Modest Style

Berdamai dengan Masalah, Berdamai dengan Diri

,

Respon kita terhadap masalah berpengaruh pada kesehatan jiwa dan raga, tulis Pujiastuti Sindhu.

1904-WP-afia-on-questioning-PhotoXpress-sm (1)
Foto: PhotoXpress

Semua orang tentu pernah mengalami masalah dalam hidup. Secara singkat, masalah terjadi saat keinginan tidak sesuai dengan kondisi, dan sebaliknya, saat kondisi tidak sesuai dengan harapan. Disebutkan oleh Eckhart Tolle, “Penyebab utama ketidakbahagiaan bukanlah sebuah situasi, melainkan pikiran kita mengenai situasi tersebut”[i].  Masalah yang dibiarkan berlarut-larut dapat berujung pada stres yang berpotensi mengganggu kesehatan dan ketentraman hidup.

Ada banyak wujud  dari masalah. Misalnya saja beberapa waktu yang lalu, seorang teman wanita curhat tentang situasi kantornya yang tidak menyenangkan, teman-teman kantornya yang sangat tidak disiplin, sehingga beberapa kali ia sempat melampiaskan kekesalan dengan marah-marah. Terlintas juga di pikirannya untuk mengundurkan diri. Di waktu yang berbeda, seorang teman lain mengeluh bahwa ia merasa salah memilih tempat bekerja. Ia merasa “salah jurusan” sehingga kehilangan semangat bekerja.

Sebagai seseorang yang kerap dianggap teman curhat, sebenarnya saya pun tidak terbebas dari yang namanya belitan masalah. Seperti yang belakangan ini saya alami (namun Alhamdulillah, kini solusinya mulai terlihat), yaitu masalah-masalah domestik akibat tiadanya asisten rumah tangga (ART) dan supir. Walaupun tergolong masalah umum dalam rumah tangga, namun problematika tersebut berpotensi menggoyahkan kestabilan dan kenyamanan hidup sehari-hari, terutama bagi ibu bekerja dengan anak-anak usia sekolah seperti saya.

Dalam kurun waktu 6 bulan ini, sudah 4 kali kami berganti ART yang kemudian berakhir dengan beragam skenario pengunduran diri, mulai dari yang diberhentikan hingga yang berhenti tanpa pamit alias kabur. Intinya, sejak ditinggal asisten rumah tangga yang telah sekian lama mengabdi pada keluarga kami dan meringankan beban ibu dalam mengurus rumah tangga, kami belum menemukan penggantinya yang cocok.

Walaupun cukup sering menasihati sesama teman untuk berpikir baik, sebagai manusia biasa tetap saja saya kadang merasa kesal dan menyalahkan situasi hidup. Misalnya, batin saya berkata “Aaargh, andaikan yang begini ini tidak terjadi, pasti saya tidak akan selelah ini!” atau “Andaikan si A, B, C, atau D masih bekerja, pasti ini tidak akan terjadi. Mereka memang tidak punya itikad untuk bekerja!” Atau juga, “Andaikan Si Mbak (yang telah lama bekerja itu) masih bersama saya, tentu saya tidak akan sesibuk dan secapek ini!” dan berbagai  “andaikan-andaikan” yang lainnya.

Dengan bergabungnya perasaan tidak mau menerima, kondisi capek dan bete, stres pun secara resmi dimulai. Bila saya tidak mampu menetralkan  stres dan efeknya, maka stres pun berpotensi untuk meracuni pikiran dan cara memilih tindakan.

Mundur Selangkah

Tindakan pertolongan pertama saat stres ialah berhenti sejenak. Jeda sejenak dengan mengambil satu langkah ke belakang sangat penting untuk menjaga jarak antara kesadaran dengan rasa bete yang dialami.

Untuk membantu tubuh menjauhkan diri sejenak dari ketegangan, Anda dapat mempraktikkan relaksasi singkat sambil duduk atau berbaring. Lakukan mental scan (memperhatikan diri dari dalam) untuk menyusuri ketegangan pada tubuh (sebagai reaksi ketegangan mental). Lemaskan ketegangan tersebut dan rilekskan tubuh seiring embusan napas.

