Hoax tentang pelacur halal tegaskan mitos media Muslim

,

Seperti yang digambarkan sebuah kisah bohong baru-baru ini, satir tidak hanya dapat memprovokasi ketidakpercayaan antara Islamofobia dengan Muslim, namun juga memberi kesempatan untuk introspeksi. Oleh Sya Taha.

Membaca yang tersirat. (Gambar: iStock)
Membaca yang tersirat. (Gambar: iStock)

Pekan lalu diramaikan dengan sebuah berita yang ditulis dalam bahasa Perancis tentang sebuah bar baru di Amsterdam yang akan menyediakan “pelacur halal”. Kisah ini kemudian disebarkan oleh situs-situs lain yang menerbitkan versi mereka sendiri dalam bahasa Inggris: situs Mesir OnIslam, situs Maroko Yabiladi, dan situs Yordania Albawaba (Dua situs pertama telah menghapus berita mereka).

Sumber berita menggelitik ini rupanya adalah sebuah “kantor berita” Belgia bernama Nordpresse. Penulis artikel asli, seorang “Jean Abdelrottenstein”, memiliki nama belakang yang sangat aneh – gabungan dari nama Arab dan Belanda umum bermakna “batu busuk”. Alamat bar baru tersebut, “Hot Croissant”, tidak ada di Amsterdam (nama barnya juga terlalu nikmat untuk jadi nyata).

Nordpresse sebenarnya merupakan situs satir dengan sentuhan jurnalistik yang secara rutin menghasilkan artikel dengan sedikit analisis politik, namun selalu dengan nada gurauan. Namanya sendiri merupakan permainan kata dari Sudpresse, sebuah kantor berita Belgia sungguhan (serupa Le Gorafi dari Perancis, yang memparodikan Le Figaro, sebuah situs berita sungguhan).

Saya percaya alegori dan satir merupakan perangkat berguna yang dapat membantu kita memahami isu politik dengan lebih baik. Jika detil kisah yang sebenarnya sudah terlalu biasa dan umum, menempatkan cerita ke dalam sebuah konteks fiksi seringkali dapat membantu kita memahami konsep-konsep berbeda dibalik isu tersebut. Sebagai contoh, dongeng seperti Animal Farm dan 1989 karya George Orwell dapat membantu kita memahami rezim totaliter dengan lebih baik, seperti halnya The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood dapat membantu kita memahami patriarki dan fundamentalisme keagamaan.

Sejumlah artikel berita yang berkaitan dengan Muslim di Nordpresse membicarakan tentang, misalnya, penemuan ilmiah di Britania Raya tentang babi yang telah dimodifikasi secara genetis menjadi halal, dan tentang restoran kebab non-halal pertama yang akan buka di Perancis. Satu lagi yang menarik perhatian saya adalah tentang vaksin anti homoseksualitas yang ditemukan di Rusia dan sudah dipesan pre-order oleh pemerintahan Afganistan, Arab Saudi, Iran, Sudan, dan Yaman. Jika artikel terakhir muncul sebagai reaksi atas pemberlakuan undang-undang homofobia di negara-negara ini, maka tidakkah dua artikel sebelumnya menyampaikan sesuatu tentang kondisi media masa kini yang memberitakan tentang segala hal yang diharapkan baik dan halal?

Artikel-artikel satiris semacam itu juga merupakan teknik populer yang digunakan oleh pendukung sayap kanan unutk menyebarkan pemikiran-pemikiran rasis dan Islamofobia. Semua ini bertujuan untuk menyelipkan klaim (palsu) bahwa para imam itu tidak terdidik, irasional, dan membuat fatwa absurd untuk menyenangkan umat Muslim yang cenderung melakukan segala hal konyol untuk memuaskan nafsu duniawi mereka tanpa melanggar aturan yang diberikan oleh tuhan khayalan mereka.

Artikel-artikel ini melengkapi fitur musiman “mitos media” tentang Muslim. Dalam sebuah artikel baru-baru ini, Nesrine Malik dari The Guardian mengumpulkan lima kisah media populer tentang Muslim Inggris dan menjabarkan kebenaran dibalik kisah-kisah tersebut. Sementara itu, umat Muslim telah berupaya mempertahankan diri dari penyajian media tersebut dengan sentilan humor menggunakan tagar #MuslimRage dan #MuslimScareStory di Twitter.

Dalam konteks tentang minoritas Muslim terpinggirkan dan penuh benci, artikel-artikel tentang “pelacuran halal” dan “babi bersertifikasi halal” ini bertujuan merangsang sentimen Muslim – terutama pembaca Muslim yang tidak kritis maupun cukup waspada atas apa yang disajikan media. Namun yang sulit saya pahami adalah mengapa situs-situs yang memiliki mayoritas pembaca Muslim turut menyebarkan berita semacam ini.

Satu penjelasan yang memungkinkan adalah karena artikel-artikel semacam ini mendorong umat Muslim untuk berintrospeksi diri. Artikel ini menyoroti “penghalalan” barang-barang konsumsi sebagai temuan kapitalis yang bertujuan menarik pasar Muslim. Contoh produk-produk ini adalah anggur halal dan bir halal yang disebut memiliki kandungan alkohol sangat kecil, bacon halal yang terbuat dari daging kalkun, dan cat kuku halal yang katanya tidak menghalangi penyerapan air.

Dilihat dari kacamata ini, “pelacuran halal” tampak seperti gurauan konyol yang mengolok cara umat Muslim membuat versi halal dari hampir segala hal, terutama yang telah lama dianggap haram oleh mereka yang berpaham ortodoks.

Berlawanan dengan kepercayaan ortodoks yang menyatakan bahwa pikiran kita dapat menyesatkan kita (sebagaimana yang diberitahukan pada saya dengan sangat serius oleh beberapa guru agama), pemikiran yang logis merupakan anugerah berharga yang hanya diberikan pada manusia oleh Pencipta kita (17:36). Kita didorong untuk mencari tahu kebenaran informasi dengan indera kita – sesungguhnya kita bahkan akan dimintai pertanggung jawaban perihal cara kita menggunakan kemampuan ini. Jadi sebelum Anda menyebarkan artikel tersebut, cari tahu dulu kebenarannya.

Dan jika “judi halal” nantinya muncul, saya akan jadi orang pertama yang memberitahu Anda.

Leave a Reply
Aquila Klasik