Bulan Madu Saya dari Turki hingga Mesir

,

YazTheSpaz dan suaminya, Zeyad, kembali ke kampung halaman mereka demi  sebuah liburan bulan madu yang tak terlupakan.

12-Zeyad-and-I-visiting-the-museum-of-Cairo43

Setelah pernikahan impian saya, akan menyenangkan untuk segera melaksanakan bulan madu impian kami. Akan tetapi, kenyataan tak semanis fantasi. Setelah resepsi pernikahan, kami menghabiskan satu bulan untuk merencanakan, mempersiapkan, dan kembali menjalankan rutinitas. Harus saya katakan, keputusan kami tepat, sebab itu berarti perjalanan kami dimulai tanpa masalah yang berpotensi merusak bulan madu kami.

Petualangan kami dimulai dengan singgah selama 14 jam di Turki. Kesempatan itu kami gunakan untuk mengunjungi Masjid Sultan Ahmet di Istanbul, menyaksikan pemandangan dari menara Galata, makan, berbelanja, bahkan sempat untuk beristirahat dan memainkan permainan backgammon di sebuah kafe. Seusai bermain, saat menikmati panorama, beberapa gadis lokal mendekat untuk memastikan penglihatan mereka akan saya! Benar-benar pengalaman yang mengharukan dan sekali lagi membuat saya terkesan betapa kita semua memiliki ikatan selayaknya permadani yang kaya motif. Teman-teman, jika kalian membaca ini, terima kasih karena telah menghampiri saya. Peristiwa itu membuat saya bahagia!

Petualangan di Mesir

Setelah Turki, kami mengambil penerbangan ke Mesir. Dan wow, benar-benar pengalaman yang menakjubkan! Kami mulai dengan menemui keluarga besar Zeyad, yang sangat baik hati lagi ramah. Mereka menyambut saya dengan tangan terbuka serta melimpahi saya dengan begitu banyak makanan.

Sebagian besar hidangan mereka bubuhi dengan banyak mentega dan bumbu yang serbaenak. Saya sempat mencicipi sejumlah sajian yang sebelumnya tidak pernah saya santap, seperti daging kelinci dan burung merpati. Semuanya sungguh lezat.

Dan pilihan jusnya! Menyenangkan sekali berkeliling kota untuk menjajal aneka rasa berbeda. Kami minum asab (jus tebu), manga (jus mangga segar), dan sobia (yang saya yakin artinya ‘Apakah ini rasa kelapa? Saya rasa iya. Dan apakah ini rasa susu?’). Bagaimana berat saya hanya bertambah dua pon (1 kg) akan selamanya menjadi misteri bagi saya.

Setelah satu setengah minggu bersama keluarga dan menjelajahi Alexandria, kami lantas bertolak ke lokasi bulan madu kami yang ‘resmi’—tujuan: Sharm El Sheikh, yang membentang di antara Laut Mediterania dan Laut Merah. Kami menginap di Hilton Sharks Bay yang memiliki pemandangan begitu indah sampai Anda mungkin pingsan dibuatnya, dan pegawai yang begitu perhatian (belum lagi ringan tangan dan baik hati), yang akan segera menangkap tubuh Anda jika Anda betul-betul hilang kesadaran!

Karena kami sedang ingin berduaan, Zeyad membawa saya ke tempat khusus bernama Ras Mohammad, di mana kami bisa berenang, menyelam dan berjemur. Yang istimewa dari Ras Mohammad adalah tebing karangnya yang menjorok ke Laut Merah nan gelap dan dalam. Di sana, Anda bisa menemukan setiap makhluk laut yang hanya dapat dibayangkan, seperti ikan hiu, ikan barakuda dan belut, ikan buntal, ikan lepu (lion fish) dan ikan pelangi (rainbow fish). Kami bahkan melihat bayi ikan pari!

