Modest Style

Kartini – Simbol Hak Perempuan di Indonesia

,

Seratus tiga puluh empat tahun setelah kelahirannya, nama Kartini masih terus menggaungkan keteguhannya untuk mengangkat status dan kehidupan para perempuan. Oleh Annisa R Beta.

Kartini_solo-sm

SETIAP 21 APRIL, perempuan Indonesia mempersiapkan dirinya untuk merayakan kelahiran seorang pahlawan nasional. Raden Ayu Kartini terus dikenang hingga kini sebagai sebuah kritik terhadap masyarakat yang didominasi laki-laki, selain bentuk ketidakadilan lainnya. Lewat surat-suratnya ia mempertanyakan berbagai tradisi budaya Jawa yang mempersempit peran perempuan sebatas lingkup domestik. Ambisinya membuka jalan berdirinya sekolah pertama untuk para perempuan Pribumi (atau penduduk asli) di awal tahun 1900-an, di masa pendudukan kolonial Belanda.

Dibesarkan dalam sebuah keluarga aristokrat Jawa, Kartini menerima sebuah gelar kebangsawanan ‘Raden Ajeng’. Ayahnya adalah bupati Jepara, Jawa Tengah – sebuah jabatan terhormat selama masa-masa penjajahan Indonesia. Hal ini memungkinkannya untuk mengenyam pendidikan dasar dan mempelajari bahasa Belanda, sebuah kelangkaan bagi seorang gadis Jawa pada saat itu. Akan tetapi, di usia 21 tahun, sebagai sebuah norma di masa itu, ia diwajibkan tinggal di rumah untuk mempelajari pekerjaan rumah tangga sehari-hari dalam persiapannya untuk menikah. Dia mengisi waktunya dengan rajin membaca buku, yang kemudian membuka wawasannya tentang ide-ide feminisme dari Eropa.

Pengetahuan ini mendorongnya untuk mempertanyakan tentang kehidupannya sebagai seorang perempuan Jawa dan peran gender yang kaku dalam kebudayaannya. Dia merasa terusik dengan mudahnya akses yang dimiliki oleh laki-laki untuk pendidikan dan aktivitas publik, jauh bertolak belakang dengan hak kaum perempuan yang cuma belajar menjadi istri yang baik. Tergugah oleh kondisi ini, dia mulai menulis kepada seorang sahabat pena dari Belanda yang tinggal di Eropa, bukan hanya tentang budaya dan isu-isu gender, tapi juga rasisme, kolonialisme, poligini dan agama. Di usia 20 tahun, dia telah menulis lebih dari 160 surat kepada teman-teman Eropanya, dan dipublikasikan di De Hollandsche Lelie, sebuah majalah perempuan Belanda.

Pada usia 24 tahun, ia menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang, Jawa Tengah. Ambisinya untuk perubahan masih begitu besar, dan suaminya mendukung dengan mengizinkannya menggunakan sebagian dari kantornya untuk membuka sebuah sekolah untuk perempuan, di mana ia mengajar membaca dan keterampilan-keterampilan lain yang bermanfaat.

Tragisnya, Kartini meninggal dunia pada tahun 1904 di usia 25 tahun, beberapa hari setelah melahirkan putranya. Kepergiannya yang mendadak dan terlalu cepat memotivasi yang lain untuk mengambil alih idenya. Surat-suratnya dipublikasikan di tahun 1911 oleh J H Abendanon, suami dari sahabat baiknya, Rosa, dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis Tot Licht, atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini merefleksikan visi Kartini yang kuat untuk rakyatnya, terutama perempuan. Sekolahnya menginspirasi pendirian sebuah Sekolah Kartini di Semarang tahun 1912 oleh keluarga van Deventer, yang mendukung Kebijakan Politik Etis Belanda selama masa kolonial. Hal ini mengakibatkan bertambahnya sekolah-sekolah perempuan di wilayah lain.

Hari ulang tahunnya selama ini dengan semarak dirayakan sebagai hari libur nasional di Indonesia sejak akhir 1960-an. Namun beberapa kritik mempertanyakan beberapa kompetisi yang menampilkan perempuan dalam lomba-lomba mirip Kartini atau kontes memasak. Tahun ini, mari kita mengenang nilai-nilai hakiki dan luhur yang dia dukung – kesetaraan gender dan kesetaraan akses pendidikan. Ini saatnya untuk melanjutkan transformasi yang ia perjuangkan, daripada hanya sekadar merayakan keberadaannya sebagai ikon yang hanya di permukaan.

Artikel ini pertama kali muncul di Aquila Style edisi Maret/April 2011.

Leave a Reply
<Modest Style