Waspadai propaganda melalui buku anak

,

Kita harus waspada terhadap penggambaran di media dan interpretasi sejarah yang membagi dunia menjadi baik dan buruk. Oleh Sya Taha.

chambre ours
(Gambar: Fotolia)

Biasanya saya berusaha menjauhi literatur yang dibuat masyarakat kulit putih sayap kanan, tetapi ketertarikan saya terpancing jika melihat literatur yang ditujukan untuk anak-anak. Meski saat ini saya hanya peduli pada benda jorok apa yang dimasukkan putra saya ke mulutnya, tidak lama lagi saya juga akan mengkhawatirkan apa saja yang terjadi di dalam pikirannya. Yang pasti, saat ia balita, kemungkinan besar saya tidak akan membeli buku mewarnai berisi gambar-gambar eksekusi.

Namun inilah yang dikatakan oleh sebuah penerbitan yang berpusat di Kota St Louis, Amerika Serikat mengenai peluncuran buku bertema terorisme yang ditujukan untuk “orang dewasa dan anak-anak yang lebih tua”: “Para orangtua menginginkan produk-produk semacam ini, jika mereka tidak menginginkannya, mereka tidak akan membelinya.”

Saya melihat katalog mereka dan merasa produk-produk yang ditawarkan cukup dapat diterima.

Dinosaurus? Seru.

Luar Angkasa? Sangat mendidik.

Tea Party I dan II? Hmm, mungkin tidak.

The True Faces of Evil Terror (Wajah Nyata Teror Kejahatan)? Eh, bagaimana saya bisa sampai sini?

Buku tersebut diluncurkan sebagai seri kedua buku bertema 9/11, We Shall Never Forget 9/11: The Kids’ Book of Freedom (Kita Tidak Akan Lupa 9/11: Buku Kebebasan Anak), yang diterbitkan beberapa tahun lalu. Buku yang baru disertai dengan halaman tambahan untuk memperkenalkan anak-anak pada ISIS. Juga ada beberapa pria lain yang sudah cukup dikenal yang dianggap oleh buku ini sebagai “teroris,” seperti Osama bin Laden, Saddam Hussein, dan Mahmoud Ahmadinejad.

WSNFIIterror3-309x400
Buku mewarnai disertai dengan seperangkat kartu bergambar “teroris”

Pendiri Really Big Coloring Books,Wayne Bell, menekankan bahwa proses seleksi mereka murni meritokratis. “Tidak ada unsur rasial dalam bukunya… Kami tidak mengulas ras maupun agama.” Sebagai bukti komitmen mereka untuk “mengulas figur radikal dari semua latar belakang”, teroris kulit putih pun disertakan, seperti “Pembom Kota Oklahoma” Timothy McVeigh, “Unabomber” Theodore Kaczynski, dan – ya – pendiri Wikileaks Julian Assange.

Namun, seperti yang bisa ditebak, buku-buku ini terutama berisi pria Arab berjanggut. Pihak penerbit mengklaim segala yang ada di buku sebagai “fakta” dan “kebenaran” (“tidak ada khayalan dalam buku ini”) dan tidak repot-repot mengubah pernyataan: “Buku ini tentang Kebaikan lawan Kejahatan”. Pernyataan tersebut merupakan pengulangan basi atas apa yang telah diucapkan media selama puluhan tahun: bahwa Arab/Muslim adalah teroris. Pesan tersebut bisa diserap oleh anak-anak di mana pun dari film hingga buku; tambahan satu buku mewarnai tidak akan membuat banyak perbedaan.

Saya tidak tahu apakah ada anak yang membaca buku-buku ini, karena tidak tampak buku ini ditujukan untuk pikiran pola pikir dan kemampuan anak-anak. Terdapat terlalu banyak tulisan, terlalu banyak kekerasan, dan bahkan parodi sampul Rolling Stone bergambar Dzokhar Tsarnaev. Sampulnya juga menunjukkan bahwa “panduan orangtua disarankan”. Tidak salah rasanya mengasumsikan bahwa buku-buku ini diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki cara pandang hitam-putih terhadap dunia (dan ingin mewariskan sikap ini pada generasi penerusnya).

Hikmah yang bisa diambil oleh para orang dewasa dari buku-buku ini adalah bahwa umat Muslim itu teroris (basi!). Tunggu dulu, siapakah umat Muslim yang dimaksud di sini? Dari hasil melihat-lihat halaman buku ini, Muslim kurang lebih adalah pria berkulit gelap manapun yang memiliki janggut. Nilai plus jika ia memakai turban, menutup wajah dengan scarf, memegang buku dengan tulisan cakar ayam, atau memiliki pendamping bercadar. Berbagai stereotipe ini Anda sudah pernah lihat di film-film, serial TV, dan karya seni lain. Padahal di dunia nyata, satu-satunya orang yang tampak seperti ini adalah ayah teman sekelas Anda yang biasa-biasa saja.

slide-366150-4166216-free-308x400
Tanpa konteks apapun, Anda bisa saja menyangka orang yang Anda temui saat berbelanja adalah salah satu dari orang-orang ini.

Seakan-akan buku-buku ini tidak cukup parah (dari segi desain, tata bahasa, dan isi), ada juga sebuah laman Facebook berjudul Think Again Turn Away, yang ternyata dibiayai dan didukung oleh pemerintah AS, yang bertujuan untuk membuat kaum muda Amerika berpikir dua kali sebelum kabur ke Irak/Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Terlepas dari grafis Photoshop amatir, gambar depannya adalah tiga wanita bercadar yang menangis dengan kata-kata “Irak” dan “Al Qaeda sedang bekerja” – tanpa konteks lain sama sekali. Apakah mereka ini korban atau, sebagaimana yang disebut oleh salah seorang pemberi komentar, “ibu teroris”?

Laman ini berupaya mengedukasi tentang teror ISIS kepada para pengikutnya, yang tampak didominasi oleh Islamofobia sayap kanan dengan beragam kecurigaan umum: imigran berkulit cokelat, hukum syariah, hijabi/niqabi, dan kata “jihad”. Tinggal ditambahkan saja bendera ISIS masuk ke dalam daftar tersebut (contoh bagus bagaimana simbol suci bisa dengan cepat dihubungkan dengan kejahatan. Ingat swastika?).

Terlepas dari menyeramkannya tujuan buku mewarnai di atas, terdapat kebaikan dalam slogan mereka: “Sampaikan kebenaran. Sampaikan dengan sering. Sampaikan pada anak-anak.” Anak-anak akan mempelajari masa lalu sesuai dengan apa yang dihilangkan, ditambahkan, atau diulang oleh para guru.

Mengajarkan sejarah tidak sulit. Pertanyaan terpenting yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah, sejarah macam apa yang ingin kita ajarkan pada anak-anak kita? Akankah kita mengajarkan cerita yang sulit, yang menyisir jejak latar belakang politis dan sosioekonomis atas kekerasan, agar kita bisa mulai memahami kapan genosida mulai terulang di tempat berbeda?

Jika kita lakukan ini, setidaknya kita bisa berharap bahwa anak-anak kita akan berusaha membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik dengan upaya mencegah terulangnya sejarah.

Atau akankah kita mengajarkan sejarah yang malas yang sekadar menyalahkan kebudayaan dan agama untuk menimbulkan kebencian akibat cara pandang sempit?

Leave a Reply
Aquila Klasik