Modest Style

Backpacking ke Bali

,

Cahya Meythasari menceritakan keseruan perjalanannya menjelajah Pulau Dewata baru-baru ini.

[Not a valid template]

Ada berbagai cara bagi para pekerja urban untuk mengembalikan kepenatan mereka dalam bekerja. Ada yang memilih tidur sepuasnya pada hari libur, ada pula yang memilih untuk rehat sejenak dengan bepergian ke suatu tempat. Saya memilih yang kedua; rasa jenuh dan kepenatan akibat pekerjaan sehari-hari membuat saya merasa perlu menyegarkan kembali otak dan tubuh saya dengan pergi ke suatu tempat yang mengasyikkan.

Seperti biasa, saya memilih metode backpacker (bepergian seadanya dengan hanya membawa ransel) untuk berwisata karena selain lebih ekonomis, cara ini cukup menantang bagi orang-orang yang suka berpetualang seperti saya. Terlebih lagi, jika kita belum pernah mengunjungi daerah tujuan.

Saya dan seorang teman saya yang memiliki hobi sama merencanakan untuk melakukan perjalanan ke Bali. Dengan berbekal seadanya, kami merencakan perjalanan selama empat hari di Bali, seluruhnya menggunakan jalan darat.

Karena pemerintah telah memutuskan per 1 Januari 2014 untuk menghapus subsidi kereta api kelas ekonomi, kami harus mengocek kantong lebih dalam untuk membeli karcis kereta yang kenaikan harganya melebihi 50 persen. Tetapi menurut kabar burung yang saya dengar, per 1 April 2014 nanti tarif kereta api kelas ekonomi ini akan dikembalikan kembali ke tarif bersubsidi.

Namanya juga backpacking, rute yang kami ambil tidak sesingkat Bandara Soekarno Hatta – Bandara Ngurah Rai Denpasar. Maka beginilah rute Jakarta ke Bali yang kami jalani:

Stasiun Pasar Senen, Jakarta – Stasiun Gubeng, Surabaya – Stasiun Banyuwangi Baru, Banyuwangi – Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi – Pelabuhan Gilimanuk – Terminal Ubung, Denpasar

Kami memulai perjalanan kami pukul 14.00 dari Stasiun Pasar Senen dan tiba di Stasiun Gubeng Surabaya sekitar pukul 05.30 keesokan harinya. Setelah keluar dari Stasiun Gubeng Surabaya, kami mencari tempat untuk membersihkan diri dan shalat. Kebetulan, di sekitar stasiun tersebut banyak terdapat kamar mandi umum dengan tarif Rp 3000 – Rp 5000 saja.

Setelah mencicipi soto khas Surabaya di warung yang tidak jauh dari tempat kami beranjak, kami melanjutkan perjalanan. Jadwal keberangkatan kereta kami menuju Banyuwangi baru ada sekitar pukul 13.00, sehingga kami mendapat kesempatan 6 jam untuk sedikit menjelajahi Kota Surabaya. Museum Sampoerna menjadi tujuan kami dan kami pun menyempatkan diri untuk makan siang. Jika bisnis dan sejarah adalah minat Anda, saya merekomendasikan untuk berkunjung ke museum ini. Di sini Anda bisa mendapatkan motivasi untuk terus bangkit dan berjalan melalui pasang surut kehidupan.

Kami lalu kembali ke Stasiun Gubeng dan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Banyuwangi Baru. Kami tiba sekitar tengah malam di Stasiun Banyuwangi, yang tidak jauh dari Pelabuhan Ketapang (bisa dicapai dengan berjalan kaki karena hanya berjarak sekitar 100 meter saja). Dengan tiket sebesar Rp 7500 kami berangkat menuju Gilimanuk dengan menggunakan kapal ferry.

