Berkurban Tanpa Penyembelihan, Bisakah?

,

Mungkin sudah saatnya kita meninjau pentingnya ritual memotong hewan kurban saat Idul Adha, tulis Meaghan Seymour.

Image: Pixabay
Image: Pixabay

Udara musim gugur di awal Oktober yang sejuk dan kering selalu mengingatkan saya pada tradisi musiman yang menemani saya tumbuh besar dan menjadi kebiasaan saya. Memetik apel, makan malam Thanksgiving ala Kanada (dirayakan sebulan lebih awal dari tetangga kami di Amerika), pie labu favorit saya, dan tentu saja, menonton keluarga-keluarga di lingkungan saya mengubah rumah mereka menjadi rumah-rumah berhantu untuk menyambut Halloween, adalah peristiwa-peristiwa terakhir yang kami nikmati sebelum dihujani salju selama musim dingin yang panjang.

Sekarang, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan – berkat kalender lunar – udara musim gugur akan membawa perayaan lain: Idul Adha.

Baru-baru ini, saya sedang berjalan-jalan dengan suami menikmati perubahan warna-warni dedaunan, ketika ia memecah kesunyian dan tanpa ujung pangkal mengatakan, ‘Saya tidak terlalu senang merayakan hari raya yang satu ini.’

Mungkin dia ingin memastikan bahwa pernyataannya tidak menghujat, dan mulai merinci alasannya: darah, perayaan di sekitar makhluk tak berdaya yang sedang sekarat, dan kenangan dia bersembunyi di kamarnya, sementara para sepupunya mengolok-oloknya karena  dia menolak bergabung dalam kemeriahan penyembelihan itu.

Sementara saya selalu merayakan Idul Adha dengan teman-teman, saya juga bukan penggemar dari tradisi penyembelihan, dan tidak pernah mengambil bagian dalam perayaan kurban sejak menjadi seorang muslim. Saya tidak pernah sepenuhnya memahami kebutuhan penjagalan yang berlebihan, dan selalu mempertanyakan alasan di balik mengorbankan jutaan hewan dengan nama Tuhan, apalagi jika mengingat mereka juga bagian dari ciptaan-Nya.

Saya sadar akan terbuangnya sejumlah besar daging yang selalu terjadi selama Lebaran, meskipun awalnya ini dimaksudkan untuk amal. Saya ingat masa-masa awal perayaan ini, ketika saya pergi ke toko bahan pangan Timur Tengah di Kanada. Pemilik toko meminta saya membawa pulang sebanyak mungkin daging domba yang saya inginkan. Daging itu disediakan untuk sedekah, tapi secara berlebihan, dan daging-daging itu akan membusuk. Dia tak henti-hentinya menelepon masjid dan organisasi Islam meminta bantuan untuk mendistribusikannya, namun sebagian besar daging itu tetap teronggok sia-sia.

Tapi mungkin ada masalah yang lebih disayangkan dalam hal penyembelihan itu. Berkurban pada awalnya dimaksudkan untuk memperingati satu bab penting dalam sejarah agama, namun sekarang aktivitas ini seringkali hanya menjadi ritual yang tidak disertai perasaan pengorbanan yang esensial dan seperti aslinya, sebagaimana terungkap dalam kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anaknya sendiri.

Ada banyak hal lain yang dibutuhkan keluarga miskin di lingkungan kita, daripada sekadar satu porsi daging.

Sepanjang sebagian besar sejarah, manusia secara langsung tergantung pada ternak mereka. Selain digunakan untuk transportasi, hewan domestik menjadi sumber makanan dan pakaian yang dibutuhkan keluarga untuk bertahan hidup, terutama dalam iklim gurun. Kondisi itu berbeda dengan saat ini, di mana banyak dari kita menikmati produk hewani setiap kali makan dan memiliki pakaian dari kulit dan wol. Penduduk perkotaan yang modern mungkin paling dekat dengan hewan dalam bentuk kucing peliharaan keluarga.

