Modest Style

Cara Belajar Bahasa Baru

,

Maryam Yusof berbagi suka dan duka dalam perjalanannya untuk fasih berbahasa Mandarin.

Image: SXC
Image: SXC

Seperti hampir semua orang, tahun baru saya dimulai dengan daftar resolusi. Di bagian atas daftar itu adalah untuk belajar mengemudi lagi (yang sekarang benar-benar saya nikmati) diikuti dengan belajar bahasa Mandarin. Di Singapura, di mana hampir semua orang bilingual dalam bahasa Inggris dan (biasanya) bahasa ibu mereka, menguasai bahasa ketiga adalah keuntungan besar. Plus, seperti candaan saya dengan teman-teman Cina saya, ini berarti saya akan dapat mengetahui jika mereka menggosipkan saya dalam bahasa Mandarin.

Mempelajari bahasa ketiga adalah hal yang telah lama saya niatkan. Pada umur 16, saya mendaftar kursus bahasa Mandarin di sebuah lembaga bahasa. Sayangnya, saya berhenti menghadiri kursus itu ketika saya terlalu sibuk dengan studi saya, maka saya pun lupa sebagian besar yang saya pelajari setelah beberapa bulan. Pada umur 18, saya berpikir bahwa daripada Mandarin, saya lebih baik belajar bahasa Arab karena Al-Quran berbahasa Arab dan saya ingin memahami Al-Quran dari teks aslinya. Sayangnya, saya memilih kursus termurah yang bisa saya temukan di pusat komunitas setempat dan yah, katakan saja bahwa kualitasnya setara dengan uang yang saya keluarkan.

Dengan meninggalkan rangkaian kegagalan belajar bahasa di masa lalu, saya mendaftarkan diri ke modul Mandarin di universitas saya. Saya bertekad untuk, setidaknya, memahami Mandarin lisan pada akhir tahun. Karena tinggal di Singapura seumur hidup saya, di mana 74% populasinya beretnis Cina, Mandarin tidak sepenuhnya asing bagi saya. Saat tumbuh dewasa, saya bisa memesan minuman dengan menggunakan bahasa Mandarin dasar di kedai kopi di lingkungan saya, dan saya menyerap beberapa kosakata dari teman-teman Cina saya. Plus, saya pikir usaha pertama saya belajar Mandarin bertahun-tahun lalu akan memberi saya keuntungan dalam kelas.

Namun, lao shi (guru dalam bahasa Mandarin) saya tidak berpikir begitu sama sekali. Dia memulai kelas pertamanya dengan memperingatkan kami, ‘Banyak siswa Singapura berpikir bahwa karena mereka tahu Mandarin sedikit-sedikit, mereka bisa mendapat nilai A, tetapi jika kalian tidak bekerja keras, tidak akan! Banyak dari mereka bahkan telah gagal. Jadi jika kalian berpikir bisa mendapat nilai A dengan mudah, silakan tinggalkan kelas.’

Dan ya ampun, dia sungguh benar. Kemampuan saya yang terbatas untuk memesan minuman, mengekspresikan emosi saya, dan meledek teman-teman saya tidak ada gunanya sama sekali. Dari pelajaran pertama, kami disuruh menyelesaikan tes mendengarkan han yu pin yin (Mandarin dalam aksara latin). Tes ini mengonfirmasi kecurigaan saya bahwa saya buta nada karena saya tidak bisa membedakan antara empat nada dalam bahasa Cina sama sekali. Sisa semester juga menjadi perjuangan yang berat dan saya sering minta perpanjangan waktu belajar kepada lao shi setelah kelas usai untuk meningkatkan kemampuan saya dalam mendengarkan dan pengucapan. Selama sesi tersebut, saya sering kali mengeluh betapa rasanya mustahil bagi saya untuk memahami konsep bahasa Mandarin jika dibandingkan dengan rekan-rekan saya, dan betapa saya ingin menyerah. Untungnya, saya tidak menyerah, karena akhirnya saya berhasil mengejar ketinggalan.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi Beijing. Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara beberapa bahasa Mandarin karena saya tahu, pembauran adalah cara terbaik untuk menyerap bahasa baru. Meskipun di rumah, teman-teman saya selalu bersedia membantu Mandarin saya, ujung-ujungnya kami selalu berbicara dalam bahasa Inggris. Sayangnya, usaha saya berbicara Mandarin hanya dapat digambarkan sebagai komedi.

Di sebuah toko ritel di Beijing, saya ingin mencoba celana jins dan mencoba menjelaskan ukuran yang saya inginkan. Setelah beberapa menit tatapan kosong dan isyarat tangan, pelayan toko menyerahkan beberapa pasang jins dan mendorong saya ke ruang ganti. Saat saya berada di dalam, saya mendengar pelayan toko mengatakan bahwa mereka tidak mengerti apa yang saya katakan. Ups.

Ketika saya berkumpul kembali dengan teman-teman saya hari itu, teman Cina saya bertanya apa yang saya katakan. Ketika saya mengulangi percakapan itu, dia bingung, ‘Apa artinya itu?’ Malangnya, saya telah mencampur aduk nada dan struktur kalimat, jadi apa pun yang saya katakan tidak masuk akal.

Sekalipun saya gagal berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, keinginan saya tidak berkurang untuk menjadi fasih dalam bahasa ini. Berikut beberapa tips bagi siapa saja yang saat ini dalam proses mempelajari bahasa baru:

1 . Gunakan kartu petunjuk

Saya menemukan bahwa kartu petunjuk sangat berguna dalam membantu menghafal kosakata. Selama perjalanan di kereta api, saya mengeluarkan setumpuk kartu petunjuk dan membolak-baliknya untuk memasukkan kata-kata pada kartu tersebut ke dalam memori. Ketika saya bepergian dengan teman-teman, mereka memberikan kuis kepada saya dengan menggunakan kartu petunjuk (adegan ini sering menjadi hiburan bagi penumpang lain). Ketika saya sudah menghafalkan kata-kata itu, saya akan menyimpannya ke dalam kotak sesuai dengan kategori tertentu dan membacanya lagi dari waktu ke waktu.

2. Beranikan diri Anda

Seperti yang sering ditegaskan lao shi saya, ‘Kalian harus berani untuk belajar bahasa Mandarin!’ Saya setuju. Jika saya terlalu lembek dan takut untuk mencoba berbicara Mandarin, saya ragu saya akan mampu memahami semua itu .

3 . Tontonlah TV

Menonton televisi adalah cara yang bagus untuk memahami nuansa dan aksen bahasa yang sedang Anda pelajari.

4. Ketahui cara apa yang akan berhasil untuk Anda

Saya memiliki kesulitan mengingat aksara Cina. Untuk mengingatnya, saya menulis han yu pin yin dan aksara Cina dari benda-benda di kamar saya pada stiker dan menempelkannya di tempat yang sesuai. Saya juga banyak bergantung pada Google Translate sebagai kamus dan penerjemah. Meskipun terjemahan Inggris ke Cina aplikasi ini secara tata bahasa sering tidak benar, saya menggunakannya sebagai referensi dan kemudian menanyakan kepada teman-teman saya terjemahan yang benar jika saya tidak yakin.

Meskipun penguasaan bahasa saya masih jauh dari fasih dan saya kadang-kadang masih berjuang untuk memahami Mandarin lisan, jianglai, xiwang wo keyi jiang liuli de huayu (itu bahasa Mandarin untuk ‘Saya harap saya bisa fasih berbahasa Mandarin di masa depan!’).

Leave a Reply
<Modest Style