Modest Style

Apa yang Dibutuhkan untuk Pembaruan Masjid?

,

Apakah kita harus mempermalukan diri sendiri dengan mengumbar masalah pribadi atau bahkan dengan mengambil langkah hukum untuk mendorong pembaruan di masjid-masjid yang berkeras untuk tidak mengikutsertakan perempuan? Fatimah Jackson-Best membahas pro dan kontra tindakan-tindakan tersebut.

2402-WP-Mosque-Reforms-by-Fatimah

Saya tumbuh dengan orangtua berpandangan konservatif yang mengajarkan bahwa satu-satunya cara membawa diri dalam masyarakat adalah dengan menyimpan sendiri urusan pribadi keluarga kita. Cara berpikir seperti ini telah membentuk cara pandang saya terhadap dunia. Hal inilah yang membuat saya tertegun saat membaca sebuah artikel di koran Kanada yang ditulis oleh seorang perempuan Muslim yang menyarankan pemerintah untuk bersikap lebih waspada saat memberikan status sumbangan bebas pajak dan dana kepada masjid yang tidak mengikutsertakan perempuan dalam struktur pengurus masjid.[i] Apakah ini merupakan bentuk tindakan mempermalukan diri sendiri dengan mengumbar masalah pribadi atau justru langkah yang dibutuhkan oleh kita kaum perempuan Muslim dan para pendukung untuk mendisiplinkan masjid-masjid?

Perlakuan tidak setara terhadap perempuan Muslim di masjid dan musala merupakan masalah yang tersebar luas dan sedang ditangani dengan banyak cara berbeda. Film dokumenter Unmosqued yang akan datang dan situs Tumblr populer Side Entrance milik Hind Makki hanyalah sebagian kecil contoh cara penanganan masalah ini. Keduanya mendorong munculnya pemikiran dan tindakan yang memancing pembaruan cara penempatan perempuan Muslim di tempat-tempat shalat, juga di dalam organisasi administratif dan eksekutif tempat-tempat tersebut.

Dalam menanggapi contoh-contoh dan artikel di atas, tentu akan ada pihak yang menuduh  para perempuan Muslim memecah belah masyarakat Muslim atau memberi senjata kepada orang dengan Islamofobia. Kritik yang ditujukan pada mereka yang berani mengganggu ketertiban masjid tidak akan ada habisnya. Mereka akan dicap tidak patuh, sulit diatur, dan bahkan menyerang Islam oleh pihak-pihak dengan pemikiran lebih konservatif. Bisa jadi membahayakan dan tidak nyaman berada dalam posisi ini.

Para pihak pembuat kritik ini mengacuhkan fakta bahwa Islamofobia bukan hal baru. Baik disajikan dalam bingkai persepsi ketidaksetaraan perempuan maupun diskriminasi pasca 9/11, kita akan terus mengalami perlakuan tersebut. Islamofobia hanya satu di antara banyak tantangan yang harus kita hadapi sebagai seorang Muslim. Namun menutup-nutupi masalah sistemis dan melembaga yang memarginalkan kaum perempuan juga tidak akan membantu.

Pahit memang, namun pada kenyataannya beberapa masjid memang benar-benar menjadi klab khusus lelaki, dan hal ini mempengaruhi saya secara langsung. Saya selalu bersikap terbuka tentang kekecewaan yang saya rasakan atas larangan untuk mendatangi kebanyakan masjid di Barbados sini. Dua masjid dengan akses lokasi termudah memiliki pemahaman ketat yang didasari oleh kebudayaan mengenai siapa yang boleh berada di dalamnya, dan berdasarkan jender saya, saya tidak diperbolehkan memasuki masjid.

Artikel Sheema Khan mengingatkan saya pada pemikiran sambil lalu saya tahun lalu soal melayangkan pengaduan pelanggaran hak azasi manusia terhadap masjid-masjid ini. Yang menghentikan saya dari melaksanakan hal tersebut adalah ajaran orangtua saya tentang menyimpan sendiri urusan pribadi. Dan sejujurnya, saya juga menguatirkan tanggapan masyarakat terhadap perbuatan semacam ini.

Ketidaknyamanan yang dikaitkan dengan mengumbar masalah pribadi secara terang-terangan mungkin didasari pada pemahaman bahwa hal tersebut dapat membahayakan “citra Muslim kita” di negara-negara seperti Barbados di mana umat Muslim masih menjadi minoritas. Dan katanya citra adalah segalanya. Masjid-masjid yang menerima bantuan pemerintah dan uang sumbangan bebas pajak dapat terancam kehilangan berbagai keuntungan dan bantuan yang berujung pada pengurangan program dan aksi sosial. Penghapusan keringanan pajak dan insentif lainnya yang memungkinkan kegiatan masjid berjalan juga menjadi ancaman.

Namun coba pahami hal ini dari sisi lain: apakah masjid-masjid yang mendapat keringanan pajak namun tidak mengizinkan perempuan bergabung dalam pengurus eksekutif maupun ikut memilih benar-benar mewakili keseluruhan komunitas? Apakah mereka mendapat keuntungan dari pencitraan yang tidak benar? Apakah masjid-masjid tersebut yang tidak memperbolehkan kita masuk maupun memiliki akses masuk yang mudah dan aman benar-benar bertindak untuk kepentingan komunitas kita?

Masjid Nabi Muhammad SAW digunakan untuk berbagai hal semasa hidupnya. Masjid tersebut merupakan rumah baginya, tempat berkumpul masyarakat, penjara, tempat berteduh para pengelana dan tunawisma, dan perempuan diperbolehkan salat serta berada di dalamnya. Berada lebih dari 1400 tahun yang lalu, masjid milik sesosok lelaki paling dihormati dalam sejarah Islam terasa tahunan cahaya lebih maju daripada beberapa masjid masa kini. Lingkungan progresif seperti itu pastinya dikembangkan dan diciptakan secara perlahan tahun demi tahun. Orang-orang ingin jadi bagian dari kehidupan sosial masjid tersebut, dan mereka diperbolehkan melakukannya. Citra masjid seperti inilah yang perlu kita kembangkan sekarang.

Keputusan untuk mengambil langkah hukum dalam upaya pembaruan masjid menjadi tempat yang ditujukan bagi masyarakat tentunya perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi masyarakat di wilayah tersebut. Kita pun tidak dapat menganggap bahwa pemerintah belum mengikuti perkembangan gerakan pembaruan masjid. Akan ada bisik-bisik tentang membocorkan atau mengumbar masalah pribadi, namun jika masalah tersebut perlu dimunculkan agar dapat tertangani, maka hal tersebut harus dilakukan.

 


[i] Sheema Khan, ‘The mosque must evolve’, The Globe and Mail, 18 Feb 2014, ada di sini.

Leave a Reply
<Modest Style