Berbincang dengan Produser ‘Honor Diaries’

,

Kekerasan atas dasar “kehormatan” terjadi di seluruh dunia, lintas budaya, dan agama. Meaghan Seymour berbincang dengan Paula Kweskin mengenai film dokumenter pertamanya yang menampilkan aktivis hak-hak perempuan dari seluruh dunia.

Paula Kweskin, menantikan masa depan yang lebih cerah bagi wanita di seluruh dunia
Paula Kweskin, menantikan masa depan yang lebih cerah bagi wanita di seluruh dunia

Film dokumenter Honor Diaries yang akan segera tayang menampilkan sembilan aktivis hak perempuan terkemuka yang berkumpul untuk terlibat dalam diskusi yang berlangsung selama beberapa hari. Dengan gaya yang setara, terbuka, dan emosional, percakapan mereka  berkisar di sekitar kekejaman kekerasan dan pelecehan atas dasar “kehormatan” yang dihadapi oleh perempuan dalam masyarakat mayoritas muslim. Selain untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu ini, pembicaraan mereka juga bertujuan untuk menginspirasi masyarakat untuk bertindak.

Saya mendapat kesempatan menyaksikan film ini sebelum resmi dirilis akhir bulan ini, sekaligus kesempatan untuk berbincang dengan produser, Paula Kweskin. Kami membahas tentang keterlibatannya dalam film, perannya dalam advokasi hak asasi manusia, dan apa lagi yang bisa dilakukan untuk mendidik masyarakat untuk mengakhiri kejahatan mengerikan yang dilakukan terhadap perempuan, seringkali atas nama budaya atau agama.

Memiliki latar belakang pengacara hak asasi manusia keturunan Israel-Amerika, Paula sangat ingin bergabung ketika dia mendengar adanya kesempatan untuk terlibat dalam sebuah proyek yang menyatukan aktivis hak-hak perempuan yang sepaham dan berdedikasi. Karena ingin memperluas kariernya di bidang hukum ke ranah advokasi, dan meyakini bahwa film adalah media yang sangat kuat untuk menyebarkan pesannya, film pertamanya, Honor Diaries, merupakan kesempatan yang sempurna.

Pesan apa yang dia harap dapat diterima oleh penonton? Dalam kata-katanya sendiri, Paula menjabarkannya untuk saya:

“Sungguh menjadi cita-cita saya untuk memberdayakan dan memperkuat perempuan yang terpinggirkan, dan perempuan yang telah mengalami kekerasan atau pelecehan, atau perempuan yang mengalami kekerasan dan pelecehan di daerah konflik juga. Tapi yang pasti penting adalah semua perempuan harus diberdayakan, entah mereka hidup di masa damai [atau tidak] dan saya pikir benar-benar penting bagi perempuan untuk mengenali diri mereka yang unik, bahwa mereka dapat menggunakan suara mereka untuk mempromosikan apa yang mereka yakini.

Namun, karena para wanita yang muncul di film ini berasal dari berbagai agama, atau memilih untuk tidak dikaitkan dengan agama tertentu, saya bertanya-tanya apakah adil untuk membingkai film ini dalam konteks “muslim”. Saya, awalnya, juga terganggu oleh fakta bahwa film ini diproduksi oleh beberapa profesional non-muslim. Selain itu, produser eksekutifnya Ayaan Hirsi Ali, yang bagi banyak wanita muslim adalah tokoh kontroversial. Dia beberapa kali berbicara di sepanjang film tersebut, namun dia tidak muncul dalam salah satu diskusi intim dengan para aktivis lainnya.

Namun, film ini juga diharapkan dapat menginspirasi pemirsa dari masyarakat di luar muslim dengan rasa tanggung jawab untuk memerangi kekerasan berdasar “kehormatan”. Dan dikemukakan dengan tegas oleh para wanita di dalam film ini bahwa sikap diam dengan alasan tata krama politik atau kepekaan budaya sebetulnya lebih berbahaya, karena dengan begini sama saja  membenarkan tindakan para pelaku kejahatan. Dengan kata lain, seperti ucapan Paula kepada saya, kita semua bertanggung jawab, apa pun latar belakang atau agama kita, untuk melindungi dan menjamin hak yang tercantum dalam Deklarasi Universal PBB tentang Hak Asasi Manusia. Seperti slogan film yang berbunyi, “Culture is No Excuse for Abuse /Kebudayaan Bukan Alasan untuk Penyiksaan”.

