Modest Style

Bicara Tentang Fobia

,

Kita semua menyimpan fobia dan ketakutan masing-masing. Dina Toki-O berbagi pengalaman fobianya, dan bercerita bahwa senjata rahasianya – ‘Sang pembunuh bayaran’ – ternyata memiliki belas kasihan yang patut dipuji.

Temukan kejutan dari Dina di akhir tulisan.
Temukan kejutan dari Dina di akhir tulisan.

Seingat saya, saya selalu merasa sangat panik saat berhadapan dengan makhluk tertentu. Makhluk berkaki delapan ini terkenal gemar melahap serangga dan dapat ditemukan sedang bersantai di bak mandi atau loteng, bahkan terkadang di bawah selimut. Ya, saya bicara tentang laba-laba.

Saya tidak ingat sejak kapan saya mulai takut laba-laba. Tapi saya samar-samar masih ingat pengalaman ketika seorang bocah laki-laki menakut-nakuti saya dengan mainan plastik berbentuk laba-laba, kecoak, lalat, kumbang, dan sejenisnya. Saya masih ingat, hewan-hewan mainan itu berukuran besar, dengan kaki besar, panjang dan jelek, serta mata yang menyeramkan. Bocah ini masih terhitung famili saya, umur kami saat itu antara lima sampai tujuh tahun.

Saya selalu dihantui bayangan ini. Saya, sedang berlari, rambut berkibar di belakang, dikejar seorang teman masa kecil yang mengacungkan mainan binatang serangga raksasa dari plastik yang menjijikkan. Tentu, kami hanya dua bocah yang sedang bermain dan saling menjahili – seperti biasalah. Saya pikir saya tidak akan sepanik dulu apabila seseorang mengejar saya dengan boneka tarantula. Tapi untuk alasan tertentu, saya selalu mengingat peristiwa itu saat ditanya kapan saya mulai takut melihat laba-laba atau serangga.

Mungkin juga ketakutan ini dibentuk oleh tontonan. Kita takut laba-laba atau kecoak itu menguasai kita, mulai dari kepala sampai kaki seperti adegan dalam film The Mummy saat si penjahat dimakan hidup-hidup oleh kumbang-kumbang hitam bertampang mengerikan itu!

Barangkali juga karena laba-laba dan binatang-binatang merangkak lain yang menjijikkan itu senantiasa diasosiasikan dengan kengerian dan kejahatan, seperti saat Halloween. Laba-laba plastik digunakan untuk hiasan di antara jaring laba-laba demi menciptakan atmosfer seram. Apa sih yang membuat manusia pengecut seperti kita ini ngeri berada di ruangan yang sama dengan laba-laba? Kenapa kita begitu takut saat mereka menghilang? Ketakutan saya sedikit berkurang kalau saya setidaknya bisa melihat arachnida (sejenis invertebrata) itu sebelum ia menyerang dan membunuh saya!

Saya ingat pernah duduk di kamar selama tiga jam, hanya menatap sambil berurai air mata ke arah laba-laba Pholcidae (alias laba-laba gudang) di sudut kamar, sampai sang pembunuh bayaran (ibu saya) akhirnya datang untuk mengusir makhluk buas tersebut! Meski melihatnya saja membuat saya gemetar dan merinding, tapi saya tidak bisa berhenti menatapnya.  Tentunya saya harus mendahulukan keselamatan. Saya harus fokus memetakan lokasi musuh sembari berjuang untuk tetap hidup. Saya harus yakin mengetahui keberadaan si pengganggu, karena kalau saya lengah sedikit saja, siapa tahu apa yang akan terjadi? Kalau  mau, dia bisa saja menghilang secepat kilat. Pertahanan saya akan melemah, tidak tahu di mana tempat dia bersembunyi, siap menyerang kapan saja, dan membuat saya, korbannya yang tak berdaya ini hampir mengalami serangan jantung di usia muda!

Saat saudara kembar saya masih kecil dia tidak punya masalah dengan laba-laba dan serangga lain. Kadang kala dia bahkan membawa mereka pulang dari taman sebagai binatang peliharaan. Tapi selama bertahun-tahun entah kenapa dia mulai memendam fobia yang sama besarnya dengan saya. Ketakutannya tampaknya muncul bertahap, sementara fobia saya barangkali dimulai dari kenangan masa kecil yang tadi saya ceritakan.

Oya, mereka pintar benar mencari tempat persembunyian!
Oya, mereka pintar benar mencari tempat persembunyian!

Sebagai muslim, kita tahu laba-laba adalah teman. Saya ingat cerita yang terkenal tentang seekor laba-laba yang menyelamatkan Nabi Muhammad (SAW). Saya sendiri pun tidak tahu apa yang saya takuti dari laba-laba. Saya tahu mereka tidak akan dapat menyakiti saya – yah, setidaknya laba-laba di Inggrislah. (Tahu kan, laba-laba rumahan mungil dan tentu saja, laba-laba gudang, biasa dipanggil ‘ayah kaki panjang’ lantaran kaki-kaki mereka yang tidak bisa diam!)

Sampai sekarang pun, jantung saya selalu berdetak sepuluh kali lebih cepat setiap berhadapan dengan laba-laba! Tenang, ‘pembunuh bayaran’ saya itu tidak benar-benar membunuh si laba-laba, kok; Ibu menaruhnya di sebuah cangkir, menutupnya dengan selembar kertas dan mengeluarkannya.

Jadi tidak perlu khawatir: tidak ada serangga yang disakiti selama bertahun-tahun saya mengidap arachnophobia!

Leave a Reply
<Modest Style