Modest Style

Antara metode setrum dan penyembelihan halal

,

Secara teknis, metode halal masa kini tidak jauh berbeda dengan beragam metode pembunuhan hewan skala besar skala lainnya, yang seharusnya mempengaruhi cara kita memaknai makanan kita. Oleh Elest Ali.

1402-WP-01-Dreamstime
Foto: Dreamstime

Saat saya berusia delapan tahun, ayah saya yang seorang penggila film memperkenalkan saya pada film Michael Mann yang berjudul The Last of Mohicans. Sama sekali bukan film yang akan disukai anak berusia delapan tahun, namun di dalam film tersebut terdapat adegan yang pastinya menarik bagi kepekaan spiritual saya (yang saat itu masih belum aktif). Adegan yang saya maksud terdapat pada bagian awal yang memperlihatkan perburuan rusa. Setelah hewan tersebut mati, para pemburu berlutut di sampingnya dan Chingachgook menunjukkan penghormatannya.

“Kami sedih harus membunuhmu, Saudaraku,” ia berkata. “Saya menghargai keberanian dan kecepatanmu, kekuatanmu…”

Representasi romantis tentang kenyataan kejam kehidupan ini membuat saya mempertimbangkan – benar-benar mempertimbangkan – apa yang dimaksud dengan penyembelihan hewan halal. Hal ini berkaitan lebih-lebih dengan adanya perdebatan tentang masalah halal di media Inggris baru-baru ini. Singkatnya, terbukti bahwa banyak restoran dan supermarket Inggris yang menjual daging halal tanpa label kepada non Muslim yang tidak mengetahui hal ini, yang kini membuat mereka marah. Masalah kekejaman terhadap hewan diungkit-ungkit karena tata cara penyembelihan Islami (yang mirip dengan cara Yahudi) tidak menggunakan sistem penyetruman.

Saya menolak kekejaman terhadap hewan – cukup keras hingga mendorong saya menjadi aktivis pada masa saya kuliah. Mengikuti pernyataan tersebut, saya telah menyimpulkan bahwa penyembelihan dengan tata cara tersebut (halal maupun kosher) merupakan cara terbaik untuk membunuh hewan. Nah, sebelum para penggerak vegetarianisme mendebat, saya ingin menjelaskan terlebih dulu. Saya menghormati gaya hidup dan nilai-nilai Anda. Saya bahkan sesekali menjalankan nilai-nilai tersebut. Namun Anda harus sepakat bahwa tidak ada nilai, sebaik apapun, yang boleh dipaksakan terhadap mereka yang tidak ingin menerimanya.

Yang lebih masuk akal, dan menurut saya penting, adalah menyadarkan orang akan proses yang terjadi dalam penyediaan makanan secara umum, dan daging secara khusus.

Manusia harus bertanggung jawab atas nyawa yang diambilnya.

Berangkat dari sana, mari kita pikirkan pilihan yang kita miliki. Penyetruman dan penyembelihan mekanis (dalam bentuk apapun) bukanlah cara yang lebih manusiawi maupun lebih tidak menyakitkan untuk mati. Berbicara pada New Statesman, Profesor Ilmu Makanan di Cornell University Joe Regenstein mengatakan bahwa studi ilmiah yang berupaya membuktikan sebaliknya kebanyakan menunjukkan hasil yang tidak meyakinkan, lemah, atau seringkali “dilakukan dengan buruk dengan tujuan mendapatkan hasil tertentu”. [i]

Saya akan menjabarkan prosesnya.

Secara konvensional pada hewan ternak, hewan mengalami kerusakan otak akibat pukulan besi ke tengkorak dilanjutkan dengan satu kaki dipotong, tenggorokan disayat, dan hewan digantung tebalik hingga mati karena kehabisan darah. Variasi lain yang dilakukan pada hewan yang lebih kecil melibatkan setrum listrik, yang dikenakan langsung ke kepala. Pada ayam, listrik dialirkan ke air yang digunakan untuk merendam unggas dan membuatnya tidak sadarkan diri agar memudahkan penyembelihan otomatis.

Banyak hewan yang mati hanya karena setruman. Banyak juga yang masih sadar pada waktu proses penyembelihan atau pendarahan, dan banyak juga yang mengalami kelumpuhan tanpa kehilangan kesadaran akibat proses penyetruman yang gagal. Menurut saya, praktek-praktek pembunuhan hewan ini justru tampak lebih tidak mendahulukan kepentingan hewan, dan lebih mendahulukan kepentingan penjagalan. Karena, lebih mudah dan efisien dari segi waktu jika membunuh hewan yang telah dilumpuhkan. Dan waktu adalah uang.

Sebagai perbandingan, penyembelihan tata cara Islam tradisional tidak melibatkan mesin, ban berjalan, maupun lini produksi penuh ayam yang melompat-lompat menuju alat pembunuh massal yang sistematis. Hal ini membuat prosesnya organik dan intim, yang merupakan hal terbaik yang dapat diharapkan menjelang akhir hayat.

Saya sendiri telah menyaksikan hal ini dilakukan secara langsung, dan kejadiannya benar-benar seperti kejadian dari The Last of the Mohicans. Dan meski semua Muslim memahami hal apa saja yang terlibat dalam penyembelihan halal, menurut saya kita butuh diingatkan.

Saat hewan ditidurkan, penyembelih menenangkannya dengan membacakan doa-doa dan menyebut keagungan Tuhan. Mata hewan ditutupi dengan telinganya, dan tidak ada penggunaan rantai maupun tali untuk menahan hewan. Di titik ini, hewan telah berhenti meronta. Hewan berada dalam keadaan tenang dan penuh penerimaan yang aneh, dan tidak perlu terlalu banyak ditahan lagi. Saat tenggorokannya disayat, hewan akan mati dengan tenang.