Jadi ketika kita sekadar menyerahkan uang tunai kepada tukang jagal yang menjanjikan akan memberikan kita daging kurban olahan, pengorbanan Idul Adha menjadi tindakan yang sangat tidak personal. Apalagi ketika kita tidak punya hubungan sebelumnya dengan hewan yang hidupnya berakhir demi kepentingan kita.

Kita juga harus ingat bahwa dalam rangka memasok permintaan akan hewan yang meningkat selama Idul Adha baik di kota-kota besar maupun kecil, hewan sering diangkut dari lokasi di luar negeri. Misalnya, domba dari Kanada akan jauh-jauh diterbangkan ke Singapura tahun ini untuk disembelih. [i] Dalam prosesnya, hewan-hewan itu menjalani kondisi transportasi yang tidak manusiawi hanya untuk tiba ke rumah jagal.  Ditambah, urgensi menyembelih tepat waktu untuk perayaan membuat kemungkinan standar halal (seperti ruang yang memadai, makanan, dan air) akan dikesampingkan. Kita bertanya-tanya jadinya, apakah ini sejalan dengan nilai-nilai etika dan welas asih Islam?

Ada banyak hal lain yang dibutuhkan keluarga miskin di lingkungan kita, daripada sekadar satu porsi daging. Contohnya berbagai kebutuhan seperti perlengkapan sekolah untuk anak-anak, sarana untuk menambal gigi berlubang yang telah terlalu lama tidak diobati, tiket angkutan umum untuk orang yang tidak mampu pulang-pergi ke tempat mereka bekerja, atau sedikit uang untuk ibu tunggal untuk membayar tagihan pemanas yang sangat tinggi (yang ditakuti warga Kanada dengan datangnya musim dingin) untuk menjaga anak-anaknya tetap hangat. Dalam dunia yang didorong oleh ekonomi berbasis uang, “kebutuhan dasar” telah berevolusi cukup drastis dari sembilan asam amino yang ditemukan dalam protein hewani .

Tentu saja, saya tidak ingin memaksakan pengalaman perkotaan saya, dan saya mengakui bahwa peternakan masih merupakan sumber utama mata pencaharian di banyak masyarakat, dan hewan masih menjadi dasar ekonomi. Mungkin di daerah-daerah di mana masyarakatnya tidak memiliki akses ke bank makanan atau dapur sup seperti yang dimiliki banyak perkotaan, dan yang akan benar-benar mendapat manfaat dari daging amal dari hewan kurban, Idul Adha tradisional dapat menjadi pengalaman spiritual yang sangat memuaskan.

Tapi bagi kita yang telah terlepas dari ritual, kita harus mengevaluasi kembali bagaimana kita dapat menandai Idul Adha dengan cara-cara yang mencakup makna pengorbanan yang sebenarnya. Lebih penting lagi, kita harus melihat bagaimana kita benar-benar dapat bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan di masyarakat kita.

Mungkinkah itu dalam bentuk sesederhana menggunakan waktu yang kita habiskan dengan perangkat elektronik (banyak di antaranya lebih mahal daripada membeli hewan kurban) untuk menjadi relawan? Atau bisakah memberikan hasil kerja keras kita, seperti uang, benda milik kita atau properti kita, untuk mengubah hidup orang-orang yang paling membutuhkan?

Di rumah kami, kami tahu sebelum merenungkan pilihan ini bahwa tak satu pun dari kami akan merasa nyaman menyembelih hewan untuk Idul Adha, tapi kami ingat bahwa kurban adalah sunah Nabi (saw), dan di zaman ini masih sangat penting untuk mereplikasi tindakan menyerahkan salah satu karunia yang dianugerahkan kepada kita.

Dengan menjadikan hari raya ini lebih bermakna pengorbanan dan bukan hanya ritual darah, saya berharap kita bisa membuat perayaan ini lebih bermakna, praktis, dan spiritual.

[i] ‘Singapura akan mengimpor domba dari Kanada untuk Idul Adha tahun ini’, Straits Times, 14 Sep 2013, dapat dibaca di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik