Modest Style

Ada Apa dengan Masjid Kita?

,

Pengusiran bintang pop Rihanna dari kawasan masjid Abu Dhabi ketika melakukan tur menguak isu yang lebih besar tentang ruang masjid kita, tulis Fatimah Jackson-Best.

Gambar: Instagram Rihanna
Gambar: Instagram Rihanna

Ikon pop internasional Rihanna baru-baru ini membuat berita setelah diminta untuk meninggalkan Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi. Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh masjid, pengusiran penyanyi itu dari area masjid didasarkan pada beberapa alasan, termasuk mencoba untuk memasuki masjid melalui pintu gerbang yang tidak diperbolehkan bagi tamu, gagal untuk mendapatkan izin yang tepat untuk mengunjungi dan melihat-lihat masjid, dan berperilaku tidak sesuai dengan tuntunan di dalam masjid. [i] Instagram foto-foto penyanyi itu yang berpose di depan masjid juga memicu reaksi dari umat Islam dan non-muslim di seluruh dunia.

Saya mengetahui bahwa ia dilarang memasuki masjid dari halaman Facebook saya, dari seorang teman yang dengan bercanda mengingatkan saya bahwa saya bisa berempati kepada Rihanna, karena saya juga pernah dihalang-halangi ketika mengunjungi sebuah masjid di sini, di Barbados – dua kali.

Insiden yang terbaru adalah ketika saya mendekati sebuah masjid lokal untuk memotret bangunan itu sebagai pelengkap artikel yang sedang saya tulis tentang perbedaan antara menjalani Ramadhan di Toronto dan Barbados. Saya diberitahu oleh pria administrator masjid bahwa saya boleh mengambil gambar, tapi saya tidak boleh masuk – pembatasan yang sangat menyakitkan karena itu adalah hari pertama Ramadhan, salah satu bulan paling suci dalam kalender Islam.

Bertahun-tahun sebelumnya, pada saat liburan, saya diberitahu oleh pasangan suami istri yang tinggal di dekat masjid yang sama bahwa saya tidak bisa masuk karena tidak ada tempat bagi perempuan untuk shalat. Pada kedua waktu itu saya pergi dengan perasaan marah dan sedih, bertanya-tanya siapa yang memiliki kekuasaan untuk memutuskan siapa yang diizinkan masuk ke masjid, dan apakah mereka menyadari betapa berbahayanya keputusan mereka.

Mengapa diusir dari masjid menjadi masalah yang terus muncul di masyarakat muslim di seluruh dunia?

Ketika situasi Rihanna ini menarik perhatian saya, saya menemukan diri saya berpikir lagi tentang gambaran yang lebih besar. Di luar penjelasan moralistik siapa dirinya, apa yang dia lakukan, dan apa yang dia pakai, saya bertanya-tanya apakah tepat bagi siapa saja untuk diusir dari ruang yang seharusnya membangkitkan spiritualitas. Saya juga bertanya-tanya: Mengapa diusir dari masjid menjadi masalah yang terus muncul di masyarakat muslim di seluruh dunia?

Yang saya sadari adalah bahwa perempuan, non-muslim, orang-orang di pinggiran Islam (orang yang dapat mengakui dirinya muslim tetapi tidak aktif beribadah, atau muslim yang tidak taat) dan bahkan orang-orang penyandang cacat secara sistematis dikecualikan dari ruang masjid – entah karena sengaja atau karena ketidaktahuan. Hal ini terbukti saat jalur-jalur kursi roda dan lift tidak dipasang di masjid-masjid kita, ketika masjid tidak berpartisipasi dalam penjangkauan masyarakat untuk mengundang kaum muslim dan non-muslim ke dalam lingkungan mereka, dan ketika perempuan dicegah melakukan shalat di dalamnya (baik atas dasar budaya atau kurangnya ruang yang memadai).

Ini adalah masalah besar dalam masyarakat kita, yang tidak dimulai atau diakhiri dengan cerita tentang Rihanna. Bahkan, dengan berfokus pada pakaian dan posenya sebagai ukuran apakah dia pantas untuk ditendang keluar atau tidak, kita menghindari berbicara tentang isu-isu yang sangat nyata kita miliki sebagai umat, sebagai komunitas muslim yang benar-benar mendunia.

Jika non-muslim tidak sedang masuk Islam, banyak masjid merasa tidak perlu untuk terlibat dengan mereka melalui acara-acara yang sifatnya informatif, kegiatan multiagama, atau sekadar membuka pintunya. Jika seorang wanita tidak mendandani dirinya dengan cara tertentu, dia mungkin tidak dicegah memasuki masjid, tapi wanita lain mungkin tidak mau berbicara dengannya atau menyambutnya. Saya telah melihat kedua hal ini terjadi, dan itu adalah gejala dari masalah yang lebih besar: masjid kita tidak digunakan untuk memenuhi tujuan mereka sebagai ruang untuk berpikir, berdiskusi, spiritualitas, dan memupuk rasa sebagai suatu komunitas.

Masyarakat kepada siapa saya berbicara tidak hanya mencakup muslim, tetapi juga orang-orang yang ingin menjadi sekutu Islam. Kita membutuhkan keduanya untuk meningkatkan dampak positif Islam di dunia dan untuk terus menunjukkan keindahan sejati agama kita dalam menghadapi anggapan keliru dan kesalahpahaman yang cukup besar. Jika kita gagal untuk menyertakan perempuan muslim, muslim penyandang cacat, non-muslim dan muslim di pinggiran, bagaimana pesan perdamaian dan kesatuan Islam dapat disebarkan? Jika kita hanya saling mengkhotbahi satu sama lain pada akhirnya, apakah itu kesuksesan dan apakah itu hal yang bisa dibanggakan?

Jadi masalah bagi saya adalah bukan tentang pose Rihanna yang terlalu “bersemangat” atau apakah lipstiknya terlalu merah, tapi bahwa banyak masjid telah menjadi tempat di mana  budaya mengesampingkan esensi Islam. Keinginan untuk mendominasi  dengan ideologi keagamaan telah mengambil alih tujuan melakukan transformasi masyarakat dan individu. Bagi saya, inilah hal yang seharusnya benar-benar kita pedulikan.

[i] James Robertson, ‘Rihana diusir dari masjid Abu Dhabi setelah “berpose pada area yang terlarang untuk memotret”’, Mirror, 21 Okt 2013, dapat dibaca di sini.

Leave a Reply
<Modest Style