Modest Style

Bersatu untuk Reformasi Masjid

,

Kurangnya dukungan di antara perempuan sama berbahayanya dengan praktek marjinalisasi kita dari dan di dalam masjid. Fatimah Jackson-Best menjelaskan mengapa.

Gambar: SXC
Gambar: SXC

Biasanya saya menghindari bicara dalam kerangka kalimat kebenaran mutlak. Saya rasa tidak ada Muslim atau versi Islam yang satu dimensi, dan saya juga tidak percaya bahwa semua perempuan mengalami hal yang benar-benar sama. Namun ada beberapa hal yang saya rasa merupakan fakta, dan hak kesetaraan perempuan akan ruang di masjid adalah salah satunya.

Saya sering bertemu dengan perempuan Muslim yang cerdas, berpendidikan, dan berwawasan. Namun mereka selalu mundur saat membicarakan masalah bagaimana seharusnya ruang bagi perempuan di masjid. Saya sudah pernah mendengar perempuan berkata bahwa mereka akan mendukung perubahan ini jika pemisahannya sesuai keinginan mereka, jika hal tersebut tidak memunculkan kontroversi pada masyarakat Muslim, dan jika hal tersebut tidak mengganggu kehidupan rumah tangga mereka. Saya juga pernah mendengar perempuan Muslim mengutip hadits terkenal yang berbunyi: “Shalat seorang perempuan di dalam kamarnya lebih baik daripada shalatnya di ruang tengah. Shalatnya di ruangan terdalam (khusus) lebih baik daripada shalatnya di dalam kamarnya”.[i]

Kepada para perempuan ini saya ingin menyampaikan sebuah pesan: yang Anda lakukan tidak membantu. Hal tersebut justru merusak keseluruhan pesan dan gerakan untuk kesetaraan akses ruang-ruang masjid. Saat perempuan ambil bagian dalam pembicaraan yang membatasi diri semacam ini, dua hal terjadi: i) penekanan terhadap hak istimewa dan kepemilikan ruang masjid oleh laki-laki, dan ii) penyediaan amunisi bagi mereka yang tidak mau menjadikan ruang masjid perempuan sebuah prioritas – entah pusat Islam maupun individu pengguna masjid.

Ketidakadilan telah menyerang kehidupan dan cara beragama kita

Perempuan Muslim, rekan-rekan lelaki Muslim, dan non-Muslim pendukung reformasi masjid berperan serta dalam salah satu perjuangan paling penting yang sedang terjadi di dalam komunitas Islam dunia. Perjuangan ini didasari pemahaman bahwa perempuan dan lelaki Muslim merupakan hamba Allah dan oleh karenanya harus memiliki kesempatan untuk menyembah Tuhan di tempat yang sama bersihnya, nyamannya, mudahnya, dan terawatnya. Lebih jauh lagi, peran perempuam dalam komunitas Muslim termasuk peran serta aktif kita dalam kepemimpinan dan administrasi masjid. Reformasi masjid bukanlah sebuah gerakan pinggiran atau sekumpulan tindakan onar yang mencoba merusak citra Islam. Hal ini adalah tentang kesetaraan spiritual dan menghancurkan pemahaman kuno yang didasari pada kebudayaan dan kebiasaan dan hampir tidak ada hubungannya dengan agama.

Perempuan Muslim berhak memasuki masjid. Meski beberapa orang akan segera melafalkan hadits di atas, mereka juga mengacuhkan sabda Nabi Muhammad SAW lain yang melarang ketidakadilan yang telah mempengaruhi umat selama berabad-abad. Hadits seperti: “Jika istri-istri kalian meminta izin pada malam hari untuk pergi ke masjid, maka izinkanlah mereka.”[ii]

Jangan lupakan pula kutipan ayat Qur’an yang melarang kita menghalangi orang lain memasuki ruang masjid. Satu ayat menyebutkan, “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat” (QS Al-Baqarah:114).

Ayat dan hadits di atas adalah sebagian dari ayat dan hadits lain yang memiliki pesan sama: perempuan tidak seharusnya dilarang pergi ke masjid, dan mereka yang melarang melawan sunnah Nabi Muhammad SAW dan melanggar kalimat Tuhan. Dilihat dengan cara ini, reformasi masjid menjadi jauh lebih besar dari sekadar kepercayaan yang didasarkan dari kebudayaan dan kebiasaan yang menyingkirkan perempuan dan menistakan ruang masjid kita. Intinya, hal ini adalah tentang spiritualitas dan keagamaan, dan siapapun yang menghalangi berarti menyangkal nilai yang dijunjung oleh Islam.

Kita dapat memilah dan memilih hadits dan ayat Qur’an yang kita gunakan untuk memberi penekanan pada maksud kita, namun kita tidak dapat mengacuhkan gerakan reformasi masjid ini. Adalah pilihan pribadi seseorang untuk menentukan di pihak mana mereka ingin berada saat sejarah sedang dibuat. Adalah juga pilihan pribadi perempuan untuk menentukan apakah ia ingin shalat di masjid atau di rumah, namun adalah bukan hak seorang pun untuk menentukan pilihan bagi perempuan tersebut. Mereka yang menolak menyediakan ruang shalat yang setara bagi perempuan sedang melanggar praktek beragama seorang Muslim — sesederhana itu.

Masjid kita merupakan cerminan dari kehidupan sosial dan spiritual kita, sehingga saat terjadi ketidakseimbangan di antaranya, maka terjadi pula ketidakseimbangan di dalam komunitas kita. Menyaksikan perempuan Muslim lain membuat ketetapan yang sesuka hati untuk menentukan perlunya kita memiliki tempat di ruang-ruang ini atau perlunya kita ambil bagian di dalamnya, menunjukkan betapa ketidakadilan telah menyerang kehidupan dan cara beragama kita.

Dan sungguh, tidak ada ruang untuk ketidakadilan di dalam Islam.

 


[i] Dari Abdullah bin Masud, dalam Abu Dawud, tersedia di sini
[ii] Dari Ibnu Umar, dalam Bukhari, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style