Memang, walaupun saya skeptis setelah melihat cuplikan film ini, berasumsi bahwa Honor Diaries akan berubah menjadi film kampanye anti-Islam lain, saya cukup senang. Tentu saja, ada beberapa potongan gambar wanita yang dicambuk atau dirajam yang diselipkan dalam film ini, mengingatkan banyak gambaran negatif media tentang muslim. Di sisi lain, jika insiden ini terjadi dalam skala besar seperti yang ditunjukkan statistik [i], adilkah untuk menghindarinya?

Kru produksi, patut dipuji, membuat penekanan untuk menampilkan para aktivis berbicara tentang perlunya untuk membedakan antara praktik-praktik budaya dan agama. Mereka juga dengan jelas dan lantang menyuarakan fakta bahwa kekerasan berdasar “kehormatan” merupakan isu global penting yang sangat perlu dihadapi, dan bukan masalah eksklusif yang terbatas pada kaum muslim.

Dalam membahas Honor Diaries dengan saya, Paula juga menekankan apa yang tampak jelas di film ini, dan tidak ada di film dokumenter lain dengan tema serupa: ‘Kami telah berupaya keras untuk memastikan bahwa perempuan yang teguh memeluk iman Islam mereka mampu berbicara secara terbuka dan jujur ​​tentang komitmen mereka untuk agama mereka. Raquel Saraswati dan Raheel Raza adalah contoh bagus dari wanita muslim yang kuat dan lantang yang merupakan pemimpin dalam komunitas mereka, dan komitmen mereka terhadap hak-hak perempuan tak tertandingi.’

Aktivis vokal Raquel Saraswati, mantan kontributor Aquila Style itu, tidak hanya benar-benar mewujudkan kepemimpinan yang kuat, tetapi sebagai seorang muslim yang berhijab, penampilannya yang berapi-api tentu memecah stereotip perempuan muslim berhijab yang  “tunduk”. Menurut Paula, menghapus stereotip tersebut adalah tujuan yang ia harapkan tercapai melalui film.

Tentu saja, saya ingin tahu apakah bekerja bersama aktivis yang menjadi bagian dari, atau memiliki koneksi yang kuat dengan, masyarakat muslim memberikan Paula perspektif baru mengenai cara mengangkat isu tersebut dalam konteks ini.

Dalam sebuah adegan menawan, salah satu aktivis menceritakan bagaimana dia, hanya dengan memberikan selebaran informatif kepada pamannya mengenai risiko bahaya yang terkait dengan mutilasi kelamin perempuan (FGM), mampu mengakhiri tradisi yang telah dijalankan oleh perempuan dalam keluarganya selama beberapa dekade. Bagi Paula, ini menandakan besarnya dampak pendidikan dan presentasi fakta, tapi sembari mendidik perempuan tentang hak-hak mereka, sama pentingnya untuk mendidik kaum pria tentang praktik berbahaya yang mungkin diam-diam mereka abaikan.

‘Perempuan juga melanggengkan kekerasan. Memang sulit, tapi saya harus jujur ​​dengan diri saya sendiri bahwa perempuan kadang-kadang menjadi pihak yang melakukan kejahatan.’

Walaupun film ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang persoalan tersebut, saya bertanya-tanya apa perbedaan yang akan dibuat Honor Diaries mengingat kenyataan bahwa masyarakat muslim sudah sering distereotipkan atau berhubungan dengan kekerasan atas dasar “kehormatan”, berkat berita yang tersebar secara luas dan karya dari berbagai organisasi non-pemerintah dan kelompok pemantau hak asasi manusia.

‘Para wanita dalam Honor Diaries merasa yakin bahwa suara mereka harus didengar juga. Maka film ini menjadi wadah bagi para wanita dalam film ini untuk berbicara menentang kekerasan dan ketidakadilan yang ditujukan kepada mereka sebagai perempuan, dan terhadap perempuan yang suaranya mereka wakili.’

Honor Diaries akan tayang perdana di Festival Film Chicago pada tanggal 13 Oktober. Tayangan perdana akan diikuti dengan diskusi panel yang melibatkan Paula Kweskin dan salah satu pemeran, antara lain Raheel Raza. Pelajari lebih lanjut di website Honor Diaries

[i] Honor Diaries, ‘Honor Violence Factsheet’, tersedia di sini

 

 

Leave a Reply
Aquila Klasik