Perasaan saya campur aduk. Betapa tidak, ini adalah perjalanan pertama kami menuju Bali dengan jalur darat, dan pengalaman pertama kali saya menaiki kapal ferry. Hanya satu jam perjalanan, kami tiba di Pelabuhan Gilimanuk yang tidak terlalu jauh dengan kerumunan bus yang sudah siap mengangkut penumpang.

Setelah dilakukan pemeriksaan KTP di pelabuhan, kami langsung berangkat menuju Terminal Ubung, Denpasar dengan tarif Rp 30.000 (jika harga yang ditawarkan lebih dari nilai ini, Anda bisa menawar). Kami pun sampai di tujuan dengan waktu tempuh 4 jam dan tepat waktu menuju tempat penginapan.

Banyak blogger yang merekomendasikan penginapan murah dan nyaman di Bali. Kami memilih Losmen Arthawan yang terletak di Jalan Poppies Lane 2. Selain harganya yang terjangkau (Rp 90.000 per malam), losmen ini lokasinya strategis, yaitu dekat dengan Monumen Bom Bali 2 dan hanya butuh waktu 10 menit jalan kaki untuk mencapai Pantai Kuta. Harga ini pun dan sudah termasuk makan pagi dengan menu roti dengan telur atau Banana Pancake ditambah dengan salad buah (pisang dan nanas). Fasilitas yang tersedia di kamar adalah kasur, meja, lemari, kipas angin dan kamar mandi. Kami pun beristirahat sejenak sebelum cahaya matahari terbit.

Keesokan harinya, kami bangun, mandi dan segera sarapan. Seketika kami siap untuk menjelajahi Bali. Untuk menjelajahi tempat-tempat wisata di Bali dengan ekonomis dan mudah, kami menggunakan motor yang banyak ditawarkan di sekitar Poppies Lane. Biaya sewa motor adalah Rp 50.000 per hari. Kebetulan saya dan teman saya ini terbiasa menggunakan motor, jadi kami bisa bergantian mengemudi motor ketika merasa lelah. GPS tentunya menjadi sahabat setia kami selama berkelana di Bali. Banyak terima kasih untuk penemu GPS!

Perjalanan kami mulai dengan menjelajahi bagian selatan Bali, yaitu wilayah Uluwatu. Di perjalanan, kami melewati Garuda Wisnu Kencana (GWK) sehingga rasanya tidak lengkap rasanya jika kami tidak mengunjungi monument ini dan berfoto di sana.

Sedikit mengulas, GWK adalah area taman budaya  yang berada di ketinggian 263 meter di atas permukaan laut. Pada kawasan ini dulu direncanakan akan didirikan sebuah landmark atau maskot Bali, yakni patung Dewa Wisnu berukuran raksasa yang sedang menunggangi tunggangannya, Garuda setinggi 12 meter. Namun pengerjaannya belum terselesaikan, sehingga seluruh bagian patung (patung Dewa Wisnu, patung Garuda, dan patung tangan Dewa Wisnu) terpisah namun masih dalam satu kawasan GWK. Dengan biaya Rp 30.000 kami puas berkeliling dan berfoto-foto.

Tujuan selanjutnya adalah Pantai Dreamland, pantai yang dulu dikenal sebagai pantai tersembunyi. Meskipun sekarang pantai ini sudah ramai, namun tidak mengurangi keindahan pemandangan berpasir putihnya. Kami sempat bermain di pantai, mengenang luapan kebahagiaan masa kecil.

Perjalanan kemudian kami lanjutkan ke pantai Siluban yang tidak jauh dari sana. Pantai di antara tebing-tebing tinggi ini terkenal dengan keindahan matahari tenggelamnya. Keindahan ini bisa dinikmati sambil mencicipi kelapa muda segar di warung sekitar. Dengan penuh syukur kami berhasil menangkap momen tersebut.

Pada perjalanan pulang, kami menyempatkan diri melihat pertunjukan tari kecak sekitar pukul 18.30 hingga 19.30 WITA di Amphitheatre dengan gratis. Akhirnya, kami kembali untuk beristirahat di losmen dan menyiapkan tenaga untuk menjelajah pulau ini kembali keesokan harinya.

Dari menyaksikan matahari terbit hingga tenggelam di Bali menggambarkan perjalanan kami kali ini. Setelah menyaksikan matahari terbenam, kami pun bersemangat menyaksikan mentari terbit di Bali. Pantai Sanur adalah pantai yang terkenal dengan pemandangan matahari terbit paling indah di Bali. Biaya masuknya pun gratis. Demi mengabadikan pemandangan tersebut, kami rela berangkat menuju pantai pukul 04.00 WITA. Tak berapa lama kemudian, mata kami disajikan semburat mentari terbit nan indah, seiring dengan ucapan kalimat-kalimat syukur yang tak henti kepada Sang Maha Pencipta.

Kami lalu beranjak menuju  bagian tengah Bali, Ubud dan sekitarnya. Kami mengunjungi Monkey Forest. Di sini banyak berkeliaran monyet-monyet liar yang terkadang nakal, mengambil makanan ataupun barang bawaan kita lainnya. Tapi kami semua senang melihat tingkat monyet-monyet yang lucu dan menjadi bahan tertawaan semua pengunjung itu.

Tidak terlalu jauh dari sana, kami mengunjungi Pasar Sukawati untuk membeli oleh-oleh khas Bali. Tawar menawar harga mutlak harus dilakukan di sini. Bahkan sah saja untuk menawar hingga sepertiga dari harga yang ditawarkan. Menurut informasi yang kami dengar, waktu paling tepat ke sini adalah di pagi hari sekitar jam 8-10 karena biasanya para pedagang baru selesai sembahyang. Menurut kepercayaan mereka, jika dagangan laku di pagi hari, maka keberuntungan akan dating pada jam-jam berikutnya.

Waktu menunjukkan pukul 14.00 WITA. Kami segera ke Tanah Lot untuk menyaksikan salah satu pemandangan indah matahari terbenam dari sudut Bali yang lain. Obyek wisata Tanah Lot terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, yaitu sekitar 30 menit ke arah barat laut dari Kuta. Di sebelah utara pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung).

Hari terakhir di Bali, kami menyempatkan diri untuk pergi ke bagian timur Bali, yaitu Kintamani dan sekitarnya. Kintamani adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bangli yang merupakan kawasan wisata pemandangan alam di Bali. Objek ini menawarkan suasana perbukitan yang sejuk dengan pemandangan Gunung dan Danau Batur. Setelah puas berkeliling dan berfoto-foto, kami segera kembali ke losmen untuk check out.

Untuk perjalanan pulang kami melakukan hal-hal yang kurang lebih sama, namun dengan rute yang agak berbeda. Kami naik bus dari Ubung ke Gilimanuk dengan waktu tempuh tiga sampai empat jam (biaya Rp 30.000). Kemudian kami naik kapal penyeberangan (tanpa iuran PMI berharga Rp 6500). Rute yang berbeda adalah dari Banyuwangi kami naik kereta AC-Ekonomi Tawang Alun jurusan Banyuwangi-Malang dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Lalu dilanjutkan dengan kereta AC-Ekonomi Matarmaja jurusan Malang-Pasar Senen dengan waktu tempuh sekitar 18 jam. Wow, melelahkan memang jika dibayangkan, tetapi sangat menyenangkan ketika dijalani.

Hal-hal baru dan pengalaman-pengalaman baru kami dapatkan dalam perjalanan ini. Tentu saja dengan juga membawa pulang bekal syukur atas alam indah yang tersaji. Hal-hal inilah yang kami cari ketika bepergian, kemanapun tujuan kami. Karena bagi kami, sebuah perjalanan bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk mengingatkan diri bahwa bumi dan isinya diciptakan oleh Allah SWT dan segala yang terbentang di atasnya patut untuk disyukuri.

Leave a Reply
<Modest Style