Modest Style

Apakah Mempelajari Agama Lain Tidak Islami?

,

Berinteraksi dengan orang-orang dari keyakinan lain memperluas pikiran kita dan tidak mengancam iman kita, tulis Meaghan Seymour.

Keakraban dengan semua warna pelangi membuat pengalaman hidup lebih kaya, kata Meaghan Seymour. (Gambar: Photl)
Keakraban dengan semua warna pelangi membuat pengalaman hidup lebih kaya, kata Meaghan Seymour. (Gambar: Photl)

Pada bulan September, sebuah sekolah di Lahore, Pakistan, memutuskan untuk menambahkan mata pelajaran perbandingan agama untuk kurikulum mereka. [i] Desas-desus menyebar bahwa sekolah itu telah menggantikan Islamiat, atau mata pelajaran Islam, dengan mata pelajaran baru itu (yang sebetulnya tidak, mata pelajaran Islam tetap menjadi bagian dari kurikulum). Namun demikian, seluruh kehebohan itu berakhir dengan drama di media dan sekolah akhirnya membatalkan mata pelajaran tersebut.

Saya heran mengapa sepertinya sebagian muslim begitu reaktif terhadap gagasan sekadar belajar tentang agama-agama lain?

Berpartisipasi dalam kegiatan lintas agama adalah hal yang selalu penting bagi pertumbuhan rohani saya dalam Islam. Dalam sebagian besar tahun-tahun yang saya lewati di universitas, saya menjadi seorang muslim yang menjalankan ibadah dan aktif terlibat dengan sebuah organisasi multi-agama di kampus. Pada saat yang sama, saya mengambil jurusan Studi Islam, tetapi sebagai bagian dari kurikulum, saya dituntut untuk mengambil banyak mata pelajaran penunjang lainnya untuk memperoleh perspektif yang lengkap. Modul-modulnya meliputi ajaran Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, dan bahkan filsafat sekuler yang mengkritik agama dan mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Walaupun saya mendapat banyak pengalaman positif dalam kedua kegiatan tersebut, berusaha untuk melibatkan anggota komunitas muslim saya yang lebih luas dalam kegiatan antaragama ternyata jauh lebih menantang.

Ada kalanya, misalnya, ketika saya menyelenggarakan “Hari Musola Terbuka” di kampus, di mana para siswa bisa memasuki ruang shalat yang biasanya hanya diperbolehkan untuk umat Islam. Di sini mereka bisa minum secangkir teh dan secara terbuka mengajukan pertanyaan tentang Islam.

Acara ini hampir berantakan ketika salah seorang anggota komunitas secara anonim meninggalkan surat bernada marah yang ditempel di pintu. Surat ini menyatakan bahwa “tidak ada dialog antaragama dalam Islam” dan bahwa daripada mengizinkan mahasiswa masuk ke ruang shalat, “non-muslim dapat membaca Al-Quran dan pindah agama, atau tetap menjadi musuh kita”.

Atau saat-saat ketika saya menemukan kelompok-kelompok mahasiswa muslim di acara-acara antarbudaya di kampus yang berusaha keras memojokkan pembicara tamu. Mereka akan membagikan selebaran generik tentang Islam, berharap untuk menginspirasi orang untuk pindah agama, alih-alih menjadi bagian dari perayaan keragaman. (Dan, jujur ​​saja, apakah kita dapat mengecilkan makna Islam ke dalam sehelai selebaran tipis berisi poin-poin?)

Saya sampai pada kesimpulan bahwa teman-teman muslim saya mungkin tidak tertarik seperti saya dalam menjangkau orang-orang dari agama lain. Tapi ketika saya membaca kisah sekolah di Lahore, saya mulai takut bahwa itu berarti banyak muslim yang menganggap dialog antaragama sebagai hal yang tak patut.

Cara media Islam populer memberitakan agama lain mencerminkan sentimen itu. Saya menemukan bahwa sumber yang paling mudah kita akses mengenai topik agama lain (seperti yang di-posting secara online), sering merupakan upaya untuk menyangkal, meremehkan, atau mengkritik mereka.

Ambil contoh video populer tokoh Islam atau ulama yang “memenangi” perdebatan melawan pemimpin agama Kristen. Atau buku-buku yang dicetak oleh penerbit muslim yang berbicara tentang agama-agama lain dari sudut pandang Islam dan mengapa agama-agama tersebut keliru. Buku-buku ini tidak ditulis dari sudut pandang agama itu dan apa yang dipercayai umatnya – sehingga membuatnya jadi buku yang mungkin akan kita diskreditkan seandainya situasinya dibalik.

Atau ambillah contoh bagaimana cerita-cerita mualaf biasanya tidak berfokus pada perjalanan spiritual atau emosional si subjek, melainkan pada penegasan mereka tentang Islam sebagai kebenaran “yang terbaik”.

Meskipun Islam mungkin menjadi Kebenaran yang tidak dipertanyakan bagi umat Islam, sekitar 5,5 miliar penduduk dunia lain dengan siapa kita berinteraksi (yang merupakan teman, tetangga, kolega dan karyawan kita) menemukan kebenaran mereka melalui cara-cara yang berbeda. Meskipun “berbeda”, kita dapat dengan cepat menyadari bahwa kita memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang kita kira. Bagaimanapun, menjadi orang baik dan berusaha menuju kebaikan yang lebih besar di dunia adalah denominator umum agama-agama besar dunia, apa pun bahasa yang digunakan untuk menggambarkan hal itu.

Berbagi kesamaan dan belajar untuk menghargai dan menghormati satu sama lain tidak berarti iman kita sendiri akan terancam. Sebaliknya, hal ini mungkin akan membantu untuk lebih menegaskan kembali iman kita. Demikian juga, tidak ada pemenuhan spiritual yang dapat ditemukan dalam proses mendebat keyakinan orang lain. Tentunya, Islam tidak perlu “memenangi” apa-apa.

Para kepala sekolah Lahore memiliki pikiran-pikiran yang sama dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah banyak pertentangan publik terhadap keputusannya:

Islam mengajarkan kita untuk memperluas pikiran kita, bukan menutupnya; bahkan, Islam meminta kita untuk mencari ilmu dari buaian sampai ke liang kubur. Belajar dan memahami agama dan budaya lain tidak akan dan seharusnya tidak mengancam keyakinan pribadi kita, melainkan malah memperkuatnya. Kami kukuh percaya bahwa mata pelajaran ini membantu membentuk warga negara yang lebih baik, muslim yang lebih terdidik dan rakyat Pakistan tercerahkan yang percaya diri akan identitas mereka. [ii]

Dalam dunia di mana kita lebih sering terguncang dan terpecah karena perbedaan-perbedaan lebih dari apa pun, dan di mana ini sering menghasilkan kekerasan atau konfrontasi agresif antara “kita” dan “mereka”, warga global yang berpengetahuan dan tercerahkan mungkin adalah hal yang dibutuhkan dunia.

_______________________________

[i] Asher John, ‘Mata Pelajaran Perbandingan Agama dilarang di Punjab’, Pakistan Today, 21 Sep 2013, tersedia di sini
[ii] Dari halaman Facebook ‘Inside 55’ dari Lahore Grammar School (LGS 55), tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style