Modest Style

Acara Minum-minum… Tanpa Alkohol

,

Menjadi satu-satunya bukan peminum di sebuah pesta dapat terasa canggung. Tapi Amal Awad mendapat kejutan menyenangkan dari reaksi rekan-rekan sesama pelancong dalam sebuah perjalanan baru-baru ini.

[Not a valid template]

Persahabatan dan sikap baik kepada sesama manusia memiliki banyak manfaat. Misalnya, ketika Anda berulang tahun dan Anda satu-satunya non-peminum di kota wisata kecil, mungkin menjadi tantangan tersendiri untuk menyesuaikan diri.

Tapi di sini, tidak ada orang yang diabaikan.

Untuk lebih spesifik, saat itu adalah malam berhujan yang dingin di Fox Glacier, sebuah kota kecil di Pulau Selatan Selandia Baru yang keberadaannya murni untuk melayani pariwisata di daerah itu. Di sini terdapat tempat gletser yang terkenal, yang sebagian besar kelompok tur Topdeck di mana saya adalah salah seorang anggotanya telah pergi mendaki pada hari sebelumnya (tapi itu cerita untuk hari lain).

Ini ulang tahun pertama saya jauh dari rumah, dan setelah sejenak merasa sedih di awal hari itu, saya ingat saya sedang berlibur dengan orang-orang yang mengagumkan dan dikelilingi oleh keindahan alam. Seperti khasnya perjalanan ke luar negeri, tujuan perjalanan saya adalah untuk menjauh, memisahkan diri dari tekanan sehari-hari yang telah menjadi makanan sehari-hari, serta untuk beristirahat.

Yang paling penting, saya ingin pergi ke suatu tempat yang alami. Saya ingin gunung, langit biru, air dan suara sepatu menginjak kerikil. Sebuah rumah minum dengan jukebox tidak termasuk dalam rencana, tapi hei, saya berada di suatu titik dalam hidup saya di mana saya terbuka untuk hal-hal baru dan menarik. Hanya beberapa hari sebelumnya, saya menikmati mocktail manis di bar es – sarat rasa buah, tanpa vodka.

Tak lama kemudian orang-orang lain dari kelompok kami dan beberapa warga bergabung dengan kami. Mereka semua menyanyikan selamat ulang tahun untuk saya, menenggelamkan suara musik dari jukebox. Mereka mengucapkan banyak doa ulang tahun sepanjang malam, dan ketika mereka mengetahui bahwa saya tidak minum alkohol, mereka menerimanya tanpa ragu.

Tidak minum alkohol? Jangan khawatir! Kami akan membuatmu “mabuk” dengan minuman raspberry dan limun. Saya disodori gelas berisi cairan kental berwarna merah, butiran gula menghiasi tepian gelasnya. Saya menenggaknya diiringi sorak-sorai keras, tapi tidak ada limun di dalamnya, jadi saya mengalami kesulitan menelan rasa yang kuat itu. Beberapa menit kemudian, seseorang yang lain menempatkan sekaleng Red Bull di tangan saya.

Saya protes, khawatir akan tidak bisa tidur, tapi mereka tidak menerima alasan itu. Saya agak tersentuh oleh keramahan itu, sehingga bersedia mengambil jalan tengah. Teman tur baru saya, Angelique, membantu menghabiskan Red Bull, tapi saya dibujuk untuk minum dua tenggakan raspberry lagi. Minuman ini tidak terlalu enak, tapi ada kegembiraan di ruangan itu dan saya yakin momen saya memasuki usia pertengahan 30-an hanyalah sebagian penyebabnya.

Saya tidak pernah minum minuman beralkohol, tapi saya terbiasa berada di sekitar orang-orang yang menikmati segelas atau dua gelas minuman itu, karena tinggal di sebuah negara di mana budaya minum sudah tertanam. Pub ada di mana-mana di Australia, populer tidak hanya untuk air mancur birnya, tetapi juga masakan ala rumahannya.

Saya cenderung untuk tidak pergi ke tempat minum kecuali untuk tujuan kerja, dan selalu ada titik henti – saat di mana para peminum sosial menjadi mabuk dan saya salah satu dari sedikit orang yang tetap sadar. Suasananya tidak menyenangkan setelah itu, jadi saya diam-diam keluar.

Tapi di sini sama sekali tidak ada tempat untuk menghindar, jadi saya bersyukur bahwa keengganan saya untuk minum alkohol tidak menjadi masalah. Saya tersadarkan betapa santai generasi saya dan orang-orang di bawah saya saat ini. Meskipun beberapa orang merasa heran, tidak ada yang tersinggung saya menolak alkohol, tidak juga saya merasa dihakimi karena tidak minum.

Saya mencoba untuk tidak terlalu membesar-besarkannya. Biasanya saya menolak secara sederhana, dan jika ditanyakan alasannya, saya menjelaskan bahwa saya muslim, dan alkohol bukanlah bagian dari kehidupan pribadi saya.

Ini mengingatkan saya kepada situasi (yang sangat jarang) di mana sepenuhnya berpantang minum merupakan masalah. Di beberapa tempat kerja terdahulu, berpantang ini menjadikan saya paria sosial. Saya tidak tahu apakah mereka sengaja bersikap kejam, tetapi mereka gagal memahami dan mereka pastinya tidak bersikap inklusif.

Saya mengerti. Mereka ingin minum, dan bersenang-senang, dan sulit untuk berteman dengan orang yang tidak mabuk di dalam ruangan yang sama. Dan pada hari ulang tahun saya, sebetulnya lebih mudah bagi kelompok saya untuk meneruskan dan minum sendiri sampai konyol, karena berpantang alkohol adalah hal yang pribadi. Perayaan ulang tahun pelancong lain pada hari sebelumnya sarat diwarnai alkohol, jadi saya tidak akan marah kepada mereka jika mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan saya.

Tapi saya telah mendapatkan teman-teman baru, khususnya beberapa wanita yang ingin memberikan saya ulang tahun yang mengesankan. Saya dapat dengan mudah mengatakan itu salah satu ulang tahun yang tidak akan pernah saya lupakan – meskipun saya tidak yakin saya mau minum limun raspberry lagi.

Untuk laporan lengkap perjalanan Amal Awad ke Selandia Baru, silakan baca majalah Aquila Style edisi Desember 2013 mendatang, di Apple Newsstand dan Google Play pada akhir November.

Leave a Reply
<Modest Style