Modest Style

Bolehkah Muslim Berduka?

,

Menyangkal rasa duka dan emosi sulit lainnya bisa jadi tidak sehat. Rasakan apa yang Anda perlu rasakan, tulis Afia R Fitriati.

Bahagia di atas kertas saja (Gambar:Photl)
Bahagia di atas kertas saja (Gambar:Photl)

Pertanyaan di atas muncul di benak saya beberapa hari lalu saat saya tak sengaja mendengar beberapa kerabat berdiskusi tentang seorang anggota keluarga yang tengah melewati masa sulit dalam hidupnya. Percakapan itu tampaknya baik-baik saja sampai sebuah kalimat membuat saya tertegun:

“Dia tidak akan merasa seperti itu jika dia Muslim yang baik.”

Baiklah.

Pernyataan itu mengingatkan saya akan kenangan masa kecil yang kurang menyenangkan.

Saya kebetulan tumbuh di dalam sebuah keluarga di mana ekspresi perasaan “negatif” kurang dihargai. Kesedihan, kekecewaan dan rasa tak senang sering tidak dihiraukan dan dianggap seolah-olah tidak pernah terjadi. Mungkin hal ini menjelaskan mengapa sejak masa-masa awal kehidupan, saya belajar untuk mengungkapkan diri melalui tulisan.

Saat saya tumbuh dewasa, saya juga sering membaca buku dan menghadiri lingkaran studi Islam yang kurang mendukung ekspresi emosi-emosi yang kurang-dari-senang, seolah-olah itu adalah dosa. Meskipun saya mengerti bahwa saran-saran untuk “bersyukur”, “menghitung berkah-berkah Anda” dan “tetap berharap” berdasarkan niat yang baik, saya mulai menyadari saat saya dewasa bahwa mengharapkan keadaan cerah dan suasana hati bahagia setiap waktu bukan hanya tidak realistis, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan jiwa kita.

Bahkan jika kita merujuk pada kehidupan para Nabi dalam Al Quran dan hadits, jelas bahwa mereka juga mengalami keadaan-keadaan yang kurang bahagia dan kesedihan yang mendalam yang menyebabkan mereka sakit dan terbenam air mata. Sebagai contoh, nabi Yaqub berduka selama bertahun-tahun setelah kehilangan anak lelakinya, Nabi Yusuf, dan ia lalu menjadi buta menurut beberapa riwayat. Dan jika kita mulai menghitung duka tak terhingga yang dialami Nabi Muhammad (saw), menjadi jelas bahwa ia pun beberapa kali mengalami kedukaan dan penderitaan yang mendalam.

Sebagai seorang yatim piatu, ia kehilangan kakeknya — pelindungnya. Selama periode penting dalam hidupnya, istri tercinta dan paman tersayangnya meninggal. Dalam kehidupannya, dia telah menyaksikan kematian anak lelakinya dan banyak pengikutnya. Dia telah mengalami fitnah, kelaparan, sakit fisik, dan banyak lagi. Apakah ia berduka? Ya, sangat. Apakah ia mencucurkan air mata? Ya, banyak sekali.

Kemudian ia berjalan terus dan melanjutkan misinya.

Mengakui perasaan kita penting karena emosi kita bertindak sebagai rambu-rambu jiwa. Mereka membuat kita tahu menyadari saat suatu situasi berjalan baik atau tidak menurut pandangan kita. Kita bahkan mendeskripsikan orang-orang yang tidak mampu memproses atau menunjukkan emosi sebagai orang yang memiliki gangguan tertentu. Bahkan orang-orang yang paling dekat dengan Tuhan pun mengalami jurang dalam kesedihan, rasa sakit, kehilangan, kekecewaan dan kemarahan. Jadi saya berpikir bahwa orang-orang yang mengklaim bahwa kehidupan selalu berisikan kebahagiaan selama orang itu adalah Muslim yang baik bukan saja menyesatkan orang lain, namun juga menipu dirinya sendiri.

Untuk memahami respon yang benar atas kedukaan atau “perasaan” negatif lainnya, kita harus sekali lagi merenungkan apa yang dilakukan Rasulullah untuk mengatasi saat-saat yang sulit .

Di sepanjang tantangan hidupnya, Nabi menetapkan hatinya terikat pada tujuan yang lebih besar dari hidupnya: menasihati umat manusia ke jalan yang benar, sehingga jiwa abadi mereka akan hidup dalam kebahagiaan walaupun hidup mereka mungkin sulit dan penuh derita (6:48).

Muhammad (saw) juga manusia normal yang, kadang-kadang, tidak tahu cara memecahkan masalah kehidupan. Tapi dia selalu berfokus pada apa yang bisa dilakukannya: bagaimana menyelamatkan umat, satu orang pada satu waktu.

Jadi sementara kerabat saya masih terjebak dalam diskusi mereka, saya meraih telepon dan mengirim sms ke anggota keluarga yang bersangkutan. Saya menawarkan bantuan apa pun yang saya bisa tawarkan, dan memberi tahu bahwa saya akan selalu ada seandainya dia membutuhkan sesuatu.

Saya pernah membaca pepatah yang berkata, “Jika Anda bukanlah bagian dari solusi, maka Anda adalah bagian dari masalah.”

Saya memilih untuk menjadi solusi .

Leave a Reply
<Modest Style