Airnya amat jernih sehingga terkadang Anda merasa harus menyentuhnya untuk mengecek apakah airnya tidak menguap. Rasanya seperti melayang di udara. Setelah itu kami menggunakan kendaraan roda empat khusus untuk menjelajahi gurun, di mana mulut dan lubang hidung segera dipenuhi pasir. Hal ini seketika menjelaskan kenapa setiap orang membungkus wajah mereka dengan syal.

Tapi kedua aktivitas itu bukanlah petualangan kami yang paling sinting. Predikat itu jatuh kepada perjalanan berkuda kami, yang juga menjadi saat saya menyadari telah menikah dengan penggemar kegiatan pemacu adrenalin. Belakangan, saya sadar satu-satunya persamaan antara berkuda di Amerika dan Mesir adalah—tentu saja—namanya! Tentunya saat itu saya belum tahu, sehingga ketika Zeyad mengajak saya mencobanya, saya setuju saja dengan harapan mendapatkan pengalaman berkuda seperti di Amerika—seorang pemandu memimpin Anda melewati jalur berkuda yang nyaman dilalui di atas kuda yang begitu jinak sehingga kemungkinan terburuknya cuma seperti jatuh dari kursi goyang.

Dan ya ampun, betapa saya terkejut dibuatnya! Di Mesir, kuda-kuda yang jinak hanya untuk anak-anak, jalur berkuda hanya untuk pengecut dan berjalan kaki hanya untuk Si Lemah. Kami melakukan lintas alam dan kami berpacu! Yah, lebih akuratnya, si kuda yang berpacu sementara saya menjerit dan terus menjerit. Apa yang terasa seperti hembusan angin berkecepatan 100 km per jam memberi semacam aliran deras adrenalin. Samar-samar saya ingat telah berteriak ke Zeyad bahwa saya tidak akan bicara padanya lagi, saya membencinya dan bahwa dia bisa memelihara kuda sialan itu, menikahinya jika mau dan meninggalkan saya untuk berjalan kembali ke hotel. Tentu saja saya tidak bersungguh-sungguh—sesuatu yang untungnya dipahami Zeyad—tapi saya sangat terguncang sehingga, bila saya masih menyimpan syal dari tur di gurun tadi, saya mungkin sudah mencoba untuk mencekiknya!

[Not a valid template]

Melanjutkan Perjalanan

Begitu saya lebih tenang, kami pun terbang kembali ke negara ayah saya, Turki. Dari awal perjalanan, saya sudah sangat menantikan makanan Turki! Sayangnya, saya tiba di Turki dalam kondisi sakit perut, sehingga saya harus menikmati santapan melalui Zeyad sebagai perwakilan. Berkahnya adalah sebanyak apa pun makanan yang dinikmatinya, bobot saya tidak akan bertambah segram pun!

Kami melakukan aktivitas selayaknya turis yang pergi ke area bersejarah nan cantik di Istanbul, yang mengagumkan, dan menjelang kepulangan, menghadiri pernikahan sepupu saya. Benar-benar perasaan yang menakjubkan mengetahui kedua cucu pertama dari keluarga saya telah menikah dalam rentang waktu sebulan! Tuhan bekerja dalam cara yang misterius, subhanallah.

Lalu hari-hari terakhir liburan kami pun sudah di depan mata, dan—dengan nostalgia khusus di akhir perjalanan yang panjang itu—saya merenungi kembali kenangan indah yang telah saya kumpulkan. Saya dapat menghabiskan waktu bersama keluarga, teman-teman, dan terutama cinta dalam hidup saya, Zeyad. Pernikahan sungguh suatu berkah dan meskipun bulan madu resmi kami hampir usai, bulan madu di pikiran saya—pikiran kami—masih berlanjut.  Menakjubkan rasanya mengetahui kita memiliki seseorang yang mendampingi kita melalui suka dan duka.

Saya harap Anda semua menikmati foto-foto yang saya ambil selama perjalanan kami!

Leave a Reply
Aquila Klasik