Bahagia dalam Pernikahan – Meski Tanpa Anak

,

Menurut Meaghan Seymour, pasangan menikah serta perempuan yang memutuskan menunda memiliki anak – atau tidak menginginkan anak – tidak seharusnya merasakan keharusan mencari alasan yang dapat menguatkan keputusan mereka ataupun khawatir terhadap penerimaan orang lain.

(Gambar: SXC)
(Gambar: SXC)

Perempuan selalu berada dalam posisi yang sulit dalam membuat keputusan untuk menunda atau untuk tidak memiliki anak. Bagi perempuan Muslim, hal ini bahkan lebih parah.

Keinginan untuk tidak memiliki anak (atau paling tidak, tidak sekarang) seringkali dihadapkan dengan banyak cobaan. Dalam masyarakat relijius, memiliki anak dianggap sebagai kewajiban spiritual. Dan bagi kebanyakan orang, hal ini berkaitan juga dengan kewajiban terhadap masyarakat tersebut. Bagi kebanyakan orang lainnya, memiliki anak adalah satu-satunya inti dan tujuan dari pernikahan.

Setelah beberapa tahun menikah, pembicaraan soal anak jarang sekali muncul antara saya dan pasangan. Namun hal ini tidak menghentikan orang lain mengungkit-ungkit soal tersebut bahkan sejak hari pernikahan kami.

Sudah tidak aneh lagi mendengar orang-orang menanyakan kapan kami berencana memiliki anak, mengatakan bahwa kami menyia-nyiakan waktu yang berharga, atau menyarankan kami mengadakan syukuran untuk meminta Allah agar memberi kami anak secepat mungkin (meski kami belum menginginkan hal tersebut). Maksud “interogasi” ini mungkin baik, namun tanggapan keras yang terkadang kami terima saat mengungkapkan keinginan kami untuk menunda memiliki anak terasa melanggar privasi.

Dan meski soal memiliki anak adalah urusan kedua belah pihak, saya sebagai perempuanlah yang biasanya harus menanggapi berbagai pertanyaan tentang anak ini. Melalui penjelasan yang terdapat di Qur’an, dalam lingkup rumah tangga perempuan disebut sebagai pihak yang memiliki bakat untuk mengasuh dan mengurus anak. Dan meski hal ini bukan sesuatu yang mutlak, banyak orang memilih untuk meyakini bahwa itulah peran yang harus diemban seorang perempuan. Padahal Qur’an tidak memerintahkan pasangan untuk memiliki keturuan maupun melarang perempuan memilih hidup tanpa kewajiban untuk menjadi seorang ibu.

Berulang kali kita diperingatkan tidak hanya di Qur’an, namun juga di hadits, bahwa seorang ibu memiliki derajat tertinggi di mata Yang Maha Kuasa. Kita diberitahu bahwa surga terletak di kakinya [i], dan bahwa setelah Tuhan, ia adalah sosok yang paling berhak atas ketaatan kita [ii]. Namun, bila status ibu bukanlah yang saat ini diinginkan oleh seorang perempuan (dan juga pasangannya), tidak seharusnya hal tersebut menjadi masalah.

Gaya hidup ideal bagi perempuan Muslim modern tidak hanya dicontohkan oleh satu pola. Banyak ibu superstar yang membuktikan bahwa peran sebagai orang tua yang baik dapat berjalan berdampingan dengan peran sebagai perempuan karir/akademisi/aktivis yang sukses. Banyak ibu rumah tangga yang merasa bahwa pekerjaan mereka adalah yang paling memuaskan. Namun perempuan yang menyatakan ingin menunda, atau tidak ingin, memiliki anak mendapat cap ini itu, termasuk bahwa hidup mereka tidak akan pernah lengkap tanpa anak.

Muslim ataupun non-Muslim, ucapan-ucapan yang ditujukan kepada pasangan yang tidak memiliki anak kadang sangat kejam. Pemikiran miring tentang feminisme seringkali dikambinghitamkan dalam menanggapi keputusan seorang perempuan untuk menunda memiliki anak. Padahal sepemahaman saya, paling tidak, feminisme meliputi hak perempuan untuk memilih dan menentukan kapan ingin berkembang dan menciptakan kehidupan baru – suatu hal yang penuh keajaiban dan pantas dirayakan. Saya setuju bahwa pekerjaan seorang ibu adalah pekerjaan yang paling diremehkan di dunia. Saya sangat menghormati pekerjaan tersebut, namun saya belum menginginkannya.

Sangat mungkin menyayangi dan menyukai anak kecil meski tidak ingin memiliki anak. Foto anak-anak teman kami membuat kami gemas. Kami sebal karena keponakan kami tinggal di tiga benua yang berbeda. Membuat anak-anak di depan rumah kami tertawa terasa membahagiakan. Dan kami akan dengan senang hati menjaga anak-anak Anda, kapanpun! Namun, betapapun pernikahan kami sangat membahagiakan, kewajiban untuk mengurus anak secara purna waktu merupakan tantangan yang belum siap kami hadapi. Entahlah, mungkin kami tidak akan pernah siap.

Namun untuk saat ini, kami cukup senang dan menikmati hidup kami yang sederhana, hanya kami berdua, beserta semua kucing kami. Dan sekali lagi, semua pasangan yang ingin menunda atau tidak ingin memiliki anak tidak seharusnya merasakan keharusan untuk memiliki alasan yang menguatkan keputusan mereka maupun mengkhawatirkan penerimaan orang lain. Karena, pada dasarnya, keputusan yang mereka buat adalah keputusan mereka pribadi.

________________________________________

[i] diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Jahimah As-Sulami, dalam Sunan an-Nasa’i 3104, di sini
[ii] diriwayatkan oleh Abu Huraira, dalam Sahih Muslim 2548 b, di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik