Modest Style

Assalamu’alaikum: Sapaan sederhana penebar damai dan kasih

,

Seberapa sering kita bertemu Muslim lain dan lupa menyapa mereka? Fatimah Jackson-Best memaparkan mengapa hal tersebut penting.

Gambar: Picjumbo
Gambar: Picjumbo

Sebuah hadits yang cukup populer menyatakan bahwa hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: Mengucap salam, memenuhi undangan, memberi nasihat saat diminta, memohonkan ampunan Tuhan setelah bersin, menjenguk yang sakit, dan menghadiri pemakamannya.[i] Hak-hak ini penting baik Anda mengenal Muslim tersebut atau tidak, dan baik Anda menyukainya atau tidak.

Keindahan hadits ini terletak pada petunjuk yang diberikannya tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan sesama dari awal hingga akhir hayat. Nabi Muhammad SAW pasti merupakan seorang yang bijak, dan banyak hadits membantu kita merefleksikan hidup melalui hidupnya. Kata-katanya juga memungkinkan kita menggali lebih dalam untuk mencari makna lebih besar yang dapat kita maknai dan gunakan dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, hadits ini secara lugas menggarisbawahi nilai kasih dan penghargaan, yang harus mengawali segala yang kita lakukan. Tidak membutuhkan lebih dari sehembusan napas untuk menyapa seseorang dengan mengucap “assalamu’alaikum”, yang bermakna “kedamaian dan kesejahteraan menyertai Anda”. Namun seberapa sering kita berselisih jalan dengan seorang Muslim dan tidak mengatakan apapun?

Saya menjadi semakin sensitif mengenai hal ini karena tinggal di Barbados di mana umumnya orang-orang saling mengucap “selamat pagi”, “selamat siang”, dan “selamat malam” meski tidak saling kenal. Saya mengikuti kebiasaan ini – keramahtamahan yang mempertemukan saya dengan suami – sejak lama. Sekadar ucapan selamat pagi dapat membuat Anda merasa berarti dan di hari yang buruk, menjadi sangat berharga.

Meski saling menyapa umum di kalangan non-Muslim Barbados, saya menyadari bahwa sebagian Muslim di sini bahkan tidak sekadar mengucap “salaam” di pasar atau saat berselisih jalan. Sayangnya, hal ini tidak hanya terjadi di pulau kecil tempat saya tinggal. Tampaknya tren yang berlaku di banyak kota besar yang pernah saya tinggali atau kunjungi adalah sesama Muslim tidak saling menyapa penuh sayang atau hormat. Hal ini menyedihkan karena sebagai Muslim kita tahu, maka sudah seharusnya kita berbuat lebih. Mudah saja menyalahkan hidup yang serba cepat, kendala bahasa, gadget, atau alasan apapun, namun sebenarnya tidak satupun dari hal tersebut yang cukup baik dijadikan alasan.

Menyapa seseorang dengan doa kedamaian merupakan cara mudah untuk menjadi sesuatu yang positif dan penuh kasih di kehidupan orang lain – Muslim atau bukan. Dengan menyampaikan salam kepada orang lain, kita merendahkan diri dan mendoakan hal baik untuk orang lain, yang mungkin tidak kita kenal. Bahkan lebih hebat lagi jika Anda mendoakan kedamaian bagi seseorang yang tidak terlalu Anda sukai, karena artinya Anda mengalahkan ego Anda dan memahami bahwa Anda mengucap salam untuk mendapat ridho yang Kuasa. Tidak seharusnya ada seorang pun yang memiliki kuasa begitu besar atas diri Anda sampai menghalangi Anda dari menyampaikan salam yang paling dasar – namun kemungkinan memiliki dampak besar.

Bukan kebetulan tentunya menyapa seorang Muslim dengan doa kedamaian menjadi yang pertama di antara keenam hal yang disebutkan di hadits. Jika kita tidak dapat melakukan yang satu ini, seberapa besar kemungkinannya kita dapat melakukan lima lainnya? Akankah Anda cukup peduli untuk mengunjungi tetangga yang sakit atau menghadiri pemakaman mereka jika Anda bahkan tidak cukup peduli untuk mengucap “salaam”?

Anggap sapaan tersebut sebagai sebuah gerbang menuju hubungan yang lebih baik, bertemu orang-orang baru, dan menjadi seorang yang lebih baik. Beberapa pekan yang lalu di pasar tradisional setempat, saya memutuskan akan menyapa semua perempuan Muslim lebih tua yang saya jumpai secara rutin selama bertahun-tahun namun tidak saya tegur karena terlalu malu. Hasilnya, saya jadi berteman dengan Fatima, yang kini membiasakan diri menyapa saya. Akhir pekan lalu, ia bahkan membagikan rahasia orang dalam tentang di mana mendapat mangga, yang langsung saya sukai. Hal-hal ini tidak mungkin terjadi jika saya tidak berinisiatif mengamalkan ajaran Islam.

Setiap orang berhak atas kedamaian dan kasih sayang di lingkungan di mana begitu banyak kekerasan, kebencian, dan keacuhan terjadi. Jangan pernah lupa bahwa kata-kata itu memiliki kekuatan dan makna, jadi jika Anda mengucapkan kata-kata baik kepada dunia, maka kata-kata tersebut akan bermanfaat bagi orang lain dan pada akhirnya juga bagi Anda. Mudah saja melupakan kewajiban kita pada satu sama lain, namun ingatlah satu hal ini yang sangat mendasar bagi kesejahteraan pribadi dan sosial.


[i] Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dalam Bukhari, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style