Modest Style

Berhenti Menyalahkan Korban

,

Sebuah jajak pendapat terbaru di Arab Saudi menunjukkan beberapa pandangan laki-laki yang mengejutkan terhadap kekerasan seksual. Fatimah Jackson-Best membahas mengapa ini harus menjadi penyebab keprihatinan bagi kita semua.

Pecahan tajam yang menghancurkan masyarakat (Gambar: SXC)
Pecahan tajam yang menghancurkan masyarakat (Gambar: SXC)

Bagaimana jika seorang pria mengaku maskara Anda membuatnya menyentuh Anda tidak pada tempatnya, atau eyeliner Anda yang digambar dengan hati-hati adalah alasan untuk perkosaan Anda? Sebelum menolak ini sebagai ide yang absurd, pertimbangkan ini:  Sebuah jajak pendapat baru dari Kerajaan Arab Saudi menemukan bahwa lebih dari 85 persen laki-laki yang ditanya percaya bahwa riasan mata seorang wanitalah yang harus disalahkan untuk kenaikan pelecehan perempuan di depan umum [i].

Kebenaran yang menyedihkan adalah bahwa pandangan ini tidak terisolasi dan berlaku secara umum. Ketika seorang wanita diperkosa, beberapa hal pertama yang sering dipertanyakan adalah: apa yang dia kenakan, di mana dia, dan dengan siapa. Jenis pertanyaan ini menyindir bahwa jika seorang wanita mengenakan “pakaian tidak sopan” , atau keluar larut malam, maka ia mengundang serangan pada dirinya sendiri.

Bahwa jajak pendapat dilakukan di Arab Saudi juga menunjukkan bagaimana Muslim dapat terlibat dalam wacana menyalahkan korban. Di negara di mana banyak wanita menutupi diri mereka dari kepala sampai kaki dengan pengecualian mata mereka, tampaknya penyelenggara survey ini mencari-cari alasan untuk menjadikan perempuan akar penyebab kekerasan seksual mereka sendiri. Selain itu, jajak pendapat itu tidak muncul dalam menjawab pandangan tentang laki-laki yang tidak bisa mengendalikan diri dari menyentuh wanita tanpa seizinnya di depan umum. Baik tanggapan survey ini maupun kurangnya perhatian terhadap peran laki-laki dalam serangan seksual sangat bermasalah dan sangat berbahaya.

Sayangnya kita bahkan tidak bisa melihat jajak pendapat ini sebagai sebuah anomali. Di dunia Muslim kita sering menyaksikan situasi yang melibatkan perempuan yang justru disalahkan atas kekerasan seksual yang dilakukan terhadap mereka. “Pembunuhan demi kehormatan” di negara-negara seperti Pakistan dan Afghanistan adalah contoh-contoh yang pedih. Dalam beberapa kasus, perempuan dibunuh untuk mengembalikan kehormatan keluarga mereka setelah mereka telah diserang secara seksual. Kisah seorang wanita Afghan muda yang diperkosa oleh suami sepupu dan kemudian disalahkan karena selingkuh setelah mengandung anak lelaki itu adalah contoh tragis menyalahkan korban.[ii] Pria dalam situasi ini jarang dihukum dan kadang-kadang bahkan diizinkan untuk menikah dengan wanita tersebut. Ini mengirimkan pesan yang jelas bahwa beban ditempatkan tepat pada wanita terlepas dari kurangnya keadilan dalam kasus semacam ini.

Jajak pendapat dan contoh-contoh kehidupan nyata ini juga membawa perhatian pada fungsi jilbab dan niqab dalam konteks tersebut. Jika jilbab dan niqab dimaksudkan untuk melindungi perempuan dari perhatian yang tidak diinginkan, atau bertindak sebagai pengidentifikasi dari identitas Muslim mereka, mengapa kemudian kekerasan seksual dilakukan oleh laki-laki Muslim?

Sebuah jilbab, sebagai simbol, bisa melarut dengan pesan apapun atau makna yang diinginkan masyarakat, tetapi tidak dapat mengendalikan seorang pria yang ingin memperkosa atau menyerang, bahkan jika orang itu adalah seorang Muslim. Seorang perempuan yang mengenakan pakaian paling longgar sekali pun tidak akan mendapat rasa hormat dari lelaki yang tidak menghormati perempuan, karena belum pernah ada yang mengajarkannya. Sebaliknya, ia tahu bahwa jika ia menyakiti seorang perempuan, ia bisa lolos karena ideologi sosial dan praktek politik terstruktur sehingga ia dan seluruh komunitasnya akan menyalahkan si perempuan karena pelanggarannya. Sementara wanita Muslim terus-menerus diberitahu bahwa mereka harus menutupi diri mereka sebagai bentuk perlindungan dari serangan mata dan tangan. Argumen ini tidak masuk akal dalam pemerkosaan di negara Muslim dimana hijab dan niqab hanyalah sekedar benda lain yang mudah dirobek.

Selain membuat saya marah, jajak pendapat ini membuat saya sedih. Menyalahkan korban  adalah penyakit sosial yang harus kita hadapi, tetapi untuk wanita yang mengalami kekerasan seksual, mereka mungkin akan merasa semakin terpinggirkan dan dibungkam. Maka tidak mengherankan bahwa kebanyakan wanita yang mengalami kekerasan seksual tidak melaporkannya kepada pihak berwenang.[iii]

Meskipun demikian, saya berbesar hati oleh berita dari firma hukum pertama di Arab Saudi yang semuanya perempuan dan akan bekerja untuk memajukan hak-hak perempuan di negara ini.[iv] Selain harus ada lebih banyak inisiatif semacam ini, juga harus ada restrukturisasi radikal dari cara masyarakat Muslim dan non-Muslim melihat perempuan, hak-hak mereka, dan peran mereka dalam perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan. Tantangannya adalah untuk mengubah pikiran masyarakat serta undang-undang, karena yang satu tidak dapat bertahan tanpa yang lain.

 


[i] ‘Blame makeup: Molestations in public are ‘women’s own fault’, Saudi poll shows’, RT, 7 Jan 2014, tersedia di sini
[ii] Nick Paton Walsh and Masoud Popalza‘Afghan woman’s choice: 12 years in jail or marry her rapist and risk death’, CNN, 22 Nov, 2011, tersedia di sini
[iii] http://www.rainn.org/get-information/legal-information/reporting-rape
[iv] ‘First female law firm opens in Saudi Arabia’, RT, 3 Jan, 2014, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style