan istri dan lima anaknya.

Tahun lalu saya menghadiri Rihla, kelas Studi Islam selama tiga pekan di Turki, yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi Muslim AS bernama The Deen Institute. Selama masa tiga pekan ini, saya menghabiskan banyak waktu bersama Hamza dan melihat betapa rendah hatinya, tulusnya, dan – terlepas dari ketenarannya – normalnya ia. Saya tidak bisa tidak berpikir: ia hanya manusia biasa, tidak penuh kebanggaan, kesombongan, maupun egoisme, namun rendah hati dan ramah. Ia bahkan mendekati saya dua kali hanya sekadar untuk berbincang. Satu pagi saat ia sedang sarapan, saya meminta izin berbincang secara pribadi dengannya dan terlepas dari jadwal sibuknya, ia meluangkan waktu untuk mendengarkan pertanyaan dan pemikiran saya. Ketulusan dan kelembutannya juga tercermin di banyak ceramahnya, di mana seringkali ia meneteskan air mata.

Namun ia bukannya tanpa cela. Tentu, ada beberapa hal yang lebih suka tidak ia katakan di masa lalu, dan bahkan ada dua video tentangnya di YouTube di mana ia berbicara dengan sikap agak bermusuhan. Meski begitu, kontribusi dan jasanya untuk Islam tidak tertandingi.

Namun yang jadi daya tarik utamanya kini adalah ia tampak tidak terlalu peduli dengan pendekatannya yang sebelumnya terjaga dan penuh kehati-hatian. Saat ini, ceramah-ceramahnya terdengar semakin mirip dengan ceramah yang ia sampaikan pra-9/11. Di sebuah konferensi yang saya hadiri di Kanada tahun lalu, Reviving the Islamic Spirit (RIS), ia mengantarkan ceramah tentang “occulture” (budaya okult) yang populer – cara berbahaya di mana orang dengan kedudukan penting menggunakan TV, film, musik, dan permainan komputer untuk merusak dan mempengaruhi pikiran jutaan orang.

Yang menarik sebenarnya bukanlah isi ceramahnya, namun kenyataan bahwa ia memberi ceramah tentang topik tersebut – sebuah topik yang dapat dianggap melewati batas menjadi “konspirasi”. Pada Rihla tahun ini di Turki, misalnya, ia tidak ragu menyerang sejumlah isu, mencerca misalnya, video Happy Muslims yang jadi pokok pembicaraan awal tahun ini.

“Islam dibajak pada 9/11”

Kini, setelah lama menjadi bagian dari kumpulan cendekiawan bervisi serupa yang berupaya untuk menghidupkan kembali Islam tradisional, mengarahkan umat Muslim agar menjauhi kebobrokan kehidupan modern, kegelisahan dan tidur, ia berdiri sebagai salah satu mujadid besar atau renovator keagamaan masa kini – setidaknya bagi para pengagumnya. Keberhasilannya menarik begitu banyak orang ke dalam Islam serta mencontohkan inti agama ini yang berisi keindahan dan cinta, bukan kemarahan dan kemunafikan, membuat gelar mujadid terasa cukup berterima.

“Saya kira Islam hanya tentang kemarahan dan neraka. Kemudian saya menemukan Hamza Yusuf,” ujar seorang Muslim muda dari London yang baru-baru ini mulai menjalankan agamanya. “Ia berbicara tentang cinta dan belas kasih, konsep yang saya kira tidak ada kaitannya dengan Islam. Hal tersebut memulai perjalanan saya mencari ilmu dan menjadikan diri saya yang sekarang”

Seorang teman Hamza mengatakan bahwa pada tahun 90an, saat Hamza baru terjun dalam dunia ceramah, ia akan pergi ke mana-mana dengan membawa tumpukan buku di tangannya sebelum menyampaikan ceramahnya. Inilah yang selalu menjadi kekuatannya: sangat banyak membaca. Hal ini sangat terasa oleh mereka yang pernah mendengar salah satu ceramahnya – ia tidak dapat menampung seluruh informasi, hingga tanpa terhindari ceramahnya bersinggungan di sana-sini dan pada akhirnya Anda mempelajari sesuatu yang benar-benar baru.

Namun yang juga sangat menyegarkan dalam realismenya: meski ia adalah seorang penganut Islam yang taat, ia tidak pernah ragu mengkritisi agama. Atau lebih tepatnya, “cara agama bermanifestasi dalam kebudayaan manusia”.

“Islam dibajak pada 9/11,” ucapan terkenal Hamza yang dikatakan di luar Gedung Putih selepas serangan pada World Trade Centre. Selama bertahun-tahun, ia telah berusaha mengambil alih agama ini dari tangan para ekstrimis, dan bisa dibilang ia telah melakukannya dengan baik.

Leave a Reply
Aquila Klasik