Modest Style

Berkawan dengan Kawat Gigi

,

Cahya Meythasari berbagi suka dukanya berkawat gigi.

WP Kawat Gigi by Cahya 02

Fenomena tren kawat gigi atau behel mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Di Indonesia, penggunaan kawat gigi semakin populer pada awal tahun 2000-an, ketika telenovela Yo soy Betty, la fea ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

Saya adalah seorang pengguna kawat gigi sejak tahun 2008. Saya menggunakannya untuk merapikan gigi saya yang tidak rapi. Betapa tidak, dua gigi taring atas saya berada pada posisi menusuk bagian dalam pipi. Hal ini membuat saya sering sakit sariawan berkepanjangan. Akhirnya dokter gigi saya saat menyarankan untuk menggunakan behel. Awalnya saya kaget dan tidak ingin mengikuti saran tersebut. Maklum, saat itu kesan kuno dan jelek masih melekat pada pengguna kawat gigi. Namun demi alasan kesehatan, akhirnya saya mengikuti saran tersebut.

Ada hal lain yang membuat saya berpikir dua kali untuk mengenakan behel, yaitu harga behel yang saat itu masih sangat mahal, yaitu sekitar tiga hingga sepuluh juta rupiah. Karena pertimbangan ini, akhirnya saya memutuskan untuk mengenakan behel hanya pada bagian gigi atas yang paling membutuhkan.

Hari pemasangan behel pun tiba. Inilah saatnya saya membuktikan cerita yang saya dengar dari orang lain tentang sakitnya pemasangan kawat gigi. Setelah sekitar 30 menit, akhirnya behel bagian atas telah terpasang dengan sempurna… dan ternyata tidak semengerikan yang diceritakan orang. Itulah mengapa terkadang kita harus mengalami suatu peristiwa sebelum mempercayai kata-kata orang lain.

Maka demikianlah saya memulai hari-hari hidup bersama behel. Awalnya memang menyakitkan, ngilu karena karena proses berpindahnya gigi (biasanya 3-7 hari setelah proses pengencangan kawat setiap kontrol), kawat gigi akan bersinggungan langsung dengan bagian dalam mulut. Tetapi jangan khawatir, masalah ini dapat ditaggulangi dengan kontrol secara rutin, menggunakan sikat gigi khusus (terutama untuk bagian celah gigi), rutin melakukan pembersihan karang gigi dan mengkonsumsi makanan yang tidak terlalu keras (yang juga bisa menyebabkan kawat terlepas).

Sejak saat itu juga saya mulai membiasakan diri untuk memilih makanan yang lembut seperti bubur, mie atau nasi dengan tekstur yang sangat lembek. Kecanggungan memilih makanan di awal lama-lama mulai hilang karena terbiasa. Ibarat kata pepatah, alah bisa karena biasa, bukan?

Tidak dipungkiri lagi, panggilan “La fea” kemudian juga melekat pada saya.

Pada tahun 2009, saya memutuskan untuk melanjutkan perawatan gigi dengan pemasangan behel bawah agar struktur gigi atas dan bawah menjadi seimbang. Sakit yang sama seperti pada awal pemasangan behel gigi bagian atas kembali terulang. Namun, mental saya sudah lebih siap kali ini.

Dokter gigi saya awalnya memprediksi perawatan gigi saya akan selesai pada tahun 2012. Namun, ternyata pengangkatan kawat gigi belum dapat dilakukan pada tahun ini. Sebabnya adalah karena saya tidak rutin melakkan pemeriksaan sehingga berkali-kali behel saya terlepas dan gigi saya belum terbiasa dengan struktur rahang yang baru. Ya, memang penggunaan behel juga berimbas pada berubahnya struktur rahang menjadi lebih proporsional, sehingga bentuk mukapun seakan berubah.

Lain dulu lain sekarang. Orang-orang yang menggunakan behel kini dianggap “gaul”, gaya, dan keren. Bahkan tidak jarang ada orang yang menggunakan behel sebagai aksesori fesyen, sampai-sampai menyesuaikan warna karet behel dengan pakaiannya.

Hampir enam tahun sudah saya mengenakan behel, dan bahkan terbiasa hidup bersamanya. Saya berharap tahun ini kawat gigi saya akan segera dilepas. Namun, lain dulu lain sekarang, rasanya julukan “la fea” (buruk rupa) sudah tidak lagi melekat pada diri pemakai kawat gigi seperti saya.

Leave a Reply
<Modest Style