Untuk merilekskan tubuh, Anda juga dapat mencoba berlatih peregangan yoga secara rutin, mandi air hangat atau sekedar mendengarkan musik lembut.

Setelah anda cukup tenang,  lanjutkan dengan teknik pernapasan Equal Breaths: selaraskan ritme napas, ritme jantung dan ritme pikiran. Ingat bahwa semakin dalam anda bernapas, semakin perlahan jantung berdetak dan semakin tenang pikiran Anda. Mulailah dengan menarik napas 3 hitungan, menahan napas 3 hitungan, dan mengembuskan napas 3 hitungan. Lanjutkan hingga hitungan 10 (atau sejauh kemampuan Anda). Lanjutkan dengan bernapas normal sambil menikmati ketenangan (atau bermeditasi bila Anda bisa).

Tujuan dari melakukan praktik rileksasi tubuh dan pikiran di atas adalah untuk melepaskan ketegangan secara menyeluruh, sehingga diri menjadi bening dan transparan, tidak menahan ketegangan. Inilah kunci terbebas dari ketegangan yang berakumulasi menjadi stres.

Berkontemplasi

Setelah anda  lebih tenang, renungkanlah bahwa apapun masalah anda, hanya ada 3 cara untuk keluar darinya, yaitu: mengatasi masalah, memindahkan diri dari masalah (bukan menghindari masalah, karena menghindari hanya bisa dilakukan sebelum masalah terjadi) dan menjalani masalah.

Sayang sekali kebanyakan dari kita tidak punya cukup keberanian dan keyakinan (serta kemampuan) untuk melakukan opsi pertama (mengatasi masalah) dan kedua (memindahkan diri dari masalah), dan hanya bisa melakukan opsi yang terakhir (menjalani masalah).

Seperti teman saya yang tidak betah di kantornya, sangat kecil kemungkinan ia bisa mengubah situasi tersebut sesuai yang ia harapkan, namun tidak mudah juga baginya untuk memutuskan keluar dari pekerjaan. Yang ia bisa lakukan hanyalah menjalani dan berusaha menerima kondisi tersebut tanpa membiarkan kondisi tersebut mempengaruhinya. Dan untuk melakukan hal ini, perlu kesiapan tubuh dan pikiran seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Kabar baiknya, saat seseorang menerima menjalani sebuah kondisi, sebenarnya ia tengah masuk ke dalam proses berakhirnya masalah tersebut.

Memurnikan Sudut Pandang

Dari cara pandang yang positif, saya selalu percaya bahwa semua masalah yang dihadapi seseorang bertujuan untuk pengembangan jiwanya (self development). Jadi, saat anda siap menjalani masalah yang anda hadapi, tanyakan pada diri :

  1. Bagaimana masalah ini dapat membantu saya untuk bertumbuh?
  2. Apa yang akan saya pelajari dari situasi ini ?

Tidak ada yang kebetulan. Segala sesuatu telah ditakdirkan. Selama seseorang dapat menangkap hikmah dan pelajaran dari situasi tidak menyenangkan dalam hidupnya, maka tidak perlu lagi merasa “salah jurusan”. Berprasangka baik pada hidup akan membuat seseorang lebih lembut — sekaligus lebih kuat — menjalani kondisi hidup yang tengah ia lalui.

Berserah Diri

Berserah diri  ialah keyakinan bahwa kekuatan-Nya akan menguatkan Anda dan semuanya akan berakhir dengan baik pada saatnya nanti, walaupun saat ini mungkin Anda belum bisa melihat akhir dari situasi yang tengah Anda jalani. Meyakini  Tuhan ada di balik semua yang sedang terjadi akan menentramkan hati dan  menjadikan setiap masalah sebagai gerbang menuju-Nya.

Masalah adalah sesuatu yang akan selalu terjadi selama hidup. Kerugian yang ia timbulkan tidak dapat dihindari namun dapat diantisipasi. Mengamati bagaimana masalah hadir serta pola untuk mengatasinya akan memberikan Anda kemampuan mengendalikan diri yang lebih baik agar mampu berdamai dengan situasi dan berdamai dengan diri.

 


[i] Eckhart Tolle, A New Earth: Awakening to Your Life’s Purpose

 

Leave a Reply
<Modest Style