Berbagi Natal sebagai Seorang Muslim

,

Hari raya ini tetap menjadi bagian dari jati dirinya, karena keluarga adalah penting. Oleh Eren Cervantes-Altamirano.

Gambar: Pixabay
Gambar: Pixabay

Saya dibesarkan di sebuah negara dengan penduduk mayoritas Katolik, tetapi dalam sebuah keluarga yang agak jauh dari agama. Meskipun demikian, kami merayakan Natal dan beberapa hari raya lainnya. Bagi  saya, waktu Natal tidak pernah menjadi hari libur keagamaan dalam pengertian istilah tradisional. Saya menemani keluarga saya ke misa (seperti yang saya lakukan pada banyak kesempatan lain) tapi saya belum pernah dibaptis dan karena itu tidak dianggap sebagai Katolik.

Sekarang sebagai seorang muslim, kadang-kadang saya mendebat identitas keagamaan saya. Saya menemukan bahwa di dunia saat ini, mengidentifikasikan diri sebagai sesuatu sering berarti harus bertentangan dengan sesuatu yang lain.

Setelah saya berhijrah, rekan-rekan mualaf saya menentang perayaan Natal atau bahkan mengakui hari raya ini. Hal ini sebagian karena komunitas muslim ini tak menyetujui penyebutan hari raya Kristen, dan sebagian karena banyak mualaf merasakan konflik untuk merayakannya dengan keluarga Kristen mereka ketika mereka sedang mencoba membesarkan anak-anak muslim.

Namun, setelah melalui banyak perdebatan, saya masih menganggap hari raya ini sebagai bagian dari identitas saya. Bagi saya, Natal selalu menjadi waktu ketika saya bisa berkumpul dengan keluarga saya (yang tersebar di berbagai negara bagian dan negara), dan kenangan keluarga saya yang terindah adalah pada hari-hari raya ini.

Misalnya, ketika saya masih berusia enam tahun, saya punya dua sepupu yang sebaya. Selagi kami berkumpul untuk hari raya tahun itu, kakek-nenek saya memelihara dua anak sapi di halaman mereka. Kami bermain dengan sapi-sapi tersebut, hanya untuk menyadari tak lama lagi mereka akan menjadi makan malam Natal. Kakek saya menyembelih mereka, meniriskan darah mereka, dan meminta nenek saya untuk membersihkan mereka.

Kemudian pada hari itu, semur tradisional disajikan. Tak perlu dikatakan, saya dan sepupu tidak bisa makan malam (dan sampai hari ini saya tidak bisa makan apa pun yang saya telah lihat dalam keadaan hidup). Sepupu saya dan saya mengenyangkan diri dengan keripik kentang dan permen malam itu, dan sakit keesokan harinya. Tapi kenangan ini adalah yang saya hargai dari masa kecil saya.

Menjadi muslim menimbulkan pertanyaan, apa artinya Natal? Sebagai seorang muslim dalam konteks Kristen, apa yang harus saya lakukan?

Saya menemukan bahwa salah satu tantangan utama saya sebagai seorang muslim adalah komunitas muslim di sekitar saya. Warga di tempat saya menyelenggarakan sejumlah acara bagi non-muslim untuk berpartisipasi dalam perayaan Ramadhan atau memahami Islam terutama dalam konteks Islamfobia. Namun, saya melihat mereka hanya tahu sedikit tentang hari-hari raya lainnya. Ada upaya aktif untuk merekrut orang-orang agar memeluk Islam, tetapi hanya ada sedikit antusiasme untuk menghargai agama-agama lain.

Saya mengerti hal itu tidak mudah karena mengeksplorasi agama-agama lain bisa memunculkan pertanyaan tentang keyakinan kita sendiri, tapi saya pikir pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya akan memperkuat iman kita. Sekarang sebagai seorang muslim yang mengunjungi keluarga Meksiko-nya, saya mengambil bagian dalam kemeriahan Natal karena hari ini penting untuk keluarga saya – dan sebagai seorang muslim, keluarga adalah penting bagi saya. Sementara keluarga saya belum tentu memahami pandangan saya tentang agama atau ibadah apa yang saya jalani (sebagian besar dari mereka hanya mendengar Islam dari berita), tetapi mereka menyambut saya seperti mereka menyambut orang lain.

Karena saya melakukan upaya sadar untuk berpartisipasi dalam Ramadhan dan perayaan Idul Fitri dan mengundang orang lain untuk mengeksplorasi hari raya muslim, saya merasa bahwa berbagi hari raya Natal dan hari raya non-muslim lainnya akan menghasilkan masyarakat yang lebih kuat yang berusaha untuk menjadi inklusif (misalnya, hanya hidangan halal yang akan disajikan selama makan malam di keluarga saya).

Dengan demikian, sebagai seorang muslim saya senang mengucapkan selamat kepada orang-orang di hari Natal, berbagi meja mereka dan berpartisipasi dalam perayaan – sama seperti saya berharap suatu hari mereka akan berbagi hari raya muslim dengan saya.

Selamat Hari Natal dan Feliz Navidad!

Leave a Reply
Aquila Klasik