Modest Style

Apakah Perempuan Muslim Butuh Lelaki Muslim?

,

Mana yang lebih buruk : perempuan yang tidak mendukung perempuan lain, atau lelaki yang bersalah karena alasan yang sama? Fatimah Jackson-Best menjelaskan mengapa kita tidak harus memilih.

(Gambar: SXC)
(Gambar: SXC)

Saya mungkin sedikit bias tetapi saya percaya bahwa perempuan mampu melakukan apa pun yang kita pikirkan. Ini termasuk memimpin negara, membesarkan keluarga, dan mengubah dunia tempat kita hidup menjadi lebih adil. Sebagai seorang wanita saya harus percaya akan hal ini karena pada akhirnya, saya percaya pada diri sendiri dan dalam kapasitas umum dari gender saya untuk melakukan hal-hal besar terlepas dari ketidaksetaraan.

Namun belakangan ini, saya telah berpikir tentang apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menghilangkan kesenjangan yang meliputi agama, budaya dan masyarakat. Memiliki perempuan yang memegang kendali jelas, tetapi untuk mendorong perubahan, apakah kita juga perlu pria Muslim untuk berpartisipasi dalam pertempuran terberat perempuan Muslim?

Saya dibesarkan di dalam sebuah komunitas Muslim di mana perempuan yang berperan sebagai amirah atau alimah bukanlah tidak biasa. Mereka akan mengadakan musyawarah dengan pria yang memiliki status yang setara dan lebih rendah saat mereka membuat keputusan untuk komunitas kami. Dalam pikiran muda saya para perempuan inilah yang membuat keputusan, dan mereka jugalah contoh awal saya akan perempuan muslim yang kuat.

Sebagai seorang dewasa, sekarang saya bisa melihat kembali dari segi konteks dan pengawasan. Di balik pintu tertutup saya tidak bisa memastikan bagaimana perempuan dianggap, dan resistensi seperti apa yang mungkin mereka alami di dalam suatu organisasi yang sangat laki-laki. Saya juga tahu bahwa meskipun ada banyak perempuan di tingkat organisasi, komunitas kami masih menjadi korban patriarki, seksisme dan ketidaksetaraan. Perempuan dicegah menghadiri sekolah jika mereka tidak menikah. Tidak ada kebijakan garis keras terhadap kekerasan dalam rumah tangga, atau kebijakan untuk hak-hak anak. Perceraian yang diprakarsai oleh seorang wanita sulit, dan dalam beberapa kasus tidak mungkin untuk diterima. Dan tidak ada cara bagi seorang wanita untuk mencapai gelar tertinggi dalam kepemimpinan organisasi.

Di dalam komunitas saya, perempuan Muslim memiliki peran kepemimpinan, tetapi mereka juga mendukung cita-cita tertentu tentang Islam dan kualitas perempuan Muslim yang mempertahankan status quo bahkan jika ini bertentangan dengan realitas mereka sendiri. Mengapa hal ini terjadi mungkin membingungkan bagi sebagian orang, tapi bagi saya cukup jelas: setiap pemimpin yang melayani ide besar yang cacat tidak akan membawa perubahan. Ide besar ini mungkin sebuah ideologi, sebuah mazhab pemikiran atau fatwa, tetapi yang manapun ia, ia tidak mendukung pergeseran ide karena ketidakpastian dan kekacauan yang bisa disebabkannya. Jadi, ini bukan karena para perempuan telah “menjual diri”, namun struktur di mana mereka berkiprah telah dibangun untuk membungkam pandangan yang berlawanan.

Jenis struktur ini ada dimana-mana. Struktur itu kemungkinan besar adalah salah satu alasan mengapa wanita Muslim, yang duduk dalam protes di sebuah masjid Barbados yang melarang wanita masuk, telah terusir; namun kebijakan tersebut tetap tidak berubah sampai hari ini. Tidak ada kepentingan organisasi masjid atau mayoritas jamaah laki-laki untuk mengubah struktur tersebut karena sistem ini tidak dianggap mempengaruhi kehidupan atau ibadah mereka.

Ini adalah mengapa saya percaya bahwa perempuan Muslim yang ingin melihat perubahan memang membutuhkan pria Muslim yang akan berjuang bersama kita. Kita membutuhkan mereka untuk membantu mengubah struktur yang mencegah kita dari memiliki ruang masjid berkualitas baik atau mengecualikan kita dari urusan agama dan pengetahuan Islam. Kita membutuhkan mereka untuk berdiri bersama kita dari tantangan seksisme dan ketidaksetaraan yang kita hadapi, bahkan jika mereka mendapat manfaat dari tiadanya perubahan. Kita membutuhkan mereka untuk bekerja sama dengan kita untuk menciptakan masyarakat yang sehat yang mencerminkan kebutuhan pria dan wanita – kebutuhan yang dibudidayakan dan dipelihara oleh kita semua.

Jadi jelas kita tidak perlu sembarang pria, kita membutuhkan pria yang bersedia mengotori tangan mereka dan mendorong perlawanan terhadap tren di masyarakat kita yang mencabut hak-hak perempuan. Siapa yang lebih baik untuk melakukan advokasi terhadap kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual dan pemerkosaan daripada pria? Suka atau tidak, kita berada dalam hal ini bersama-sama.

Ratusan artikel tentang pemberdayaan perempuan Muslim dapat ditulis, namun pada akhirnya akan sampai ke titik memberi khotbah pada orang yang sudah percaya. Kebanyakan perempuan setuju bahwa kita harus mendapatkan hak-hak kita. Tetapi, orang-orang yang secara sadar maupun tidak sadar mendapat manfaat dari marjinalisasi perempuan harus mendukung (dan vokal) juga. Isu-isu ini mempengaruhi kita semua, dan jika kita ingin sukses sebagai komunitas Muslim global, kita perlu saling mendukung.

Leave a Reply
<Modest Style