Menurut Shechita UK, sebuah kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang metode penyembelihan Yahudi, terdapat penyetruman integral yang dilibatkan dalam proses penyembelihan yang lebih efektif daripada penyetruman mekanis. Saat sayatan dibuat, organ-organ vital dan pembuluh darah diputus dari otak. Saat itu juga otak mengalami penurunan drastis tekanan darah, dan penurunan peredaran darah otak drastis yang tiba-tiba ini berujung pada ketidaksadaran dalam beberapa detik. Lebih jauh lagi Profesor Regenstein melanjutkan dengan menekankan pelepasan endorfin di saat penyembelihan membuat hewan berada dalam keadaan euforia mati rasa.

Namun, mari kesampingkan detil sains dan praktis untuk melihat lebih luas pada esensi halal yang banyak disalahpahami. Karena sayangnya, kesalahpahaman juga umum di kalangan penganut agama. Petunjuk penyembelihan halal menyatakan bahwa hewan tidak boleh dilukai, diperlakukan dengan buruk, maupun dibuat takut menjelang kematian. Nilai yang dibawa tidak hanya membahas penyembelihan bertanggung jawab, namun juga mencakup penanganan yang bertanggung jawab.

Sayangnya, terdapat rumah penyembelihan “halal” yang telah tergoda sistem penyembelihan massal modern yang menjanjikan kerepotan yang lebih sedikit dan keuntungan yang lebih banyak. Bahkan, menurut data tahun 2004 yang dikeluarkan oleh Meat Hygiene Service, hampir 90% penyembelihan halal di Inggris melibatkan proses penyetruman.[ii]

Hal ini terjadi karena Otoritas Makanan Halal Inggris mengizinkan adanya “penyetruman terkontrol” di mana hewan tidak mati karena setrum, namun dilumpuhkan sebelum disembelih. Untuk saya, hal ini tidak cocok dengan peraturan yang menyatakan bahwa hewan tidak boleh dilukai maupun dibuat tertekan sebelum penyembelihan.

Sejak kepindahan saya ke Turki, saya menyadari bahwa kurangnya transparansi juga marak di tengah masyarakat Muslim. Pemahaman khas Turki tentang halal yang diterima secara umum bermakna “bukan babi”. Saat ditanya tentang proses penyembelihan, jangan terkejut jika Anda mendapat pandangan kosong yang diikuti dengan sanggahan defensif klasik, “Kami Muslim juga, tahu!”

Baru-baru ini saya bertanya kepada seorang kolega, yang tampak lebih paham daripada kebanyakan orang, dari mana asal dagingnya. (Saya telah menjadi seorang vegan lagi setengah tahun ini dalam upaya mempraktekkan apa yang saya ucapkan.)

Ia berujar, “Saya menghindari makan daging hingga kembali ke kampung halaman, di mana saya mengetahui proses penyediaan daging saya.” Saya sedang memberinya jempol figuratif, hingga saat selanjutnya ia merekomendasikan sebuah merek besar dalam produksi unggas Turki sebagai nama yang terpercaya.

“Saya pernah mengunjungi pabriknya,” ujarnya. “Sangat steril, sangat efisien. Mereka menggunakan bilah pisau mekanis yang diasah setiap sehabis penyembelihan, dan di setiap bilah pisau tertulis Bismillah.”

Jempol figuratif saya hilang dalam sekejap. Bagi saya, hal tersebut bukan hanya tidak cukup baik, namun juga bodoh.

Satu hal yang harus kita ketahui adalah masa depan belum tentu cerah. Modernisme dan kemajuan tidak seharusnya mengorbankan kapasitas kita untuk menghargai, merayakan, dan menghormati yang pantas. Seringkali kita berusaha menggabungkan peraturan tertentu yang diatur oleh keyakinan kita dengan sterilitas modernisme. Tanpa benar-benar memahami peraturan tersebut, kita mendapatkan keseragaman tidak berjiwa dalam agama dan kekonyolan semacam rekomendasi ayam yang “dihalalkan” dan diislamkan yang disampaikan dengan sangat bersemangat oleh kolega saya.

Masalah saya dengan rekomendasi ayam tadi adalah karena prosesnya yang masih mekanis. Proses yang merendahkan hewan menjadi sekadar bahan mentah yang masuk dari satu sisi mesin pembuat sosis, dan keluar di sisi lain sebagai produk akhir. Hal ini mengubah makna hewan yang disembelih dan merampas pemahaman kita atas tindakan penyembelihan yang tidak nyaman.

Namun jika kita mampu melakukan pembunuhan untuk bertahan hidup, kita perlu mengalami ketidaknyamanan yang dihasilkan; rasa bersalah, ceceran darah, pengingat bahwa kita juga sangat mudah dihilangkan. Manusia harus bertanggung jawab atas nyawa yang diambilnya. Jika tidak mampu, maka tidak boleh membunuh. Jika mampu, dan jika membunuh akhirnya menjadi sekadar tindakan berulang, ia perlu melakukan hal yang menekankan refleksi dan penghormatan pada kurban. Hanya saat itulah kita akan melihat daging sebagai kebutuhan yang didapatkan dengan susah payah, tidak untuk disia-sia maupun dikonsumsi dengan berlebihan.
[i] Mehdi Hasan, ‘Halal Hysteria’, New Statesman, 9 Mei 2012, dapat dibaca di sini

[ii] ‘Halal Hysteria’, New Statesman

Leave a Reply
<Modest Style