Modest Style

Anak Lelaki Tidak Boleh Cengeng

,

Saat tanpa sadar kita menyuruh anak laki-laki untuk “menjadi jagoan”, bisa jadi kita membatasi hidup mereka. Oleh Sya Taha.

Rasanya ia tumbuh dewasa secepat mobil balap: dari 0 menjadi 60 dalam beberapa detik saja (Gambar: SXC)
Rasanya ia tumbuh dewasa secepat mobil balap: dari 0 menjadi 60 dalam beberapa detik saja (Gambar: SXC)

Dua bulan yang lalu, saya melahirkan seorang anak lelaki. Sebenarnya, saya menginginkan anak perempuan. Saya telah memikirkan bagaimana saya akan membesarkannya menjadi seorang feminis yang keren – saya bahkan telah memilih nama seorang pahlawan perempuan dalam sejarah Islam – yang dapat mematahkan norma sosial tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya. Namun belakangan saya menjadi terbiasa dengan adanya seorang anak lelaki. Meski saya tidak dapat tidur membayangkan tumpukan baju biru dan mainan yang tidak ada ujungnya, saya tidak menyangka awal perkembangan anak saya menjadi lelaki dewasa akan datang dengan sangat cepat.

Saya seharusnya tahu. Bahkan sebelum berencana untuk memiliki anak, saya telah membaca Real Boys yang ditulis oleh William Pollack. Buku tersebut adalah hasil riset selama 20 tahun tentang makna tumbuh besar sebagai anak lelaki di Amerika Serikat. Pollack menyebutkan sebuah studi dari Rutgers University menyatakan bahwa para ibu cenderung memberi tanggapan berbeda terhadap anak lelaki dengan anak perempuan. Salah satu contohnya adalah dengan menganggap enteng rasa tidak nyaman yang dirasakan anak lelakinya dan bukannya berempati. Para ibu di dalam studi ini tidak berniat memperlakukan anak lelaki mereka secara berbeda. Mereka bertindak atas dasar norma jender yang diatur oleh masyarakat. Norma ini memaksa lelaki, anak-anak maupun dewasa, untuk menunjukkan lebih sedikit emosi negatif seperti rasa takut dan malu – untuk memiliki perasaan yang lebih terbatas.

Saya menjadi saksi fenomena ini dalam kejadian-kejadian kecil: Seorang anggota keluarga yang sedang bermain dengan anak saya tiba-tiba mencabut sarung tangannya. Saya memasang sarung tangan tersebut agar ia tidak menggaruk mukanya (yang sering ia lakukan dan membuat saya gemas ingin memanggilnya “Scarface” [muka penuh luka]). Bayi tidak dapat mengendalikan tangan mereka, bukan? Itu alasannya atau mereka terlahir sebagai masokis, dan saya lebih menyukai alasan yang pertama.

Kejadian tersebut berlangsung sangat cepat dan saya tidak dapat menangkap apa yang dibicarakan. Belakangan saat saya bertanya pada suami mengapa ia dilarang mengenakan sarung tangan, ia menjelaskan bahwa anggota keluarga tersebut berpendapat bahwa bayi kami harus belajar menjadi kuat dengan tidak mengenakan benda-benda lembut berumbai. Memiliki luka cakaran di wajah menjadi salah satu cara belajar menjadi kuat.

Hal ini semakin menjadi menjelang sore. Karena terlihat mengantuk, kami membiarkan putra kami berdiam di pojokan sementara kami mulai makan malam. Di tengah acara makan malam, ia mulai menangis dan membuang dotnya. Saat suami saya bangkit untuk memeriksa, ia ditegur dan disuruh membiarkan saja oleh anggota keluarga yang sama. Di titik ini, kami hampir tidak dapat bercakap-cakap karena kencangnya tangisan putra saya – saya menggendong dan mengayun-ayunnya di pangkuan seraya berusaha makan dengan satu tangan.

Bayi (lelaki) harus mampu mengatasi luka garukan di wajah? Bayi (lelaki) harus ditelantarkan di pojok ruangan saat sedang menangis? Meski sebagai ibu hal ini terasa mengganggu, sebagai pemerhati sosiologi saya merasa fenomena ini menarik.

Putra saya diajari bahwa rasa takut dan lemah tidak pantas dimiliki lelaki (anak-anak dan dewasa). Ia juga diajari untuk menjadi kuat dengan merasakan sakit dan penderitaan sebagai bagian dari kehidupan (lelaki). Mungkin yang paling menyedihkan adalah bahwa ia dilatih untuk tidak mengharapkan kasih sayang dan kenyamanan saat membutuhkannya.

Apa dampak hal ini pada masa depannya? Saya kuatir ia hanya akan mampu mengekspresikan emosi-emosi tertentu seperti kemarahan karena tidak mengenal emosi lain, termsuk empati, kesedihan, dan kegelisahan – jenis emosi yang biasa dikaitkan dengan perempuan dan femininitas. Saya kuatir ia tumbuh menjadi seperti kebanyakan lelaki — baik anak-anak dan dewasa — di sekitar saya, yang menekan emosi-emosi tersebut dan menyalurkannya dengan cara tidak sehat dan agresif karena kemampuan komunikasi mereka yang lemah. Saya kuatir ia akan merasa kesepian, sedih, atau bingung. Saya kuatir ia menjadi depresi dan bersikap kasar atau kejam kepada dirinya sendiri maupun orang lain.

Dalam Real Boys, Pollack juga menyebutkan studi lain oleh psikoanalis John Ross yang saya rasa sangat menarik. Hingga usia enam tahun, kebanyakan anak lelaki yang sehat meyakini bahwa mereka dapat hamil, membawa-bawa anak di dalam perut mereka, dan melahirkan seperti halnya ibu mereka – pengasuh dan panutan utama mereka. Menurut saya hal ini menunjukkan bagaimana netralnya anak lelaki tentang peran jender, dan sebagai orangtua, kita membentuk mereka berdasarkan apa yang masyarakat harapkan mereka.

Anak lelaki hanya ingin menjadi anak-anak, seperti halnya anak perempuan. Bagi saya, ini adalah sebuah tantangan dalam membesarkan putra saya: Mendidiknya agar menjadi orang berbudi pekerti baik dan halus, bebas mengekspresikan kepribadian dan perasaannya, apapun itu; namun juga menyadari adanya tuntutan masyarakat dan memiliki kepercayaan diri untuk memilih jalannya sendiri.

Leave a Reply
<Modest Style