Modest Style

Antara Integrasi dan Pengasingan

,

Para wanita yang mengenakan cadar tanpa disadari terjebak dalam perdebatan tentang hak asasi manusia dan keamanan nasional, tulis Alayna Ahmad.

0802-WP-Niqab-by-Alayna-02

Pertanyaan seputar tujuan mengenakan cadar, atau niqab, sudah menimbulkan masalah dalam Islam sebagai agama karena ada banyak interpretasi tentang subjek ini. Bagaimanapun, untuk sebagian wanita, niqab merupakan identitas keislaman mereka, yang seharusnya bebas diekspresikan sebagai hak dasar manusia. Namun, wilayah Ticino Swiss yang berbahasa Italia sekarang telah menjadi wilayah pertama di negara itu yang melarang niqab yang menutupi wajah, dengan demikian melanggar hak-hak asasi perempuan muslim. Larangan Swiss ini mengikuti larangan serupa oleh Perancis pada tahun 2010 dan Belgia pada tahun 2011.

Ada sekitar 400 ribu muslim di Swiss yang mewakili sekitar 5 persen dari total penduduk, 2 persen di antaranya tinggal di Ticino. Pemungutan suara yang didukung oleh 65 persen mayoritas, menyatakan bahwa ‘Tidak seorang pun boleh boleh menutupi atau menyembunyikan wajah mereka di jalan raya umum, atau di tempat-tempat terbuka untuk umum, kecuali tempat ibadah, tidak pula orang-orang yang memberikan layanan publik.’ Dewan Islam Pusat Swiss terkejut dengan keputusan ini dan dalam sebuah pernyataan mengatakan hal ini sebagai ‘satu lagi ekspresi keras Islamofobia sosial’. [i]

Entah seseorang memilih untuk bercadar atau tidak, ini adalah kebebasan berekspresi mereka

Swiss baru-baru ini memperketat aturan mengenai visa imigrasi dan asing, banyak di antaranya yang diberikan kepada warga negara Timur Tengah dan negara-negara muslim. Sementara bangsa Swiss selalu membanggakan nilai-nilai dan proses demokrasinya, serta kemampuannya untuk tetap netral di sepanjang kedua perang dunia, pertanyaan yang sekarang muncul adalah seberapa nyaman Swiss dalam mewadahi orang-orang dari agama dan budaya lain. Melarang cadar dapat membantu perempuan yang dipaksa untuk memakainya, tapi hal itu pasti tidak akan membantu mengintegrasikan perempuan yang memilih untuk memakainya.

Organisasi non-pemerintah Amnesti International juga mengutuk pemungutan suara itu. Manon Schick, kepala Amnesti Swiss mengatakan: ‘Rasa takut, dan menciptakan masalah yang tidak ada sebelumnya, telah mengalahkan akal sehat dan rasa hormat, sehingga merugikan hak-hak dasar seluruh penduduk.’ [ii]

Rumah bagi penduduk muslim terbesar di Eropa, Perancis, adalah negara pertama di Eropa yang melarang cadar. Undang-undang melarang ‘menutupi wajah di ruang publik’, yang mencakup setiap pakaian yang menutup wajah. Temuan dari jajak pendapat Pew Research Centre yang memicu larangan di Perancis cukup mencengangkan – lebih dari 80 persen orang yang diwawancarai di Perancis mendukung larangan tersebut.[iii] Demikian pula di Belgia, hukum melarang pakaian yang menutupi wajah di tempat umum, dengan alasan keamanan. Denda dan kemungkinan bisa masuk penjara akan dikenakan pada siapa pun yang tertangkap di depan umum dengan wajah bertabir.

Meskipun undang-undang ini mengusik hak-hak dasar kebebasan dan ekspresi, pemerintah Perancis dan Belgia meloloskannya karena alasan keamanan.

Namun demikian, akan membuka wawasan untuk mengetahui sejarah cadar dalam Islam. Tidak ada penyebutan cadar (seperti yang kita kenal sekarang) dalam Al Quran, yang hanya meminta kita untuk memasang tabir di atas dada kita (24:30-31). Selama masa Nabi Muhammad (saw), para istri dan putri beliau serta wanita muslim lainnya diminta untuk mengenakan jubah menyelubungi tubuh mereka sehingga mereka dapat dibedakan dalam masyarakat (33:59).

Saya percaya bahwa kebanyakan pemimpin agama gagal untuk menginformasikan perempuan muslim bahwa cadar, kebiasaan yang berasal dari Kekaisaran Bizantium Kristen, telah dimasukkan ke dalam Islam sebagai identitas bagi wanita muslim untuk membedakan mereka dari orang-orang beriman lain atau Ahli Kitab.[iv] Islam selalu menekankan perlunya kesantunan, martabat, dan berinteraksi secara sopan dengan lawan jenis. Namun, wajib bercadar di beberapa negara dengan hukum Islam merupakan fenomena baru.

Tentu saja, entah seseorang memilih untuk bercadar atau tidak, ini adalah kebebasan berekspresi mereka. Misalnya, biarawati Kristen juga menutupi tubuh dan rambut mereka. Jika kita mengambil hak mereka untuk menutup diri dengan cara ini, kita akan melanggar hak-hak agama dan asasi mereka.

Melarang cadar hanya memperburuk masalah yang sudah ada dan menyebabkan lebih banyak kemarahan dari umat Islam yang damai dan patuh hukum. Saya kira larangan ini jelas-jelas tidak merangsang integrasi penduduk muslim, karena akan membatasi gerak wanita yang bercadar hanya di rumah mereka.

Secara optimis, aktivis dan warga sayap kiri beraksi untuk mencabut larangan tersebut. Di kota Ghent di Belgia, larangan berkerudung untuk pegawai negeri sipil dibatalkan oleh mayoritas anggota dewan kota saat ini. [v]

Pemerintah harus mencari cara untuk mengintegrasikan orang-orang dari berbagai latar dan agama yang berbeda, karena pasti tidak ada yang akan dicapai dari tindakan mengasingkan minoritas.

[i] Jessica Chasmar, ‘Wilayah Swiss yang berbahasa Italia larang muslim bercadar’, The Washington Times, 23 Sep 2013, dapat dibaca di sini

[ii] Jonathan Fowler, ‘Wilayah Swiss larang cadar muslim’, Agence France-Presse, 22 Sep 2013, dapat dibaca di sini

[iii] Steven Erlanger, ‘Parlemen mendorong Perancis lebih dekat ke larangan menutupi wajah’, The New York Times, 13 Jul 2010, dapat dibaca di sini

[iv] Alayna Ahmad, ‘Benarkah wanita muslim warga negara kelas dua?’ HuffPost Religion, 27 Dec 2012, dapat dibaca di sini

[v] ‘Sebuah kota di Belgia mencabut larangan berkerudung yang diberlakukan tahun 2007 oleh kelompok kanan-tengah’, 28 May 2013, Reuters, dapat dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style