Modest Style

Agama dan Penafsirnya

,

Alayna Ahmad mencermati sifat dasar agama yang interpretatif dan hubungannya yang tak terpisahkan dengan spiritualitas.

Foto: SXC
Foto: SXC

Bersama warna-warni budaya, tradisi dan nilainya, agama selalu menggelitik saya. Saya seringkali bertanya-tanya sebagai kanak-kanak mengapa ada begitu banyak ragam agama di dunia dan mengapa kita menyembah Tuhan yang berbeda. Baru ketika saya cukup besar, rasa ingin tahu saya membuat saya kemudian menelisik agama bagi diri saya. Itulah saat di mana menjadi jelas bagi saya: Kita semua menyembah Tuhan yang sama; namun Ia dikenal dengan nama yang berbeda-beda.

Saya lahir di Pakistan di mana saya bersekolah hingga usia enam tahun, kemudian sesudahnya keluarga saya bermigrasi ke London, Inggris. Saya dibesarkan dalam keluarga muslim liberal, di mana saya menyerap nilai-nilai Islam dan tradisi budaya. Hingga tak lama kemudian dalam kehidupan saya, saya memutuskan untuk meneliti apa makna sebenarnya agama atau bahkan Islam bagi saya. Walaupun saya merasa bahwa saya religius, saya kehilangan hubungan spiritual dengan Tuhan. Islam yang diajarkan kepada saya, baik saat sekolah Minggu atau di rumah, terlalu banyak berisi aturan. Oleh karenanya, pencarian saya atas spiritualitas menuntun saya kepada Sufisme, di mana saya bertahan semenjak itu. Saya percaya setiap orang bisa menjadi religius jika dia patuh kepada doktrin-doktrin dan hukum-hukum dari agamanya; meski, ini tidak berarti akan menghadirkan spiritualitas apa pun, atau sebuah hubungan lebih dekat dengan Tuhan. Saya ingin mempelajari agama-agama dan tradisi-tradisi lain, bukan hanya karena agama adalah minat saya, tapi juga karena pembelajaran seperti ini adalah kewajiban saya sebagai muslim:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kalian […] dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. – Al Quran 49:13

Agama adalah kesatuan dari keyakinan, ritual, simbol, hukum dan sebuah kode moral untuk sebuah jalan hidup. Agama bisa diorganisasi untuk membentuk komunitas dan kesamaan cara pandang di antara para penganutnya. Hal ini menimbulkan rasa memiliki pada para pengikutnya dan harapan serta ketenangan bahwa sebuah kuasa adikodrati memegang kendali penuh atas langit dan bumi. Para agamawan dapat menggunakan kitab-kitab suci untuk membenarkan praktik-praktik dan perilaku keagamaan. Elemen-elemen utama ini, yang sudah disebutkan di atas, layaknya seperti benang: ketika dipintal menjadi satu, maka akan menjadi kerangka dasar bagi agama apa pun.

Pada akhirnya, praktik agama dimaksudkan untuk menuntun individu kepada spiritualitas. Bagaimanapun, dengan tegas saya akan membedakan antara agama dan spiritualitas. Mempraktikkan hukum dan syariat yang diperintahkan oleh agama apa pun mungkin saja tidak menghadirkan hubungan spiritual dengan Tuhan.

Namun, spiritualitas dalam Islam diharapkan bisa selaras dengan amalan sehari-hari, apakah itu religius atau tidak. Gagasan dalam Islam agar setiap tindakan harus dilakukan sesuai dengan hukum Tuhan dan hanya untuk keridhaan-Nya semata, dituntut dari setiap diri muslim. Dalam ungkapan sederhana, ini berarti bahwa Tuhan harus ada dalam kesadaran setiap penganut untuk dua alasan utama: (i) menciptakan kesadaran bahwa setiap pikiran, niat dan perbuatan dari individu dalam pengamatan-Nya, dan (ii) membentuk kedekatan hubungan dengan Sang Ilahi. Sebagian orang mungkin mengatakan bahwa spiritualitas Islam hanya berkaitan dengan Sufisme, sementara yang lain mungkin akan mendebat bahwa spiritualitas dan Islam berjalan beriringan.

Menurut pendapat saya, agama boleh jadi ilahiah tapi tetap saja merupakan konstruksi manusia. Setiap individu akan menafsirkan agama sesuai kacamata budayanya masing-masing. Inilah mengapa agama Kristriani di Eritrea akan berbeda dengan Kristiani di Inggris atau Singapura. Kenyataannya, Muhammad, Musa dan bahkan Buddha hidup dalam periode waktu jauh sebelum keberadaan kita. Terlepas dari sangat banyaknya sumber-sumber informasi yang tersedia saat ini tentang ajaran mereka, kita tidak mendapatkan informasi ini secara langsung. Oleh karenanya, kita tidak bisa memaknai dunia yang tidak kita pahami lewat sebuah pengalaman singkat.

Banyaknya interpretasi dari teks-teks religius menyebabkan lahirnya kelompok-kelompok dan aliran agama baru. Sebagian orang akan menerjemahkan kitab suci secara harfiah, sementara yang lain akan menggali lebih dalam hingga makna yang tersembunyi. Oleh karenanya, dalam menganalisis suatu agama kita perlu mempertanyakan: Agama apakah itu? Di mana ini dipraktikkan? Orang-orang seperti yang mempraktikkan agama ini? Budaya yang ada di suatu tempat, apakah itu sengaja dibentuk atau tidak; semua akan berdampak besar terhadap bagaimana agama itu akan dipahami. Sebagai contoh, banyak muslim Indonesia yang tetap mempertahankan unsur-unsur keyakinan dan praktik animisme peninggalan nenek moyang.

Terminologi ‘agama’ bagi saya merupakan simbol dari sekumpulan keyakinan dan ajaran yang dengan itu seorang individu bisa bersatu untuk membentuk sebuah komunitas. Meskipun tujuan akhir dari setiap agama adalah membimbing pengikutnya menuju pencerahan, saya tidak percaya bahwa spiritualitas bisa dibatasi lewat praktik-praktik tradisi yang berasal dari sifat preskriptif semua agama. Hanya dengan menjadi religius tidak lantas menjadikan seseorang spiritual, jadi dengan menganut suatu agama tertentu tidak seketika berarti seseorang adalah ‘Religius’. Setiap individu perlu memahami tentang ‘diri’ sebelum dia betul-betul memahami tentang ‘Tuhan’.

Leave a Reply
<Modest Style